logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 24 Januari 2008 NASIONAL
Line

Reaksi terhadap Resesi Amerika

  • Oleh Iman Sugema

SENIN lalu, pasar modal di berbagai negara mengalami kerontokan, termasuk Bursa Efek Indonesia. Penyebabnya cuma satu yaitu sentimen negatif terhadap langkah the Fed dan pemerintah Amerika Serikat dalam mengantisipasi terjadinya resesi. Hanya dalam sehari, para pemodal kehilangan uangnya sekitar delapan sampai sepuluh persen.

Ada satu hal yang sangat mengkhawatirkan, yakni cara kita menanganinya. Setelah tim ekonomi mengadakan rapat berjam-jam bersama Gubernur BI dan otoritas pasar modal, ternyata pernyataan Menko Perekonomian masih berkutat seputar isu dan rumusan kebijakan yang begitu ngambang.

Ia hanya menekankan pada antisipasi kemungkinan terjadinya peningkatan inflasi dan seputar masalah kesinambungan fiskal. Sesuatu yang sama sekali tidak dianggap relevan oleh para pelaku pasar saat ini.

Bandingkan dengan otoritas pasar modal di India dan Korea. Secara taktis mereka melakukan suspend untuk secara sementara mencegah kepanikan pelaku pasar secara berlebihan. Dalam situasi panik, memang biasanya pelaku pasar bertindak secara irasional dan hal tersebut bisa memperparah situasi. Dalam kamus istilah ekonomi, keadaan tersebut disebut overshooting.

Dalam situasi yang serba tidak menentu seperti sekarang ini, rumus dan jurus yang konvensional tidak bisa kita pakai sepenuhnya. Sebagai contoh, kebijakan suku bunga tidak bisa dipakai untuk menekan tingkat inflasi dan mencegah terjadinya depresiasi nilai tukar. Gejala over shooting tak bisa dikompensasi oleh kebijakan suku bunga yang dampaknya bersifat slow release.

Jurus Konvensional

Ketika tim ekonomi menunjukan mereka masih akan menggunakan jurus konvensional, maka pelaku pasar akan menghukum para pengambil keputusun. Mekanisme pasar akan mengarah pada apa yang disebut sebagai vote of no confidence. Pelaku pasar tidak percaya mereka akan mendapat payung yang nyaman dari para anggota kabinet.

Itulah yang terjadi dengan otoritas moneter dan fiskal di Amerika Serikat. Pelaku pasar tidak percaya bahwa penurunan suku bunga the Fed akan cukup ampuh dalam menanggulangi resesi di negara tersebut.

Pasalnya, kebijakan pengenduran moneter akan berdampak negatif terhadap ekonomi Amerika Serikat di tengah meningkatnya ancaman inflasi dan depresiasi nilai tukar dolar AS. Daya beli akan melemah dan pada gilirannya permintaan agregat menjadi turun.

Begitu pun yang terjadi dengan otoritas kita.

Masalahnya adalah apakah tim ekonomi di kabinet bisa meyakinkan pelaku pasar secara efektif sehingga mereka menjadi nyaman? Kita punya pengalaman buruk. Agustus 2005 lalu, Menko Perekonomian dan Menteri Keuangan mendatangi pasar modal dan ternyata malah membuat pelaku menjadi lebih pesimistis.

Selain itu, di awal tahun 2008 ini, Presiden SBY menyambangi pasar modal untuk memberi simbol optimisme menyambut tahun baru. Sehari sebelumnya, para menteri dan para birokrat menghembuskan optimisme tahun 2008 akan lebih baik dibanding tahun sebelumnya. Namun apa lacur, pelaku pasar tidak mempercainya. Walhasil, ketika Presiden datang, indeks harga saham malah jatuh terjerembab.

Kredibilitas Kebijakan

Ada dua masalah di sini, yakni kredibilitas kebijakan dan kredibilitas pengambil kebijakan. Jika kebijakannya kredibel tapi pengambil kebijakannya tidak kredibel, pelaku pasar menjadi tidak yakin. Begitu pun kalau pengambil kebijakannya dianggap mumpuni tapi kebijakannya dianggap tidak memenuhi aspirasi pasar, maka pelaku pasar akan menampakan sentimen negatifnya.

Artinya, dua-duanya mesti ada. Kembali ke masalah semula, pelaku pasar sama sekali tidak menginginkan jawaban yang sangat klise mengenai pentingnya menjaga stabilitas ekonomi makro. Mereka menginginkan jawaban yang lebih taktis dan langsung terasa. Mereka butuh jawaban tentang bagaimana kalau harga saham merosot terus dan nilai tukar tidak terkendali.

Sepintar apapun tim ekonomi, kalau jawabannya masih berputar-putar seperti yang terjadi kemarin maka pelaku pasar tidak mau menggubrisnya. Biar pun anjing menggonggong, tapi kafilah tetap berlalu.

Intinya, tim ekonomi sekarang harus lebih banyak menunjukan langkah-langkah taktis ketimbang sekadar tebar pesona.

Adalah sangat tidak cukup meyakinkan kalau pelaku basar dibuai oleh prediksi 2008 kita akan tumbuh dengan baik, inflasi relatif terkendali dan fiskal aman-aman saja. Mereka perlu bukti uang yang mereka investasikan akan aman dan menghasilkan. Sesederhana itu, tidak kurang tidak lebih.

Terakhir, kini saatnya untuk beralih ke jurus nonkonvesional dan bekerja keras. Selamat tinggal tebar pesona.(77)

- Dr Iman Sugema, pengamat International Center for Applied Finance and Economics (Inter CAFE) IPB.


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA