| Rabu, 23 Januari 2008 | NASIONAL |
IHSG Anjlok, RI Waspada
JAKARTA - Babak baru dampak kondisi perekonomian AS yang di ambang resesi, kembali menghantam pasar modal dunia. Bursa saham regional kembali dilanda kepanikan. Aksi jual besar-besaran menghempaskan bursa saham regional ke titik terendahnya sejak awal tahun. Pelemahan di bursa regional ini, mengikuti kemerosotan yang terjadi di bursa Eropa. Bursa saham di London, Paris, Frankfurt, dan Madrid pada perdagangan Senin (21/1) mencatat penurunan terbesar selama sehari sejak peristiwa serangan terorisme 11 September tahun 2001. Indeks Nikkei 225 Jepang kemarin turun 5,7 persen menjadi 12.573,05. Hal itu merupakan penurunan terbesar yang dialami bursa Jepang dalam 10 tahun terakhir. Senin lalu, indeks Nikkei merosot 3,9 persen. Bursa saham Hong Kong dan China lebih parah lagi. Indeks saham Hang Seng Hong Kong anjlok 8,7 persen. Sementara di China, indeks Komposit Shanghai melemah 7,2 persen hingga menjadi 4.559,75 atau berada di poin terendah. Australia juga tidak luput dari dampak resesi Amerika. Indeks saham utama Australia merosot 7,1 persen. Kemerosotan itu merupakan yang paling tajam dalam 20 tahun terakhir di bursa Australia. Menteri Keuangan India P Chidambaram mengimbau para investor untuk tetap tenang. Imbauan itu disampaikan setelah perdagangan saham di Mumbai dihentikan selama satu jam, lantaran terjadi kemerosotan 10 persen hanya dalam beberapa menit setelah bursa saham dimulai. Eropa Terguncang Bursa-bursa Eropa juga terguncang. Pada pembukaan perdagangan, FTSE 100 Inggris turun satu persen, DAX Jerman melemah 2,9 persen, sementara CAC 40 Prancis merosot 1,1 persen. Investor terus melepaskan saham-saham mereka selama dua hari terakhir lantaran mencemaskan resesi Amerika. Banyak pihak meragukan kemampuan Pemerintah AS untuk mengatasi resesi. Federal Reserve (Bank Sentral AS) mengisyaratkan akan menurunkan suku bunga lagi. Presiden George W Bush mengusulkan paket kebijakan untuk merangsang pertumbuhan ekonomi. Namun para investor tetap tidak yakin kebijakan itu dapat dengan cepat memperbaiki perekonomian Amerika Serikat. Bahkan investor merasa kecewa dengan paket kebijakan senilai 145 miliar dolar AS yang diumumkan Presiden AS George Walker Bush. Kebijakan itu dinilai tak cukup untuk menyembuhkan ''luka'' akibat krisis subprime mortgage. "Pasar saham global kini sedang berada dalam rantai penurunan yang tajam," ujar Hiroichi Nishi, pialang dari Nikko Cordial. Koji Takeuchi, ekonom kawakan dari Institut Riset Mizuho, Tokyo juga mengatakan, jika tidak ada gebrakan kejutan yang positif, seperti kebijakan dramatis dari pemerintah AS, saham-saham kemungkinan besar tidak punya harapan untuk pulih kembali. Sementara harga minyak dan emas juga turun. Minyak mentah light turun menjadi 87,72 dolar per barel. Pelaku pasar memperkirakan permintaan minyak menurun selama perekonomian Amerika Serikat melambat. Harga emas juga merosot menjadi 855,20 dolar per troy ounce. Waspada Para investor di bursa saham Indonesia tampaknya juga harus waspada. Aksi jual besar-besaran telah membawa IHSG ke titik terendahnya. Dalam dua hari terakhir, IHSG harus kehilangan hingga 100 poin lebih per hari, karena pelaku pasar melepas saham unggulan yang dipegangnya untuk mencari aman. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada perdagangan Selasa (22/1) ditutup ambles hingga 191,355 poin (7,70 persen) ke level 2.294,524, LQ 45 anjlok 45,687 poin (8,65 persen) ke level 482,739. Perdagangan di seluruh pasar mencatat 75.780 kali transaksi pada volume 5.208 juta lembar saham senilai Rp 7,533 triliun. Sebanyak 14 saham naik, 233 saham turun, dan 25 saham stagnan. Alfatih, analis dari BNI Securities menilai, kebanyakan yang panik bukan investor fundamental, tapi yang melakukan trading harian. "Kebanyakan yang melakukan penjualan, yakni mereka yang melakukan transaksi margin (membeli saham dengan dana pinjaman dari sekuritas). Kalau tidak segera keluar, mereka akan mengalami kerugian lebih besar dan utang lebih banyak," imbuhnya. Kejatuhan pasar saham hingga mencatat penurunan terburuk dalam sejarah ini, membuat pemerintah, BEI dan Bapepam harus waspada. Namun pemerintah tidak mengambil langkah menutup perdagangan saham di bursa. ''Kami waspada saja. Kami tidak skors bursa sama sekali karena di Indonesia proses pasar berjalan baik,'' kata Menko Perekonomian Boediono didampingi Gubernur Bank Indonesia Burhanuddin Abdullah seusai rapat membahas situasi pasar modal bersama Menkeu Sri Mulyani Indrawati dan Kepala Bapepam/LK Fuad Rahmany di Jakarta, Selasa (22/1). Rapat juga dihadiri Meneg BUMN Sofyan Djalil. Menurut dia, kendati bursa saham di Mumbai India dan Korea diskors, Indonesia tidak mengikuti langkah itu. Pasalnya pasar akan rebound karena adanya pelaku yang masuk kembali dan membeli saham dengan harga murah. Untuk itu, lanjut dia, pemerintah saat ini mencermati kondisi pasar modal bersama-sama dengan Bank Indonesia. Dari waktu ke waktu, perubahan pasar modal dicermati. Gubernur BI Burhanuddin menyatakan, pihaknya melihat secara umum kondisi pasar modal. Di Indonesia, meski sempat anjlok 7,7 persen, bursa saham kembali rebound. Kondisi ini, manurut dia, masih lebih baik dari Hong Kong dan hampir sama dengan Shenzen. Dalam kondisi yang sangat berubah ini, Burhanuddin optimistis pasar finansial Indonesia masih tetap terjaga karena pasar SUN dan SBI masih stabil. Ketua Bapepam LK Fuad Rahmany menyatakan, biarlah pasar berjalan apa adanya. Yang penting fundamental ekonomi dan usaha baik. Presdir BEI Erry Firmansyah mengatakan, turunnya indeks di pasar Selasa (22/1) tidak hanya terjadi di Indonesia. Semua kena dan semua terjadi koreksi yang sangat dalam. '' BEI tidak melakukan suspensi karena perdagangan hari ini (kemarin-Red) berjalan sesuai mekanisme pasar dengan masih adanya jual beli,'' tegasnya. Diakui, BEI memang mempunyai Standard Operating Procedure (SOP) untuk membekukan perdagangan jika indeks turun pada kisaran tertentu. Namun SOP itu belum tentu dipakai karena BEI harus melaporkannya kepada otoritas pasar modal (Bapepam), dan harus ada pembahasan dengan Menkeu. Erry menyatakan, tidak bisa memberitahukan ke umum berapa kisaran atau level penurunan indeks hingga harus dibekukan. Dalam hal ini hanya otoritas pasar modal yang mengetahuinya. ''Kalau umum tahu kisaran itu, dikhawatirkan akan menjadi ajang spekulasi yang dapat memperburuk kondisi bursa.'' Penurunan indeks hari ini (Selasa, 22/1) juga diperburuk visi investor domestik yang berorientasi jangka pendek, dan menggunakan transaksi margin. Sementara itu, para pelaku pasar menyambut baik pembatalan rencana pembekuan BEI. Langkah itu akan meminimalisasi persepsi negatif. ''Saya setuju bursa efek tidak dibekukan. Sebab itu membuat persepsi buruk bagi investor luar negeri dan domestik,'' kata Direktur Utama Mandiri Manajemen Investasi Abiprayadi Riyanto. Namun, pengamat ekonomi Standard Chartered Fauzi Ichsan menilai, opsi pembekuan perdagangan merupakan langkah baik. Sebab tekanan terhadap rupiah juga ikut berkurang. Selain itu, IHSG tidak akan anjlok terlalu dalam. (bn,J10,dtc,rtr-33,ben) |