logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 16 Januari 2008 NASIONAL
Line

Buta Aksara Didominasi Perempuan

SEMARANG- Dalam bidang pendidikan, jumlah buta aksara di Provinsi Jateng untuk penduduk usia 5 tahun ke atas sebanyak 2.985.005 orang. Di antaranya usia produktif (15-44 tahun) berjumlah 598.018 orang, dan 69,8 persen adalah perempuan.

"Jumlah perempuan buta aksara dua kali lebih banyak dari laki-laki. Kondisi ini terjadi hampir di seluruh kabupaten/kota se-Jateng," ujar Kepala Biro Pemberdayaan Perempuan Setda Provinsi Jateng, Dra Sri Mulyanah Rch, ketika membuka Rapat Kerja I Badan Kerja Sama Organisasi Wanita (BKOW) Jateng 2008, Selasa (15/1), di Gedung Wanita Lt 2 Jl Sriwijaya.

Masalah perempuan dan kesenjangan jender hingga saat ini masih terjadi hampir di semua bidang pembangunan. Karena faktanya, kualitas hidup perempuan masih rendah. Selain itu, praktik diskriminasi terhadap perempuan masih banyak dijumpai.

Dalam konteks sosial, kesenjangan ini mencerminkan masih terbatasnya akses sebagian besar perempuan terhadap layanan kesehatan yang baik, pendidikan yang lebih tinggi dan keterlibatan dalam kegiatan publik yang lebih luas.

Lebih lanjut Mulyanah mengatakan, rendahnya kualitas hidup perempuan berpengaruh terhadap hasil perhitungan indeks pembangunan manusia (IPM) atau human development index (HDI) Jateng.

Untuk melihat kemajuan perempuan, bisa melalui indeks pembangunan gender (GDI). GDI Jateng 2005 sebesar 60,8 atau berada di peringkat 13, di mana terdiri atas angka harapan hidup, melek huruf, rata-rata lama sekolah, dan angkatan kerja. "Selain GDI, kemajuan perempuan bisa juga dilihat dari indeks pemberdayaan gender (gender empowerment measurement/GEM)," ujarnya.

Angka GEM Jateng pada 2005 berada pada peringkat 15 sebesar 56,9%, terdiri atas perempuan di parlemen (10,4); perempuan pekerja profesional, teknisi, kepemimpinan, ketatalaksanaan (50,1); perempuan dalam angkatan kerja (38,6); dan upah nonpertanian (laki-laki : 609,8 dan perempuan : 369,6)

Di bidang kesehatan, angka kematian ibu pada 2006 masih berjumlah 101,36/100.000 kelahiran hidup. Masih banyaknya perempuan penderita anemia, rendahnya pengetahuan tentang hak dan kesehatan reproduksi, serta 33 persen penderita HIV/AIDS adalah ibu rumah tangga, merupakan tanda kesenjangan jender.

Sementara itu, Ketua Umum BKOW Jateng Hj Maryam Achmad mengatakan, raker bertujuan untuk mendiskusikan langkah strategis di tahun 2008 sebagai upaya peningkatan kualitas hidup perempuan dan mewujudkan kesetaraan dan keadilan jender.

Ia menyebutkan, selain ikut berperan aktif dalam pemberantasan buta aksara, BKOW juga mensosialisasikan kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak.(J8-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA