| Rabu, 16 Januari 2008 | NASIONAL |
Soeharto di Mata Sahabat dan "Lawannya''Teringat 10 Tahun Dipenjara Tanpa Persidangan
Di mata para sahabatnya, Soeharto adalah orang yang bisa diajak ''kerja sama''. Mereka selalu mengingat jasa-jasanya. Karena itu wajar bila mereka hadir tidak hanya di saat suka, tapi juga di kala duka. Namun tidak demikian dengan ''lawan-lawannya'', tidak pernah melupakan ''kekejaman'' mantan penguasa Orde Baru itu. MINGGU (13/1), tiga sahabat Soeharto membuktikan bahwa mereka tidak hanya hadir ketika penguasa Orde Baru itu masih berjaya, namun saat sakit. Mantan PM Singapura Lee Kuan Yew datang menjenguk. Sehari ke-mudian giliran mantan PM Ma-laysia Mahathir Mohammad dan Sultan Hassanal Bolkiah bertandang ke RS Pusat Pertamina untuk melihat konsisi mantan orang nomor satu Indonesia yang kini tengah tergolek lemah. Butiran air mata tak urung meleleh di pipi Mahathir. Mantan pemimpin Malaysia yang menjabat hingga 22 tahun itu trenyuh melihat kondisi rekannya yang tergolek lemas tak berdaya. "Saya sedih sekali melihat keadaan Pak Harto begitu serius sekali. Saya bernasib baik dapat bertemu," ujarnya. Mahathir juga memanggil nama Soeharto dan berbicara di telinga kanan presiden kedua Indonesia itu. "Matanya terpejam dan dia cuma menggerakkan kepala," ujarnya menyebut res-pons dari Soeharto. Menurut keponakannya yang ikut mendampingi, Feisal Hashim, Maha-thir juga sempat meremas tangan kanan Soeharto lebih dari lima menit dan membacakan surat Fatihah. Doa juga dipanjatkan Sultan Hasanal Bolkiah yang tiba di RSPP selang lima jam dari kedatangan Mahathir. Dia langsung terbang dari ibu kota Brunei Bandar Seri Bega-wan. Dengan mobil khusus tamu negara, sultan yang saat itu me-makai setelan jas gelap dengan dasi biru muda itu datang dengan mufti (ulama) besar Brunei Darussalam. Dalam kunjungan yang hanya berlangsung sekitar 15 menit itu Sultan berdoa di samping Soeharto. Sebelumnya, sahabat Soeharto itu telah mendapat penjelasan singkat soal kondisi kesehatan dan perawatan selama 11 hari di RSPP. Sehari sebelumnya Mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew juga menjenguk. Politisi senior itu khusus terbang dari Singapura untuk mengunjungi sahabat lamanya yang sedang kritis. Usai menjenguk Soeharto, Menteri Mentor Singapura itu menyayangkan bahwa Soeharto tak mendapat kehormatan se-bagaimana mestinya. "Saya sedih sahabat lama sa-ya, yang bekerja sama dengan saya selama 30 tahun terakhir, tak memperoleh kehormatan sepantasnya," kata Lee kepada media Singapura. Menurut Lee, apa yang telah dilakukan Soeharto layak diakui. Terlepas dari kasus korupsi, Soeharto tetap berjasa kepada Indonesia. Dia telah memberi Indonesia kemajuan dan pembangunan. Juga mendidik masyarakat, membangun jalan, dan infrastruktur. Dia telah berhasil menstabilkan hubungan internasional, bekerja sama di ASEAN dan membuat ASEAN lebih sukses daripada SAARC (South Asian Association for Regional Cooperation) di Asia Selatan. Boleh saja Lee merasa tahu betul konsisi saat itu. Sebab keduanya memang menjadi kepala negara pada periode yang sama. Lee dan Soeharto memang rekan sejawat. Soeharto berkuasa selama 32 tahun (1966-1998), sementara Lee menjadi perdana menteri Singapura pada 1959 hingga 1990. Artinya, ayah PM Lee Hsien Loong itu berkuasa 31 tahun. Dalam menjalankan pemerintahan, lepas dari pro-kontra dan segala kontroversinya, Soeharto berhasil membangun stabilitas politik, ekonomi, dan keamanan di Indonesia. Begitu pula dengan Lee. Dengan tangan dinginnya, setelah memisahkan diri dari Malaysia pada 1965, Singapura tumbuh menjadi salah satu macan Asia. Tentu posisi strategis Singapura sebagai pelabuhan internasional sangat membantu pencapaian tersebut. Ya, sejak