| Rabu, 23 Januari 2008 | NASIONAL |
Tragedi Mobil Terjun dari Menara JamsostekSebelum Tewas, Korban Teriak Minta TolongMobil terjun bebas dari gedung bertingkat bukan kali ini saja terjadi. Sebelum peristiwa tragis yang menewaskan Heryawan alias Ujang setelah mobil yang dikemudikannya jatuh dari lantai 8 Menara Jamsostek, Jakarta Selatan, telah ada serentetan peristiwa serupa. YA, Ujang memang bukan yang pertama menjadi korban gedung parkir bertingkat. Sebelum itu masih ada Honda Jazz B-1792-EV yang jatuh dari lantai 7 ITC Permata Hijau, Jakarta Selatan pada 17 Mei 2007. Trisna Meylan Priyatna (39), pengemudi, bersama Afandi Topan Rusli (41) suami Trisna, serta putra semata wayang mereka, Samuel Kevin (14) tewas. Peristiwa serupa juga terjadi pada 14 Januari 2007, menimpa mobil boks Izusu Panther berlogo Toko Buku Gunung Agung berpelat B-9991-FA yang terjun dari ketinggian 20 meter di parkiran lantai 3 Mal Pangrango, Bogor, Jawa Barat. Dua penumpangnya luka parah. Kemudian pada 11 Desember 2006, sedan Mercedes Benz hitam bernomor D-84-DK yang dikemudikan Robby Firli (15) terjun dari lantai 4 Palembang Indah Mall (PIM) di Jalan Radial, Palembang, Sumatera Selatan. Satu penumpang meninggal dunia, Ronald Siahaan (16) dan tiga lainnya luka ringan. Pada kejadian di Menara Jamsostek, banyak yang menduga, Ujang langsung tewas begitu mobil yang dikendarainya menghantam aspal jalan. Namun menurut keterangan seorang saksi, Abu Bakar, sempat terdengar teriakan ''tolong'' dari Ujang sebanyak tiga kali kepada orang-orang yang datang kali pertama menuju mobilnya. Abu Bakar menuturkan, saat kejadian dirinya berada di lantai 7 atau satu lantai di bawah tempat korban berencana memakirkan mobilnya. ''Tiba-tiba saja ada suara bruk keras sekali. Saya lihat ke bawah ada mobil jatuh, langsung saja saya lari ke bawah. Ada teman saya yang sampai duluan di mobil itu mengatakan, dia (korban-red) sempat mengucapkan tolong, tolong, sekitar tiga kali,'' ujar Abu Bakar yang juga berprofesi sebagai sopir, sama seperti Ujang. Menurutnya, saat di bawah, mobil nahas itu dalam posisi terbalik dengan roda di atas tidak jauh dari mobil lain yang sempat tertimpa mobil Ujang tersebut. Bersama puluhan orang lainnya, dirinya mencoba membalikkan mobil tersebut. Baru pada usaha yang ketiga mobil akhirnya dapat dibalik pada posisi roda di bawah. ''Saat berhasil dibalik dia (korban-red) sudah tidak bernyawa. Mesin telah mati, namun ada asap kecil yang keluar dari bawah mobil.'' Rekan sekantor korban yang juga berprofesi sebagai sopir di PT Asuransi Tokio Marine Indonesia, Aang Gunandar mengatakan, dirinya seakan tidak percaya Ujang telah tewas. Pasalnya, sebelum berangkat mengantarkan bosnya, pagi hari di kantor dirinya semapat bercanda dengan korban. ''Ya seperti biasa saja, pagi-pagi ngopi, ngrokok, baca koran, dan bercanda. Bahkan tadi korannya saya ambil tiba-tiba, dan dia kelihatan kaget,'' ujar Gunandar sambil berurai air mata, di depan mobil yang ringsek. Dia mengetahui kejadian nahas itu dari beberapa temannya dan radio. Menurutnya, Ujang bukan orang yang baru belajar naik mobil karena telah belasan tahun bekerja sebagai sopir. Kepala HRD PT Asuransi Tokio Marine Indonesia Zulchaibar mengatakan, sebelum mengantarkan bosnya ke Menara Jamsostek untuk menemui kliennya, Ujang terlihat dalam kondisi segar. Mobil yang dikendarainya juga dalam keadaan baik. Dia mengetahui kejadian itu ketika salah seorang rekannya membaca salah satu media online. ''Waktu itu kami sedang meeting di kantor. Kemudian teman yang mengetahui kabar itu, mengabari seluruh teman kantor yang lagi meeting,'' tutur Zulchaibar. Dia mengungkapkan, Ujang yang lahir pada 10 Oktober 1964 itu, telah bekerja selama 17 tahun di perusahaan, sehingga seluruh biaya pemakaman dan uang tali asih akan ditanggung perusahaan. Menurut rekan korban, Purwadi, Ujang dikenal supel dan humoris. (Wahyu Wijayanto-62) |