| Kamis, 24 Januari 2008 | NASIONAL |
Mendulang Devisa di Negeri Orang (1)Menjaring Pembeli lewat Hong Kong Fashion Week
Hong Kong Fashion Week, sebuah ajang pameran industri di bidang mode, diadakan di distrik Wanchai Hong Kong dari 14 sampai 17 Januari lalu. Wartawati Suara Merdeka, Soesetyowati, menuliskan kesannya selama melihat acara tersebut. RUANG pamer Hong Kong Convention and Exhibition Centre selama empat hari, dari tanggal 14 sampai 17 Januari lalu, semarak dengan produk fashion. Gedung bertingkat tujuh, hampir tiap lantai berisi contoh busana, ada yang dipakaikan pada maneqin (boneka) ataupun tertata rapi dalam gantungan rak dalam sekat-sekat. Meski sepintas terlihat sama, namun masing-masing lantai berisi produk yang berbeda. Di lantai satu misalnya, berisi busana ready to wear, di lantai tiga, selain baju tersedia pula produk aksesori, dari tas hingga payet. Lantai lima dikhususkan untuk produk boutique, baju-baju siap pakai namun hasil karya para perancang dari berbagai negara. Di salah satu sudut terdapat ruang khusus untuk pergelaran busana. Beberapa perancang, termasuk dari Indonesia memanfaatkan acara fashion show sebagai bentuk lain dari promosi. Di lantai paling atas, terpajang produk busana, khusus dari China, berisi aneka jaket, ada yang terbuat dari kulit kambing, sapi, atau dari bulu. Tempat sangat luas dan representatif, gedung bercat putih letaknya menjorok paling ujung di distrik Wanchai, berdiri di atas laut di kepulauan Hong Kong. Semua interior, seperti eskalator dan lobi dibangun dengan standar hotel bintang lima, sehingga meski udara di luar ruang terasa dingin ''menggigit'' tubuh, sekitar 12-17 derajat Celsius, namun tidak mengurangi jumlah pengunjung yang datang. Mereka merasa nyaman, aman dan kerasan berlama-lama berada di ruang pamer. Untuk masuk, setiap pengunjung diwajibkan mendaftar dengan menyerahkan kartu nama untuk kemudian diproses dan diganti dengan kartu pas. Kartu nama tersebut terfile rapi, dan biasanya pada acara serupa pada musim berikut, secara otomatis akan mendapat undangan untuk hadir. Hong Kong Fashion Week, merupakan salah satu kegiatan yang secara rutin menempati gedung tersebut. Dalam satu tahun, acara digelar dua kali, yaitu pada Januari memamerkan koleksi busana musim gugur dan dingin, serta Juli untuk koleksi musim panas dan semi tahun mendatang. Berkumpul Pembeli Event ini dimulai Agustus 1977 di bawah naungan Hong Kong Trade Development Council. Jumlah peserta dari tahun ke tahun menunjukkan angka kenaikan pesat. Ini bukan tanpa alasan. Kepopuleran kegiatan sudah dikenal di seluruh dunia. Orang sering menyamakan, jika Paris, Milan atau Italia sebagai pusat mode dunia. Maka Hong Kong disebut sebagai pusat mode dunia untuk Asia, sehingga jangan heran, pada kegiatan pertengahan Januari lalu, tercatat 1.700 peserta dan 800 dari China lainnya adalah pelaku bisnis bidang mode dari Australia, Prancis, India, Indonesia, Italia, Korea, Filipina, Singapura, Swiss, Taiwan dan Amerika. Banyak di antara peserta adalah nama-nama atau perusahaan yang memang menjadi langganan. Tetapi tidak sedikit pula pelaku baru yang mencoba keberuntungan di ajang tersebut. Begitu pula pembeli atau istilah mereka buyer, datang dari seluruh dunia. Para pembeli biasanya meminta contoh, untuk kemudian dipasarkan di negara masing-masing. Setelah deal baru melakukan kontak bisnis dengan perusahaan atau perancang yang memberikan contoh tadi. Perancang Indonesia Nama-nama dari Indonesia memang tidak sebanyak peserta negara lain, apalagi wakil China yang hampir mendominasi. Tetapi jumlah yang tidak diperhitungkan tersebut, ternyata mampu meraih buyer lumayan banyak. Ali Charisma, Dina Midiani, Florence Liem, Oka Diputra, Dwi Iskandar, Igna Jose Najoan dan Vicky Sutono, harus bersaing ketat dengan merek atau branded dari Hong Kong atau negara lain. Namun tekad mereka, ''datang untuk bersaing dan harus menang''. Ali Charisma, Ketua APPMI (Asosiasi Pengusaha Perancang Mode Indonesia) dari Bali dan Dina Midiani salah satu Pengurus APPMI pusat, dua orang ini paling berpengalaman di ajang tersebut. Ali mengaku, keikutsertaannya kali ini untuk yang kedelapan kali, dan Dina keenam. Tiap tahun wakil dari Indonesia ada saja yang baru, namun tidak sedikit mereka hanya bertahan dua kali atau bahkan sekali untuk kemudian mengundurkan diri. Padahal, seperti kata Ali Charisma, agar nama dan produknya dikenal, peserta pameran haruslah konsisten. ''Ada buyer yang datang tahun lalu, dia terkesan pada model kita waktu itu namun belum sempat order. Pada periode kali ini dia datang lagi dan mencari nama kita, namun ternyata tidak ada. Tentu yang rugi kita sendiri,'' kata perancang yang kali ini mampu menjaring labih dari 25 buyer dari perusahaan dan butik besar luar negeri. Ali dan Dina punya kiat khusus agar produknya laku keras. Menurut mereka, perancang atau pengusaha yang akan menjual produknya harus mempelajari keinginan pasar. Selain mengikuti tren apa yang bakal digemari, juga tahu selera pasar masing-masing negara. Baju yang dijual haruslah bernuansa Internasional. Model baju mengikuti tren, tapi bisa dipakai di seluruh dunia. Model kebaya misalnya, kata Ali, mungkin masih bisa dipakai orang barat, tetapi tentu sentuhan internasional yang ditonjolkan. Masalah harga hal penting yang harus diperhitungkan secara jlimet. ''Untung kita nggak perlu berlipat, kalau jumlah order ribuan, tentu laba yang diperoleh jauh berlipat-lipat,'' kata Ali. Dicontohkan, sebuah gaun sutera warna oranye, dia jual di pameran tidak lebih Rp 700 ribu. Padahal barang serupa dijualnya di departement store Jakarta sekitar Rp 7 juta. Pada pameran lalu dia menjual barang antara 500 ribu rupiah sampai satu juta rupiah. Ada memang baju yang dijual sekitar Rp 2,5 juta. Namun peminat terbanyak pada baju yang dijual di bawah angka Rp 1 juta. Begitu pula Dina, dia menjual baju model lebih simple seperti kemeja antara 16 dan 100 dolar AS. Ali yang memiliki pabrik di Jalan Raya Muding Kerobokan Bali dengan karyawan sekitar 150 orang, mengaku dengan harga jual murah bukan berarti tidak menjaga kualitas. ''Pembeli asing sangat kritis. Tiap lembar baju setelah finishing haruslah digantung,'' kata perancang pengusaha yang pada order bulan Juli tahun lalu mampu menjaring lebih dari tiga miliar rupiah. Tentu jumlah yang sangat fantastik. Model Sampel Ketika ditanya order yang masuk pada pameran kali ini Ali belum bisa memprediksi. Namun pembeli besar yang biasanya memesan lebih dari 1000 pieces baju, jumlahnya meningkat pesat. Mereka membawa sampel baju yang ditawarkan Ali untuk dipasarkan di negara masing-masing. Satu bulan hingga satu bulan setengah, jumlah order baru masuk. Perusahaan Ali yang kali ini masih mengerjakan pesanan Juli tahun lalu memang harus bangga. Pembeli dari Italia, Spanyol, Prancis, Inggris, Amerika, Timur Tengah dan Turki yang menyatakan memesan karyanya. Dengan kegigihan dan perjuangan kerasnya, pundi-pundi dolar sudah di depan mata.(77) | ||||