| Selasa, 15 Januari 2008 | NASIONAL |
Dijenguk Mahathir, Pak Harto Nangis
JAKARTA- Setelah mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, giliran mantan PM Malaysia Mahathir Mohammad menjenguk mantan presiden Soeharto yang terbaring di RSPP Jakarta, Senin (14/1). Kedatangan Mahathir membuat emosi Pak Harto bergejolak. Kendati tiada kata yang terucap, penguasa Orba itu meneteskan air mata. Mahathir pun tidak mampu menyembunyikan kesedihannya melihat sahabatnya terkulai lemah. Dia ikut meneteskan air mata. "Tadi pas ketemu Mahathir, dia menangis. Ini cerita Mbak Titiek ya. Pak Mahathir juga menangis," tutur Ketua Tim Dokter Kepresidenan Mardjo Soebiandono saat dicegat wartawan di RSPP, Jalan Kyai Maja, Jakarta, Senin (14/1). "Dia tahu keadaan, berarti merespons. Kesadarannya naik," kata Mardjo. Selain Mahathir, Sultan Hassanal Bolkiah dari Brunei Darussalam membawa mufti (ulama) besar negaranya untuk berdoa di samping tempat tidur Pak Harto. "Beliau dapat mendekati tempat tidur Pak Harto. Langsung berdoa di samping Pak Harto. Disertai oleh mufti besar Brunei Darussalam. Jadi beliau khusus membawa mufti besar untuk mengucapkan doa bagi kesehatan Pak Harto," ujar mantan Mensesneg Moerdiono. Sultan yang datang langsung dari Brunei, lanjutnya, mengatakan dia ingin mendengar dari dekat kondisi kesehatan Soeharto."Sultan diberi penjelasan secara singkat mengenai keadaan kesehatan dan tingkat penanganan kesehatan Pak Harto," kata Moerdiono. Namun, Soeharto dalam keadaan tertidur karena dibius tim dokter. "Kendati- pun Mbak Tutut membisikkan di telinga Pak Harto saat ini Sultan Brunei sedang berkunjung," jelasnya. Kondisi Kesehatan Ketua Tim Dokter Mardjo Soebiandono menambahkan sebelumnya tim dokter ketat membatasi kunjungan secara langsung ke ruang perawatan Soeharto. Namun, pada kunjungan rombongan Mahathir itu tim dokter mempersilakan mereka untuk melihat dari dekat kondisi mantan orang nomor satu Orde Baru itu. Pihak keluarga yang menemani Mahathir dan istrinya ke ruang perawatan adalah Siti Hardiyanti Rukmana, Siti Hediati Harijadi, dan Sri Hutami Endang Adiningsih. ''Dalam ruangan tadi ada Mbak Tutut, Mbak Titik, Mbak Mamiek, dan saya sendiri yang dianggap ikut mewakili keluarga,'' lanjut Moerdiono. Dalam jumpa pers, Mardjo mengatakan labilnya kondisi kesehatan Soeharto walaupun sudah di bantu alat kesehatan yang sangat memadai disebabkan, usia telah uzur, sehingga organ-organ tubuhnya susah untuk kembali normal. Keadaan umum Soeharto Senin (14/1), cenderung membaik, dengan tekanan darah 90-110/40-50 mmHg. Sedangkan hasil laboratorium memperlihatkan peningkatan kadar hemoglobin (Hb) setelah adanya tranfusi darah sebanyak 600 cc dalam dua hari berturut-turut. Terkait fungsi otak juga masih cukup baik. Mengenai paru-paru dikemukakan anggota tim dokter kepresidenan yang spesialis paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Hadiarto Mangunnegoro masih terdapat penumpukan cairan, selain adanya infeksi di paru-paru. Infeksi tersebut disebabkan kuman dan jamur yang masuk melalui mulut. Bila infeksi itu mengenai kedua paru Soeharto, kondisinya sangat berbahaya. ''Ya sekarang telah terjadi infeksi, karena kelamaan dirawat. Nanti kalau dua paru kena, itu bisa menjadi berat. Tentu kita tidak berharap itu,'' lanjut Hadiarto. Sedangkan oksigen yang dialirkan melalui ventilator, tinggal 60%. Walaupun, dari angka itu pasokan oksigen cukup, namun kemungkinan kekurangan oksigen masih sangat dimungkinkan. Biaya Cendana Sementara itu, Sejak lengser dari jabatannya sebagai Presiden RI, biaya perawatan untuk kesehatan Soeharto tak lagi dibiayai oleh negara. "Semuanya ditanggung oleh keluarga," kata mantan mensesneg era Orde Baru Moerdiono yang menjadi juru bicara keluarga Cendana ini, usai menerima kunjungan Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah, di RSPP, Jl Kyai Maja, Jakarta Selatan, Senin (14/1). Mensesneg Hatta Rajasa mengakui pemerintah belum mengeluarkan biaya untuk perawatan Pak Harto. "Kalau ditanya berapa biaya (pengobatan) yang dikeluarkan (pemerintah) untuk Soeharto, hingga saat ini belum. Karena mereka (keluarga) belum mengajukan apa-apa (tagihan biaya)," ujar Hatta. Padahal, sesuai aturan Pasal 7c UU 7/1978 tentang Hak Keuangan Administrasi Presiden dan Wapres serta bekas presiden dan bekas wapres, biaya perawatan kesehatan mantan presiden dan keluarganya ditanggung oleh negara. Tidak terkecuali bagi Soeharto dan keluarganya. Tidak ada batasan berapa biaya yang akan ditanggung negara. Namun pelaksanaannya sesuai asas keuangan negara, biaya yang ada dilunasi terlebih dahulu oleh yang bersangkutan untuk kemudian ditagihkan penggantiannya pada Menkeu melalui Setneg. Namun, sejak lengser dari kursi Kepresidenan RI pada 1998, Soeharto dan keluarganya belum pernah mengajukan tagihan biaya kesehatan ke Setneg. Artinya seluruh biaya perawatan sampai kini masih keluar dari kantong keluarga Cendana. "Belum ada catatan di Setneg pengajuan dari Pak Harto dan keluarganya. Tidak ada datanya. Saya cek tidak ada," ungkap Hatta. Mensesneg menegaskan negara tentu tidak akan melepas tanggung jawab dan amanah UU itu. Maka secara proaktif pihaknya akan terus menanyakan adanya biaya-biaya yang belum disampaikan kepada Setneg.(J21,J10-77) |