| Minggu, 13 Januari 2008 | NASIONAL |
Semangat Hidup buat Pak Dar...
DUDUK di atas kursi roda, wajah Prof Drs Darmanto Jatman SU terlihat sumringah. Dia menyambut ucapan selamat dengan senyum merekah. Tangan kirinya tak henti-henti menerima uluran tangan para anggota Senat Undip, kolega, saudara, sahabat, serta para tamu undangan lain. Tangan kiri? Ya, akibat serangan stroke, Juni 2007, sampai kini tangan kanan Pak Dar - sapaan akrab Darmanto Jatman - belum berfungsi secara optimal. Sejatinya, lelaki yang pernah dijuluki penyair kribo itu sudah lelah. Namun, kehangatan suasana yang terbangun dalam acara pengukuhan sebagai guru besar bersama Prof Dr Mudjahirin Thohir MA di Auditorium Undip Pleburan, kemarin, membuat Pak Dar tetap bersemangat. Keceriaan terus menghiasi wajahnya yang terlihat renta. Senyum dan tawa dia tebar kepada orang-orang yang memberikan selamat. Keceriaan membias pula di wajah sang istri, Sri Muryati, serta ketiga anak, menantu, dan Ciprut, cucu tercinta yang bersetia mendampingi. Namun rona wajah Pak Dar tiba-tiba berubah saat mendapat ucapan selamat dari seorang perempuan sepuh berambut keperakan. Perempuan itu memeluk dan Pak Dar membalas sambil berurai air mata. ''Tuhan memberkati. Selamat ya, Mas,'' bisik perempuan itu, sebelum berlalu. Atmosfer keharuan seketika menyelimuti orang-orang yang melihat adegan itu. Siapa perempuan berambut keperakan yang membuat Pak Dar terharu-biru itu? Dia ternyata Drh Soehartini Jatman (61), adik kandung sang guru besar. Dia menyempatkan diri datang dari Yogyakarta untuk memberi selamat sekaligus membangkitkan semangat hidup sang kakak. ''Semoga Tuhan memberi mukjizat agar Mas Dar sembuh dan bisa beraktivitas kembali. Bisa mengajar dan menulis seperti dulu lagi,'' harap Soehartini. Ya, semua berharap momentum pengukuhan guru besar itu bisa menjadi titik balik bagi Pak Dar. Mereka ingin pengarang sajak "Isteri" itu beroleh semangat hidup dan mampu mengatasi deraan stroke. Rektor Undip Prof Dr Susilo Wibowo MSMed SpAnd yakin Pak Dar punya semangat hidup yang besar. Kesehatannya akan pulih kembali dalam waktu dekat. Sebab, tenaga dan pikiran Pak Dar amat dibutuhkan Undip, terutama untuk memajukan Fakultas Psikologi yang dirintisnya. ''Orang seperti Pak Dar langka. Selain menguasai psikologi, dia juga sosiolog, seniman, dan pakar kejawaan. Karena itulah dia amat dibutuhkan,'' kata Susilo Wibowo, seusai acara pengukuhan. Sudah Lama Diakui Undip sudah lama mengakui kepakaran Pak Dar. Senat universitas itu telah mengajukan usulan pengukuhan Pak Dar sebagai guru besar sejak 2005. Namun Presiden Susilo Bambang Yudhoyono baru mengeluarkan surat keputusan pada 27 Juli 2007. Secara informal, usulan pengukuhan Darmanto Jatman sebagai guru besar bahkan telah terlontar jauh-jauh hari. Namun dengan rendah hati, Pak Dar senantiasa menolak. ''Pak Dar orang yang bersahaja. Waktu disinggung soal pengukuhan guru besar, dia selalu bilang, 'Ngene wae wis cukup, ndadak guru besar barang','' papar Susilo Wibowo. Sri Muryati, sang istri, juga mengakui kebersahajaan penulis buku kumpulan sajak Ki Blakasuta Bla-bla itu. Sebelum sakit, sang suami selalu enggan bicara perihal pengusulannya sebagai guru besar. ''Pak Dar tidak begitu berminat. Namun, entah kenapa, dia tidak pernah menjelaskan secara gamblang.'' Di sudut lain, Mudjahirin Thohir didampingi istri dan kedua anaknya terlihat gembira. Guru Besar Antropologi Budaya Fakultas Sastra yang sehari-hari berkesan pendiam itu kerap menyunggingkan senyum saat menerima ucapan selamat dari tamu undangan. Dia gembira karena momentum penting dalam hidupnya itu dihadiri oleh anggota keluarga, kolega, rekan seniman, serta puluhan santri dan kiai dari Kaliwungu, tanah kelahirannya. Terlebih, penulis buku Orang Islam Jawa Pesisir Utara itu mendapat penghormatan dari para seniman. Dia diarak oleh seniman beragam kesenian tradisional saat meninggalkan Auditorium Undip, seusai upacara pengukuhan. Ragam kesenian tradisonal dari pelbagai daerah memang dihadirkan untuk memeriahkan acara pengukuhan Mudjahirin Thohir dan Darmanto Jatman yang dikenal sebagai budayawan. Kehadiran mereka memberikan nuansa beda dari acara serupa yang biasa digelar Undip. Barongan, jaran kepang, rebana, sorengan, marching blek, serta tarian dari Papua membuat acara pengukuhan guru besar yang bertema ''multikulturalisme'' itu menjadi tak begitu sakral. Terlepas dari itu, acara sidang senat terbuka pengukuhan dua guru besar itu berlangsung lancar. Acara dihadiri anggota senat Undip serta ratusan tamu undangan, antara lain Ketua PW NU Jawa Tengah Mohammad Adnan, Guru Besar FIB UGM Prof Dr Bakdi Soemanto, Rektor Unwahas Dr H Noor Achmad, Ketua Kopi Semawis Harjanto Halim, serta tokoh lintas agama yang datang dengan pakaian kebesaran masing-masing. Psikologi Jawa Lantaran kondisinya tak memungkinkan, Darmanto Jatman tak membacakan pidato pengukuhan berjudul ''Ilmu Jiwa Kaum Pribumi''. Dalam naskah yang dibagikan, dia menyatakan bahwa positivisme telah memaksa psikologi berkutat dengan apa yang teramati dan terukur saja. Akibatnya, psikologi yang mengandalkan intuisi, analisis kualitatif, dan pemahaman, seperti psikologi Jawa, pun tersisih. Agar dapat bersanding dan diakui sebagai bagian dari psychologie, wacana jiwa Jawa itu harus dieksplisitkan, disistematisasikan, diuji kesahihannya dengan teori-teori yang telah mapan, serta diuji secara empiris melalui penelitian atau eksperimen lebih dahulu. Padahal, ilmu jiwa Jawa telah membantu orang bertahan dan mengaktualisasikan diri dalam menghadapi gelombang pasang kehidupan. Banyak falsafah dalam pemikiran Jawa tidak diakui sebagai falsafah, tetapi sekadar cara hidup bernama kejawen. Jika menyangkut hubungan dengan Tuhan disebut kebatinan. Dan jika berkait dengan usaha mengatur lingkungan dinamai klenik. Mudjahirin Thohir dengan gaya khas memaparkan ''Kekerasan Sosial di Indonesia: Suatu Pendekatan Sosial Budaya'' di atas podium. Paparan Mudjahirin menarik, karena diikuti oleh ilustrasi audiovisual yang dibiaskan ke dua layar lebar. Dia menuturkan kekerasan di Indonesia sudah berurat dan berakar. Kekerasan dapat ditemukan di balik kemegahan Candi Borobudur yang menjadi simbol mahakarya peradaban. Pada masa kesultanan, penjajahan Belanda, pendudukan Jepang, Orde Lama, Orde Baru, dan era reformasi, budaya kekerasan terus berlanjut, bahkan telah berperan sebagai penguasa Indonesia dari balik layar. Ironisnya, budaya kekerasan juga merambah ke ranah agama. Dari sisi internal, kekerasan bisa lahir dari kecintaan yang terlalu mendalam (fanatisme sempit) sehingga menafikan agama lain. Ia juga bisa muncul dari ketidakpuasan dalam berbagai lapangan kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial, hukum, maupun budaya. ''Keresahan kolektif atas kondisi yang sangat tidak ideal, seperti kerusakan tatanan hukum, kemerebakan pornografi, korupsi, dan sebagainya, disimpulkan sebagai akibat negara, pemerintah, dan masyarakat, tidak menggunakan landasan agama yang dipeluknya.''(53) | ||||