| Rabu, 16 Januari 2008 | NASIONAL |
Berawal dari Kirim SMS ke RumahLOKASI di sekitar SMP Negeri 1 Pageruyung, Kendal, selama ini diperkirakan rawan ''sasaran'' petir. Itu lantaran kompleks sekolah terletak di tengah hamparan persawahan. Bangunan yang berada paling dekat dengan SMP Negeri 1 Pageruyung adalah SMKN 5 Pageruyung yang saat ini masih dalam proses pembangunan. Jarak antara dua sekolah itu sekitar 100 meter. Adapun di sebelah utara SMP Negeri 1 Pageruyung -bangunan paling dekat adalah sebuah hotel dan Mapolsek Pageruyung. Jarak antara ketiga bangunan itu sekitar 500 meter. ''Kami mensinyalir daerah di sekitar sini, rawan sambaran petir,'' ungkap Kapolres Kendal AKBP Tjahyono Prawoto SH MM melalui Kapolsek Pageruyung AKP Suharto. Perkiraan itu didasarkan karena adanya keterkaitan peristiwa. ''Di sekitar mapolsek, sedikitnya ada dua pohon kelapa serta satu pohon cengkih mati akibat disambar petir. Kilatan petir juga telah menyambar tower antena telekomunikasi polsek, sehingga menyebabkan satu televisi, satu pesawat dua meteran model right dan dua handy talky rusak.'' Suharto menambahkan, sebelumnya sambaran petir hanya sebatas menimbulkan kerugian materi. ''Karena petir telah menimbulkan korban jiwa, maka kami mengimbau kepada masyarakat untuk selalu waspada terhadap ancaman petir, terutama pada musim hujan. Hindari berteduh di bawah pohon, sebaiknya berteduh di rumah atau bangunan permanen.'' Histeris Hingga semalam Selasa (15/1), warung milik Sarmi (60), tempat delapan orang tersambar petir, masih dikunjungi warga. Kondisi warung semi permanen yang di-dirikan dari bambu dan beratapkan plastik itu porak-poranda. Bagian meja berbahan tatanan bambu juga roboh. Lokasi warung yang juga menjual bensin eceran itu berada persis di sisi timur jalur Weleri-Sukorejo (sebelah barat jalan adalah kompleks SMP Negeri 1 Pageruyung). Sementara itu, suasana duka me-nyelimuti rumah pasangan suami-istri Supriyadi (52) dan Su-hesti (48) di kompleks perumahan dinas PTPN IX Sukomangli RT 6 RW 1 Kecamatan Patean. Suhesti, ibu kandung Diana Suprianingrum (16) berteriak histeris dan beberapa kali pingsan ketika jenazah anak bungsunya tiba di rumah. Puluhan tetangga datang silih berganti datang memberi ungkapan berbela sungkawa kepada keluarga Supriyadi, karyawan PTPN IX Su-komangli. Warga datang bergantian, karena mereka juga harus menyampaikan ungkapan serupa ke rumah orang tua Vinda Ari Hardina (16), korban tewas lain dalam musibah tersambar petir. Rumah Vinda berada di RT 2 RW 1, berdekatan dengan rumah Diana, lantaran sa-ma-sama berada di kompleks PTPN IX Sukomangli. Dirawat Adapun dari lima korban, tiga di antaranya masih dirawat di rumah sakit di Parakan. Mereka adalah Eka Yunita yang dirawat di RS PKU Muhammadiyah, Kalisat Parakan, serta Aris Dwi S dan Vera Novitasari yang dirawat di RSK Ngesti Waluyo Parakan. Eka Yunita, yang semalam di-tunggui oleh ayah dan neneknya, belum sadarkan diri dan keadaannya masih kritis. Menurut dokter Jauhari yang menanganinya, Eka masih tampak gelisah dan seperti orang mengigau. Hal itu akibat psikisnya yang masih shock dan trauma atas kejadian itu. ''Sedangkan di lingkar leher dan dadanya, terdapat luka gosong, ka-rena petir yang menyambar itu me-ngenai kalung yang dipakainya. Na-mun sebetulnya itu luka ringan, yang berat justru mengembalikan kondisi psikisnya,'' kata dia. Sementara Aris dan Vera, meski masih kelihatan lemas dan harus terus diinfus, keadaanya telah membaik. Hanya saja mereka menge-luhkan badan dan kakinya yang ma-sih kaku serta terasa sakit apabila digunakkan untuk bergerak. ''Kalau kepala sudah lumayan, tidak berat lagi, seperti ketika mulai sadar dari pingsan tadi,'' kata Aris. Dia menuturkan, seperti biasanya, setiap pulang sekolah, dia dan teman-temannya mampir di warung untuk jajan sembari menunggu angkutan. Kebetulan pula, kemarin hujan deras, sehingga mereka menunggu di warung tersebut agak lama. Karena tak kunjung reda, Diana dan Finda berinisiatif mengirimkan pesan singkat (SMS) kepada orang tua mereka, agar segera menjemputnya. Namun saat mereka asyik memencet-mencet tombol di ponselnya, petir menyambar dan seketika itu pula keduanya pingsan. (Setyo Sri Mardiko,Henry Sofyan-46) |