| Kamis, 24 Januari 2008 | NASIONAL |
Bank-bank Sentral Kehilangan KendaliDAVOS - Para tokoh bisnis Rabu kemarin meminta Amerika Serikat dan bank-bank sentral lain untuk mencegah kemerosotan ekonomi dunia. Mereka berpendapat, para penentu kebijakan telah kehilangan kendali. Para eksekutif dunia itu menyampaikan peringatan mereka menjelang World Economic Forum di Davos, Swiss. Menyusul rontoknya bursa dunia Selasa lalu, bursa Eropa kembali anjlok Rabu kemarin. ''Bank-bank sentral telah kehilangan kendali,'' kata pialang George Soros. Para eksekutif lain mengatakan terkejut atas keputusan Bank Sentral AS menurunkan suku bunga sebesar 75 poin menjadi 3,5 persen pada Selasa lalu untuk meredakan kepanikan. ''Bank Sentral AS kemungkinan akan menyuntikkan banyak dana tunai dalam sistem yang justru akan menempatkan kita pada situasi rawan,'' kata Stephen Roach, Direktur Asia Bank Morgan Stanley. ''Saya cemas atas tindakan bank sentral kemarin. Hal itu adalah bentuk akomodasi moneter yang berlebihan dan akan membawa kita dari kerentanan ke kerentanan lain.'' kata dia. Lebih dari 2.500 tokoh bisnis dan politik berkumpul di Davos. Mereka khawatir dunia akan dihantam krisis keuangan terbesar sejak Perang Dunia II. Penurunan suku bunga AS Selasa lalu, setelah dua hari anjloknya bursa saham, menjadi topik utama pada konferensi tahunan itu. Pertumbuhan Melambat Gejolak ekonomi, krisis perbankan dan kemungkinan resesi membuat Konferensi Davos lebih tegang dibandingkan pada tahun-tahun sebelumnya. Hal itu ditambah pula dengan perbedaan tajam kebijakan Amerika Serikat dan Eropa. Tindakan sepihak The Fed (sebutan untuk Federal Reserve/ Bank Sentral AS) dengan menurunkan suku bunga 75 poin adalah pemangkasan terbesar dalam kurun waktu dua puluh tahun ini. Hal itu bisa berdampak pada perselisihan kebijakan antara Eropa dan Amerika Serikat. Dikhawatirkan pula bahwa anjloknya bursa itu bakal terasa dampaknya di seluruh penjuru dunia. Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice dalam pidato pembukaan menyoroti gagasan ''realisme Amerika'' di dunia. Di Washington, Dana Moneter Internasional menyatakan pertumbuhan ekonomi global pada 2008 bakal melambat. Juru bicara IMF Masood Ahmed mengatakan, pemulihan pasar keuangan dunia akan menjadi tugas yang rumit dan berat. Ahmed membela langkah Bank Sentral AS. Menurut dia, penurunan suku bunga itu adalah langkah yang tepat dan membantu. ''Gejolak bursa selama beberapa hari ini memperlihatkan, pertumbuhan ekonomi global tak terhindarkan lagi bakal melambat'' kata dia. Dia menegaskan, pemerintah Amerika perlu menerapkan tindakan fiskal yang terfokus dan tepat waktu. Kecemasan akan resesi Amerika Serikat membuat langkah penurunan suku bunga tidak efektif meredam gejolak. Bursa saham Eropa pada Rabu kemarin terus anjlok dan hal itu berdampak pula pada melorotnya bursa di Wall Street. ''Pemulihan setelah langkah The Fed itu hanya bersifat sementara,'' kata Niels From, pakar keuangan pada Dresdner Kleinwort di Frankfurt. ''Langkah itu tidak akan menyelesaikan problem perekonomian Amerika dan hal ini membebani sektor perdagangan,'' kata dia. Kalangan investor yakin Bank Sentral harus berbuat lebih banyak lagi untuk mendorong perekonomian Amerika. Setelah sempat naik 1,6 persen, bursa Eropa kembali melorot 1,7 persen, sementara indeks DAX Jerman turun 2,7 persen. Sedangkan, bursa London jatuh 1,5 persen. ''Langkah The Fed menyiratkan bahwa problem dalam sistem itu jauh lebih buruk daripada yang kita perkirakan sebelumnya,'' kata Eugen Weinberg dari Commerzbank di Jerman. Awasi Pasar Sementara itu Bank Indonesia senantiasa mengawasi perkembangan pasar di tengah kondisi pasar modal yang mulai berbalik menguat. Setelah Bank Sentral AS (Federal Reserve) menurunkan suku bunganya 75 basis poin menjadi 3,5%. ''Tentunya, BI tetap siaga penuh, stay in the market. Dalam arti kita selalu berada dalam pasar,'' kata Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah seusai menghadiri peluncuran buku Prof Dr Miranda Swaray Goeltom di Jakarta, Rabu (23/1). Situasi sekarang ini, lanjut dia, menunjukkan perbaikan dengan terjadi penguatan kembali di pasar modal dunia dan makin tenang suasananya. Kalau pun ada penurunan berlangsung pelan. ''Saya kira segala sesuatunya sesuai dengan yang kita harapkan,'' tegasnya. Terpisah Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Budi Mulya menegaskan BI akan terus menjaga rupiah tetap stabil meski terjadi goncangan di pasar saham, yang telah memengaruhi nilai tukar rupiah. Guncangan pasar saham itu terjadi akibat investor asing mereposisi asetnya dan melakukan penyesuaian portofolionya sebagai antisipasi naiknya risiko dari perkembangan pasar global yang tidak menentu. Pasalnya tugas bank sentral mana pun menjaga outlook makronya. ''Kan tugas BI di sini menjaga agar rupiah tetap stabil,'' tegasnya. Tindakan Bank Sentral AS, dengan menurunkan suku bunga The Fed merupakan langkah tepat untuk mengatasi kondisi perekonomian yang berkembang memburuk dengan bergugurannya bursa AS dan dunia, serta kekhawatiran resesi ekonomi AS. ''Apa yang dilakukan The Fed langkah tepat dan momentumnya tepat. Bahkan biasanya (penetapan acuan suku bunga The Fed-red) di pertemuan reguler FOMC (Federal Open Market Committee) ternyata dilakukan lebih awal, karena outlook resesi di AS begitu nyata sehingga dilakukan lebih awal,'' katanya. Penurunan akan berdampak positif terhadap pasar modal global dan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang negara-negara lain. Cegah Resesi Sementara itu, Menteri Perdagangan Mari Elka Pengestu mengatakan ada dua cara untuk mengurangi dampak resesi global terhadap kondisi dalam negeri, yaitu menggunakan instrumen fiskal dan operasi pasar. ''Instrumen fiskal seperti bea masuk yang sudah dilakukan pemerintah seperti PPN, dan tata niaga-tata niaga yang lain untuk mengurangi dampak tersebut. Kedua, berusaha melakukan intervensi terhadap target dari dampak kenaikan harga seperti operasi pasar,'' kata Mari seusai mengikuti rapat terbatas untuk mengantispasi resesi global di Kantor Kepresidenan, Kompleks Istana Negara, Rabu (23/1). Mari mengatakan resesi global akan sangat berpengaruh terhadap ekspor Indonesia. Oleh karenanya kita harus melakukan diversifikasi dari pasar AS ke pasar yang diperhitungkan kurang kena imbas resesi global. ''Bisa kita lakukan diversifikasi pasar dari pasar AS ke pasar terutama di Asia yang kita sebut emerging markets seperti RRT, India, dan Rusia serta Timur Tengah,'' katanya. Menurutnya Presiden sudah memberikan arahan agar semua departemen terkait melakukan koordinasi dan antisipasi ketat di bidang masing-masing, untuk mengantisipasi gejolak ini. ''Salah satu pemicu gejolak adalah fluktuasinya harga minyak. Yang harus kita antisipasi adalah fluktuasi ini bagaimana kita menjaga supaya fluktuasinya mulus dan mengurangi dampak ke dalam negeri,'' tambahnya. Sedangkan Menko Perekonomian Boediono mengatakan salah satu realisasi penjagaan perekonomian Indonesia dari dampak resesi global adalah mengamankan APBN. ''APBN harus kita amankan. Di mana pun APBN adalah jangkar perekonomian. Begitu APBN kacau, maka tidak ada yang bisa kita lakukan,'' kata Boediono. Menurut dia resesi global ibaratnya adalah badai yang tidak bisa dihambat. ''Yang bisa kita lakukan bukan menghambat badai, tapi membuat rumah atau bangunan perekonomian kita yang kokoh agar kuat,'' katanya.(rtr-gn,bn,J10,F4-25,77) |