| Minggu, 13 Januari 2008 | NASIONAL |
Sang Jendral Besar Soeharto (2)Pemuda Berpretasi, Kagumi Jenderal Soedirman
TIM dokter kepresidenan, Jumat (11/1), mengumumkan kegagalan organ tubuh Pak Harto saat penguasa Orba itu mengalami kegawatan. Namun Sabtu (12/1) dipastikan salah satu organ penting Pak Harto, yakni otaknya baik-baik saja. Kondisinya mulai sadar. Saat dibangunkan dari tidurnya, Pak Harto bisa menjawab pertanyaan tim dokter meski hanya lewat anggukan kepala. "Waktu kita bilang, Pak tenang ya, dia mengangguk. Itu menunjukkan tidak ada kelainan di otak," ungkap ahli anastesi tim dokter kepresidenan Christian Johanes di RSPP. Pak Harto memang pernah mengalami stroke, tapi peristiwa yang pernah menimpanya itu tidak berdampak saat ini. Kondisinya kini semakin membaik. Penguasa Orba itu perlahan-lahan sudah mengambilalih pernafasan yang sebelumnya 100% dari ventilator, kini tinggal 30% saja napas Pak Harto bergantung pada mesin itu. "Oksigen yang kita berikan tinggal 30 persen, itu rendah," kata Christian Johanes. Setiap kali menjalani perawatan di rumah sakit dan melihat kondisinya yang kritis, bergantian para pejabat, mantan pejabat, sahabat dan keluarga dekatnya menjenguk di ruang perawatan. Sepertinya semua orang merasa ajal Pak Harto sudah dekat. Tapi setiap kali juga kesehatan mantan pemimpin Orde Baru itu berhasil melewati masa kritis, berkat penanganan serius dari tim dokter. Sampai-sampai berkembang isu yang menyebutkan Pak Harto belum akan meninggal sampai dia mengembalikan pusaka Keraton Surakarta yang dipercayai menjadi penopang kekuasannya selama ini. Selalu Terbaik Desa Kemusuk, Argomulyo, Godean mungkin tak akan pernah seterkenal sekarang, kalau desa kecil di sebelah barat kota Yogyakarta itu tak melahirkan sosok bernama Soeharto. Pasangan Sukirah dan petugas ulu-ulu bernama Kertosudiro sendiri tak pernah menduga anaknya yang lahir pada 8 Juni 1920 itu kelak menjadi presiden kedua RI. Sebagai keluarga petani sederhana, kehidupan ekonomi Soeharto tidaklah berkecukupan. Bahkan karena khawatir dengan masa depan anaknya, Kertosudiro sempat menitipkan Soeharto pada iparnya, Prawiroharjo di Wuryantoro, Wonogiri. Rupanya dia kerasan tinggal di sana. Sebab meski bukan anak kandung, dia diperlakukan sama dengan sembilan anak Prawiroharjo yang lain, salah satunya Sudwikatmono. Namun kegembiraan Soeharto tak berlangsung lama. Ia harus kembali ke Kemusuk karena adanya peraturan sekolah yang mengharuskan mengenakan celana dan sepatu, sementara orang tuanya tak mampu membeli. Dengan berat hati dia pindah sekolah menegah Muhammadiyah di Yogya yang membolehkannya bersekolah memakai kain sarung, tanpa sepatu. Lulus tahun 1939, Soeharto tak juga kunjung mendapat pekerjaan. Karenanya dia pun kembali ke Wuryantoro. Akhirnya dia diterima bekerja di sebuah bank desa (volksbank) sebagai pembantu klerk yang kerjanya tiap hari mengayuh sepeda berkeliling kampung mengenakan pakaian adat jawa menawarkan pinjaman kepada para petani dan pedagang. Selepas bekerja di volksbank, sebagai imbas perang dunia II, seperti pemuda umumnya waktu itu, Soeharto menjadikan dunia kemiliteran sebagai pekerjaan. Ia pun mendaftar ke KNIL (Koninklijk Nederlands-Indisch Leger) dan mulai berlatih di Gombong, pada 1 Juni 1940. Lulus dengan predikat terbaik, ia ditempatkan di Batalyon XII di Rampal, dekat Malang, dan selanjutnya dikirim ke Cisarua, untuk bergabung sebagai pasukan cadangan di markas angkatan darat. Hanya seminggu setelah berdinas di sana, Belanda menyerah kepada pendudukan Jepang. Waswas dan takut ditawan Jepang, Soeharto yang kala itu berpangkat letnan memilih pulang ke Yogya dengan kereta api, setelah sebelumnya menanggalkan seragam di Cimahi. Tapi setiba di stasiun Tugu, Yogya, ia mendengar adanya pengumuman Jepang yang meminta semua bekas tentara masuk kantor dan melapor. Tapi ia bersikeras tidak keluar dari stasiun dan mengubah rencana mengamankan diri ke rumah Amat Sadono di Sleman. Dari Sleman, Soeharto naik bus ke Wonogiri lalu pulang ke Wuryantoro. Karena sulitnya mendapatkan pekerjaan, saat mendengar adanya rekrutmen anggota baru Keibuho, dia memberanikan diri mendaftar, walaupun sempat takut ketahuan sebagai bekas anggota KNIL. Tapi justru bekal pendidikan militernya itulah Soeharto tampil sebagai lulusan terbaik, dan atas saran kepala polisi Jepang ia mendaftarkan diri sebagai anggota Pembela Tanah Air (PETA). Pengalamannya di KNIL ini mengantar Soeharto terpilih sebagai komandan peleton (shodanco), komandan kompi (chudanco), dan kemudian meningkat lagi menjadi pelatih para calon Budancho di markas besar PETA di Solo pada 1944. Soeharto sedang berada di Brebeg untuk melatih pada Budancho ketika Jepang menyerah pada sekutu tanggal 14 Agustus 1945. Tiga hari kemudian ia mendengar Soekarno-Hatta memproklamirkan kemerdekaan RI. Oleh karena berada di tempat yang terpencil, dia tidak tahu apa yang terjadi di Jakarta pada tanggal 17 Agustus 1945 itu. Tiba-tiba saja, sesaat setelah selesai melatih para prajurit Soeharto diperintah untuk membubarkan pasukannya. Semua senjata serta mobil diminta kembali oleh Jepang. Karena kebingungan, Soeharto kembali ke rumah dinasnya di Madiun, sebelum akhirnya memutuskan pulang ke Yogyakarta. Pascakemerdekaan, dia mengumpulkan bekas teman-temannya di PETA untuk membentuk Badan Keamanan Rakyat (BKR), Soeharto terpilih sebagai wakil komandannya. Tanggal 5 Oktober 1945, BKR berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Hanya dua hari setelah terbentuknya TKR, pada 7 Oktober Soeharto dkk berhasil merebut persenjatan dari asrama Jepang di Kotabaru lewat pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran 12 jam di Yogya. Lantaran prestasinya itulah Soeharto diangkat menjadi pimpinan Batalyon X dengan pangkat mayor. Ketika Soedirman secara resmi dilantik menjadi Panglima Besar TKR pada 18 Desember 1945 dengan pangkat jenderal, atas jasanya ia mengangkat Soeharto sebagai komandan resimen III dari Divisi IX dengan pangkat letnan kolonel (letkol). Dari berbagai literatur diketahui bahwa Soedirman adalah sosok pemimpin yang paling dikagumi Soeharto. Salah satu buktinya adalah penolakan Soeharto memenuhi perintah Presiden Soekarno untuk menangkap atasannya, Soedarsono, yang diduga terlibat penculikan Syahrir.(Fauzan Dj-48) | ||||