dulu persahabatan antara pemimpin negara di negara se-rumpun memang cukup harmonis. Fidel Ramos, Dr Mahathir Mohammad, Sultan Bolkiah, Soeharto, dan Lee Kuan Yew selalu tampak hangat berhubungan. Meski saling bersaing, persahabatan tetap berlangsung hangat. Bersama mereka mebangun ASEAN hingga mulai diperhitungkan negara lain. Pada zaman mereka dahulu, setiap konflik antarnegara di ASEAN bisa dieleminasi sedemikian rupa. Ada rasa sungkan sehingga membuat mereka saling mengalah, tetapi tetap saling menghormat. Konflik perbatasan walaupun ada, tidak terlihat suasana penuh konfrontatif. Mereka tetap bisa bergandeng tangan dan berfoto bersama. Dan persahabatan itu berlanjut hingga kini, saat sebagian dari mereka sudah tidak lagi memegang tampuk kepemimpinan. Selalu Teringat Tidak hanya para sahabat, orang-orang yang menjadi ''lawannya'' juga selalu mengingat-ingat Soeharto. Hanya saja yang diingat mereka seputar kekejamannya saat memerintah. Pupon (73), misalnya. Dia selalu saja teringat masa kelamnya ketika nama mantan Presiden Soeharto muncul. Warga Kampung Beton Kelurahan Sewu Kecamatan Jebres Solo itu tidak bisa melupakan kekejaman penguasa rezim Orde Baru itu. Selama sepuluh tahun dia dipenjara di Rutan Surakarta tanpa pernah melalui persidangan. Di tengah-tengah aksi damai yang dilakukan para korban Orba di Kejari Solo, Selasa (15/1), lelaki kurus berkulit hitam itu bercerita. ''Saat itu pada akhir tahun 1965, saya berada di atas becak. Tiba-tiba ada orang berpakain hitam dan menyerat saya ke mobil serta membawanya ke suatu tempat sebelum akhirnya digeletakan di rutan. Saya dituduh PKI.'' Dia melanjutkan pun ceritanya. ''Di rutan saya terus disiksa. Digebuki, ditendang, diinjak-injak, ditusuk, disayat, dan dipopor bedil. Mereka yang menyiksa itu tidak pernah mau menggubris jeritan sakit. Kalau jeritan makin keras, pukulan makin keras pula.'' Nasib serupa dialami Sudarto (64) dan Wiryo (80), keduanya warga Pasarkliwon serta Wagimin (68) warga Mojosongo dan Sudiarso (71), warga Jagalan. Wiryo yang ditahan selama delapan tahun sejak 1965 itu mengaku hanya diberi makan tiwul segenggam tanpa air setiap hari. Sedang Sudarto yang ditahan selama sepuluh tahun mengaku pernah menelan mata kail atau pancing. ''Begitu sadisnya mereka. Tidak hanya melakukan penyiksaan, nasi yang diberikan pun dicampur pancing atau kail. Ruang tahanan yang hanya untuk sembilan orang digunakan untuk menampung hingga 30 orang. Tidak ada orang yang bisa duduk, semua berdiri,'' ujar Sudarto. Yang dialami Wagimin lebih me-ngerikan lagi. Dia yang dipenjara selama 15 tahun itu juga pernah di-buang ke Pulau Buru. Menurut dia, penyiksaan yang terjadi di Pulau Buru itu jauh lebih mengerikan dibanding di Jawa. ''Sudah dua kali nafas saya berhenti karena disiksa. Tapi saya tidak tahu kenapa masih hidup juga,'' kata dia yang sempat menjadi guru di Karanganyar. Di tengah-tengah demo para mantan tahanan politik (eks tapol) Solo di Kejari itu, ada seorang ibu yang ikut aksi. Dialah Ny Alfatah (50), ibunda Gilang Nugraha Iskandar. Perempuan yang selalu mengenakan kerudung itu juga mengaku selalu ter-ingat anaknya ketika nama Soeharto muncul. Dia mengatakan, anaknya ditemukan mati setelah hilang diculik orang tidak dikenal pada masa reformasi 1998. ''Bagaimana tidak teringat mas,'' ujarnya. Meski kehidupan masa lalunya begitu pedih serta sudah tidak punya lagi masa depan, namun Pupon, Sudarto, Wiryo, Wagiman, Sudiarso, dan mantan eks tapol lainnya masih punya jiwa besar yang tidak ternilai. Demikian juga dengan Ny Alfatah, ibunda Gilang. Dalam kondisi yang sudah kritis seperti sekarang ini, mereka bisa memaafkan Soeharto.(Maratun Nashihah/Pusdok SM, Langgeng Widodo, Sri Hartanto-46) | ||||