logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 17 Januari 2008 NASIONAL
Line

Tata Ruang Jateng Perlu Dikaji Ulang

  • DAS Kritis Mengkhawatirkan

SEMARANG - Dokumen tata ruang wilayah dan kawasan lindung di wilayah Jawa Tengah, menurut Kepala Badan Pengelolaan dan Pengendalian Dampak Lingkungan (Bappedal) Jateng Ir Djoko Sutrisno, belum efektif betul dalam mengendalikan alih fungsi lahan. Dia memperkirakan banjir dan longsor di wilayah provinsi ini masih akan terjadi di masa mendatang kalau penanganannya masih normatif.

Kondisi wilayah Jateng, terutama di daerah hulu daerah aliran sungai (DAS), diakui Djoko, banyak yang beralih fungsi, sehingga menjadi lahan kritis dan terjadi kerusakan luar biasa. Sebagai contoh, lahan kritis pada DAS Bengawan Solo saat ini telah mencapai 134.000 hektare (ha), sementara lahan kritis di DAS Jratunseluna 186.450 ha.

Terpisah, Kepala Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan) Jateng Aris Budiono mengatakan, luas lahan pertanian yang terendam banjir hingga 10 Januari 2008 mencapai 56.012 ha. Dari jumlah itu, lahan padi yang puso sebanyak 30.785 ha.

''Banyaknya lahan kritis, tidak adanya bangunan penampung air di daerah hulu, pendangkalan aliran sungai, dan sejumlah faktor lain menjadi faktor utama penyebab banjir,'' kata Djoko, Rabu (16/1).

Dia juga mengakui, faktor lain yang menyebabkan bencana di Jateng yakni curah hujan yang tinggi di awal musim. Hal itu mengakibatkan tanah dan tanaman tak bisa menahan air. Tanah di daerah hulu yang banyak diolah manusia, menjadikan humus tak bisa lagi menyerap air. Akibatnya air hujan langsung mengalir tanpa hambatan dan menyebabkan banjir.

Penampung Air

Anggota Komisi D DPRD Jateng Sri Rahayu Amin Sudibyo mendesak pemerintah segera merevisi tata ruang, terkait penyusunan kawasan rawan bencana dan lindung. ''Saya kira perlu diadakan perubahan tata ruang Jateng. Yang ada saat ini kemungkinan sudah tidak pas lagi,'' kata dia.

Djoko juga menyoroti minimnya bangunan penampung air pada dua DAS. Untuk DAS Bengawan Solo hanya ada Waduk Gajah Mungkur. Waduk itu hanya mampu menampung aliran dari lima anak sungai. Padahal total anak sungai pada Bengawan Solo mencapai 15 buah. Sementara Jratunsaluna, hanya ada Waduk Kedungombo yang kemampuannya besar. ''Minimnya bangunan penampung air juga menjadi penyebab terjadinya banjir di Kudus, Pati, Grobongan, dan Blora,'' ujar Djoko.(H7,H37-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA