| Selasa, 15 Januari 2008 | NASIONAL |
Sang Jenderal Besar Soeharto (4-Habis)Tengara Bintang Jatuh Itu...
TENGARA atau pertanda sangat dekat dengan keyakinan masyarakat Jawa. Mereka yakin setiap peristiwa besar selalu didahului dengan tengara atau pertanda berbeda-beda. Warga sekitar Astana Giri Bangun, kompleks pemakaman keluarga mantan presiden Soeharto di Matesih, Karanganyar pun begitu. Mereka meyakini adanya tengara atau tanda-tanda sendiri, berkaitan dengan peristiwa besar yang akan terjadi di wilayah itu. Mbah Loso, salah seorang warga Girilayu, dusun di sebelah barat Astana Mangadeg dan Astana Giri Bangun, menuturkan, warga meyakini akan ada tengara bintang jatuh dan suara ledakan di atas kompleks pemakaman itu, jika ada peristiwa besar di kompleks itu. ''Kami melihat dan mendengar itu saat Ibu Tien Soeharto meninggal. Ketika itu ada lintang alihan dan jatuh di atas Cungkup Argosari, tempat dimakamkannya Bu Tien. Selain itu, disusul suara ledakan seperti gemuruh beberapa waktu kemudian. Tak beberapa lama, ternyata ada kabar Ibu Tien meninggal,'' kata dia. Karena itu santernya sakit Pak Harto tidak membuat kaget warga sekitar. Terutama di Girilayu, Karangbangun, dan sekitarnya. Masyarakat memiliki perhitungan sendiri berkaitan dengan kritisnya mantan orang nomor satu di Indonesia itu. Mereka juga tetap meyakini akan ada tengara yang sama dengan saat istrinya saat meninggal. Dan itulah yang ditunggu oleh warga sekitar, terutama kaum kasepuhan. Meski santer diberitakan kritis, tapi selama tengara itu belum muncul, diyakini Pak Harto belum akan meninggal. Bintang Jatuh ''Saat ini, kami baru melihat ada tengara bintang jatuh. Tapi tengara lanjutan yaitu suara ledakan di atas Cungkup Argosari, belum terdengar. Jadi kami masih yakin Pak Harto belum akan dipundhut oleh Yang Maha Kuasa. Beliau orang besar, tengara itu pasti akan datang,'' tambah dia. Mbah Slamet, warga Karangbangun pun begitu. Tengara seperti itu juga pernah dilihatnya saat wafatnya Ibu Tien. Bintang jatuh terjadi sekitar dua bulan menjelang wafat. Dan suara ledakan terjadi sekitar dua minggu sebelum kabar meninggalnya Bu Tien tersiar. ''Jadi kalau baru bintang jatuh, yakinlah masih lama Pak Harto dipundhut. Kalau sekarang mas-mas wartawan semua menunggu di sekitar lokasi ini, akan lama. Sebab saatnya belum datang. Kami lebih yakin tengara itu, yang pasti akan bisa disaksikan warga di sini,'' kata dia. Kalimat ''belum saatnya'' juga pernah diungkapkan Bupati Wonogiri, Begug Purnomosidhi, saat Pak Harto kritis Jumat lalu. ''Wis aja padha bingung. Iki isih durung wancine. Mengko yen wis wancine rak ana tengara. (Sekarang tidak usah ribut. Belum waktunya. Kalau datang waktunya akan ada pertanda)'' kata dia. Begug bukan orang lain bagi keluarga Cendana. Istrinya adalah anak almarhum Soemoharmojo, adik kandung ayahanda Bu Tien, KPA Soemoharjomo. Dia sejak kecil juga diasuh dan diangkat anak oleh Soemoharmanto, kakak kandung Soemoharmojo, paman Ibu Tien. Keduanya, ayah mertua dan ayah angkat itu juga dimakamkan di Cungkup Argokembang, di bawah ruang utama Cungkup Argosari. Karena itu dia paham dan dekat dengan kehidupan pribadi keluarga Ibu Tien yang memang lahir dan besar di Jaten, Karanganyar, itu. Apakah tengara yang dimaksud Begug yang selama ini dikenal sangat mendalami budaya jawa, sama dengan tengara yang ditunggu warga sekitar Giri Bangun. Bisa jadi iya. Tutup Total Sementara itu seiring dengan kritisnya Pak Harto, Minggu sore sampai malam, Astana Giri Bangun kembali ditutup untuk umum. Kalau sebelumnya warga yang akan berziarah sempat diperbolehkan masuk hingga Cungkup Argotuwuh atau di sekitar halaman, mulai Senin pagi dilarang sama sekali. Bahkan kini pintu gerbang yang sebelumnya dijaga oleh aparat polisi, mulai kemarin dijaga aparat TNI dari Kodim Karanganyar. Beberapa aparat kepolisian hanya berjaga-jaga di sekitar lokasi. Selain itu terlihat hilir mudik aparat berpakaian preman, bersafari dengan rambut cepak, yang konon, dari Jakarta. Sukirno, Kepala Astana mengatakan penutupan tidak ada kaitannya dengan kritisnya Pak Harto. Namun karena lokasi Giri Bangun akan dilakukan pembenahan dan dibersihkan. Mulai taman, jalan, sekitar kompleks pemakaman, semuanya dibenahi dan dibersihkan. ''Kami hanya akan membersihkan kompleks ini. Tidak ada kaitannya dengan kondisi Pak Harto, juga tidak ada perintah dari bupati, apalagi dari Kalitan atau Cendana. Jadi ini kegiatan biasa, tidak perlu dihubung-hubungkan,'' kata dia. Kenapa harus ada penjagaan dari TNI dan Polri serta petugas CPM? Sukirno tidak bersedia menjawab. "Pokoknya ini hanya kegiatan rutin saja. Sebab mungkin tamu yang datang akan banyak, peziarah yang memanfaatkan bulan Sura,'' kata dia. Namun para wartawan dari berbagai media masih setia berjaga di sekitar kompleks. OB Van milik TVRI yang rencananya akan digunakan sebagai alat siaran TV Pool sudah disiagakan di parkiran A, di sebelah belakang kompleks pemakaman. Sedangkan peralatan siaran dari televisi swasta lainnya sudah dipindahkan dari parkir utama, bahkan parkir B di bawah, ke pinggir jalan di bawah bukit Giri Bangun. Mobil operasional itu ditempatkan di pinggir jalan, dengan cara meratakan badan jalan, dan memotong pohon atau memangkas semak belukar. Wartawan asing juga datang. Antara lain dari sebuah majalah di Belanda, Else Vier, yang mengirimkan korespondennya, Jan Lepelvak. ''Perkembangan berita soal Pak Harto sangat ditunggu di Belanda. Kami terbit setiap Sabtu, dan selalu menyuguhkan perkembangan kondisi Pak Harto. Dia tokoh besar yang sangat dikenal di negeri kami. Jadi warga kami juga senang mengikuti perkembangan beritanya,'' kata dia.(Joko Dwi Hastanto-77) | ||||