logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 16 Januari 2008 NASIONAL
Line

Cendana Cek Giri Bangun

KARANGANYAR- Persiapan jika sewaktu-waktu Pak Harto dipanggil Tuhan Yang Maha Esa terus dilakukan di Astana Giri Bangun, kompleks pemakaman keluarga yang rencananya akan digunakan untuk menyemayamkan mantan orang nomor satu di Indonesia itu.

Kemarin sekitar pukul 11.00, utusan dari Keluarga Cendana mengecek kompleks tersebut. Mereka yang hadir adalah Kol Inf Sudirman, Nusawa, dan Yongki. Didam-pingi beberapa perwira TNI dan juga Dandim Karang-anyar Letkol Achmad mustain, rombongan langsung masuk ke ruang uta-ma, Cungkup Argosari.

Sekitar satu jam kemudian, Bupati Rina Iriani menyusul datang bersama rombongan Pemkab. Mereka berada di dalam sekitar satu jam untuk mengecek segala sesuatu yang terkait dengan kemungkinan berbagai keperluan yang dibutuhkan dalam prosesi pemakam-an. Namun

demikian saat keluar kompleks pemakaman dan dicegat warta-wan, Rina membantah pembica-raan itu soal rencana mengantisipasi wafatnya Pak Harto. ''Tidak ada antisipasi-antisipasi se-perti itu. Wong Bapak malah tambah baik, kok. Tadi itu bicara soal kemungkinan banyaknya rombongan peziarah karena Suro. Padahal lokasi di depan baru longsor, jadi harus diperbaiki,'' kata dia.

Saat Bupati dirubung warta-wan itulah, rombongan dari Cendana keluar dengan mengambil jalan lain melalui pintu belakang pemakaman. Beberapa wartawan yang mencoba mencegat, tidak memperoleh informasi apapun. Bahkan ditanya maksud kedatangannya ke Astana Giri Bangun, mereka tidak bersedia menjawab. Kol Sudirman dan rombongan langsung masuk ke mobil VW Caravel B 868 S dan langsung me-ninggalkan lokasi. Bupati Rina dan rombongan menyusul di bela-kangnya dan menuju ke arah Ta-wangmangu, setelah melewati perempatan Karangpandan.

Suara Merdeka yang menguntit di belakang rombongan, ternyata mendapati rombongan mengecek jalur ke luar lokasi pemakaman. Sesuai rencana, jalur alternatif bila jalan menuju Astana Giri Bangun dari arah matesih dinilai masih rawan longsor, maka rombongan jenazah, keluarga maupun Presiden akan dilewatkan Girilayu atau Plumbon.

Salah satu pejabat Pemkab Karanganyar yang ikut di dalam pertemuan itu membenarkan hal itu. Utusan Cendana itu memang datang untuk mengecek persiapan yang dilakukan Pemkab. Beberapa alternatif rute dan persiapan di dalam kompleks pemakamakan diteliti.

''Saat membicarakan jalur dari Matesih ke Astana Giri Bangun yang longsor, Pemkab diminta melebarkan lagi jalan di lokasi longsoran. Meski sudah diperbaiki dan dilebarkan, dirasa masih kurang lebar. Karena itu jika memungkinkan, bukitnya dike-pras lagi.''

Tutup

Sementara itu Astana Giri Bangun tetap ditutup untuk umum. Penjagaan ketat terus dilakukan secara bergantian oleh aparat Polwil maupun Korem Surakarta, dibantu aparat Polres dan Kodim Karanganyar. Mereka menjaga pintu gerbang utama di depan.

Sementara itu, pengamanan di Ndalem Kalitan atau kediaman pribadi mantan Presiden Soeharto, Selasa (15/1) mulai mengendur. Beberapa polwan yang biasa-nya berjaga di pos satpam, tidak terlihat lagi.

Hanya terlihat dua anggota polisi lalu lintas Poltabes Surakarta berseragam dan beberapa anggota TNI. Ndalem Kalitan yang beberapa hari lalu selalu dijaga empat orang, tinggal seorang. Menurut Totok, salah seorang satpam Nda-lem Kalitan, anggota Poltabes yang biasa berjaga di tempat itu, utamanya polwan, sejak pukul 10.00 pagi ditarik.

Dia menambahkan, status Nda-lem Kalitan hingga kemarin juga masih tertutup untuk umum.

Batal Cabut

Tim dokter kepresidenan membatalkan rencana mencabut mesin bantu pernapasan, menyusul me-nurunnya kondisi kesehatan Soeharto.

"Tadinya ada rencana untuk melepas ventilator, tetapi karena kondisi (Pak Harto) menurun, jadi kami batalkan," kata Ketua Tim Dokter Mardjo Soebiandono kepada pers di Rumah Sakit Pusat Pertamina.

Hardjo menyatakan secara umum kesehatan Pak Harto menurun. Meski kesadaran masih baik, fungsi jantung dan paru menurun. Soeharto juga masih belum melewati masa kritis.

Bahkan infeksi sistemik yang terjadi di paru dan sejumlah organ lainnya, menurut dia, merupakan ancaman sehingga tim dokter memberikan perawatan intensif.

Setelah ditunggu cukup lama oleh para wartawan, mantan presiden RI BJ Habibie muncul dari da-lam RSPP sekitar pukul 21.30. Ia mengecoh wartawan yang dengan menanti di depan pintu utama RSPP.

Habibie datang bersama sang istri, mantan menteri agama Qu-raish Shihab, promotor musik Adri Soebono, dan beberapa pengawal.

''Kami bermaksud menengok dan berdoa untuk Pak Harto,'' ujar Habibie.

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengatakan, biaya perawatan kesehatan presiden dan mantan presiden menjadi tanggungan pemerintah. Karena itu, jika keluarga Soeharto selama ini membiayai sendiri pengobatan presiden kedua RI tersebut, mereka harus mengajukan reimburse (penggantian) kepada pemerintah. (A20, J10,an,ant, H46-46,48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA