| Selasa, 15 Januari 2008 | NASIONAL |
Meredam Keperihan di Pos Ronda
KABAR eksekusi mati terhadap Yanti Iriyanti binti Joko Sukardi pada Sabtu (12/1) lalu seolah menghadirkan teror bagi lingkungan RT 3 RW 7 Kampung Benda, Desa Sukataris, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Cianjur, Jabar. Tak sedikit warga yang sampai mencucurkan air mata karena hati terasa perih kendati tidak tersayat bilah bambu yang tipis gara-gara kabar mengagetkan itu. "Jadi ikut mikirin nasib Yanti. Nggak bisa tidur. Sadis banget," kata salah seorang tetangganya, Ani Nuraeni (29) sambil menggendong anak bungsunya saat disambangi pada Senin (14/1) sore. Lain halnya Maemunah (33). Dia merupakan TKW berpengalaman, dua kali berkerja di Arab Saudi, salah satunya di Jeddah. Dia pun bercerita tentang kebaikan majikannya saat berhasrat ingin pulang ke tanah air. "Badan kamu besar Maemunah. Masih bisa berkerja untuk dua tahun lagi," kata dia menirukan majikannya. "Cukup dulu Tuan. Tangan saya bisa patah kalau terus bekerja. Saya ingin pulang dulu sesuai kontrak dua tahun dan langsung diizinkan," kata Maemunah mengenang. Sejauh ini dirinya memang belum punya niatan untuk balik lagi ke tanah harapan. Begitu mendengar Yanti meninggal secara tragis, nada kalimat ibu tiga anak itu terdengar getir. "Serem. Jadi takut ke sana lagi," katanya. Hubungan Maemunah dengan Yanti terbilang dekat. Di pos ronda dekat rumah, saat berangkat kembali ke Arab Saudi, Yanti sempat menumpahkan air mata. Seperempat jam, air mata itu ditumpahkan kepada Maemunah. Suaranya kerap terdengar lantang oleh tetangganya. Keduanya larut dalam obrolan. Keberangkatan Yanti adalah untuk yang ketiga kalinya. Kondisilah yang membuatnya ingin berangkat. Saat meninggalkan kampungnya, tahun 2006 seperti diingat tetangganya, Yanti meninggalkan anak-anaknya, Sulton yang kini berusia 3,5 tahun, Eneng Widi (5), Gilang (10), Dona (14), dan Tiyan (15). Dengan berurai air mata, Yanti menitipkan anak-anaknya kepada tetangga-tetangganya untuk turut mengasuh, selain kepada kerabatnya. Menurut Maemunah, Yanti memutuskan berangkat demi menstabilkan kehidupan ekonomi keluarganya. Penghasilan suaminya sebagai pedagang asongan dirasa tidak mencukupi. (Setiady Dwi-62) |