logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 23 Januari 2008 NASIONAL
Line

''Kalau Mengajar dari Hati ke Hati''

KEIKHLASAN yang besar benar-benar ditunjukkan oleh Ketua MPR RI Hidayat Nurwahid, ketika Hj Kastian Indriawati (45), wanita yang sudah 18 tahun mendampinginya dipanggil Allah SWT untuk selama-lamanya, Selasa (22/1) dini hari.

Dia terlihat sangat tegar, termasuk saat menerima ribuan tamu yang melayat ke rumahnya di Kadipaten Lor, Desa Kebondalem Kidul, Prambanan, Klaten, kemarin. Dengan balutan baju koko warna putih, dia menyambut semua tamu. Sesekali bibirnya menyungging senyum.

Tak hanya Hidayat, empat putra-putrinya juga terlihat sangat tabah. Mereka mengaku sangat sedih kehilangan ibu tercinta, tapi tak satu pun yang menangis terisak-isak di hadapan para pelayat.

''Saya harus tegar. Saya anak pertama, jadi harus kasih contoh yang baik untuk adik-adik,'' kata Inayati Dzil Azzati (16), anak pertama. Pelajar kelas 2 SMA Pondok Pesantren Putri Gontor itu membimbing tiga adiknya menemui para pelayat.

Sejak Kamis (17/1) mereka berada di sisi bunda tercinta di RS Jogja International Hospital, hingga sang bunda mengembuskan napas terakhir Selasa (22/1) pukul 01.15. Bahkan mereka tidur di RS selama ibunya dirawat.

''Ibu pesan agar saya merawat kacamata saya, dan minta saya jangan mudah sedih,'' kata Alla' Khoiri (12), anak ketiga, yang rencananya akan dijenguk di Pondok Gontor. Walau tabah, dia terlihat menangis ketika jenazah ibunya akan dimakamkan. Sebelum pergi sang bunda berpesan kepada anak-anaknya agar rajin sekolah, rajin shalat, dan mengaji.

Tak Pernah Mengeluh

Di mata adik almarhumah, Sri Wuri Waluyanti (43), Ny Indriawati yang akrab disapa Mbak Iin adalah sosok yang rajin, suka bekerja keras dan rela berkorban untuk orang lain serta dermawan. Ia mengetahui kakaknya mengalami masalah tiroid sejak kelahiran anak keduanya, Ruzaina.

''Mungkin sakitnya sudah lama tapi tak dirasa. Dia itu orangnya nggak mau nyusahi orang, nggak pernah mengeluh. Tahu-tahu pas pulang (Rabu, 16/1) dia kesemutan terus keluar keringat dingin. Kami bawa ke RSI Kalasan dan dirujuk ke Jogja International Hospital,'' katanya.

Wanita kelahiran Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, 18 November 1962 itu meninggalkan kesan sempurna di mata keluarga besarnya. Ayahnya H Kasihan (75) dan ibunya Hj Sutantinah (70) juga mengaku bangga pada putri ketiganya itu.

Dia juga meninggalkan kesan baik pada murid-muridnya di Islamic Centre Iqro Jakarta, tempat almarhumah mengajar bahasa Arab dan aqidah. ''Dia itu sederhana, lembut, kalau mengajar dari hati ke hati. Saya nggak pernah dikerasi,'' kata Wiwik Sumarni, warga Jati Waringin Jakarta, salah satu muridnya. (Merawati Sunantri-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA