| Minggu, 13 Januari 2008 | NASIONAL |
Astana Giri Bangun Disterilkan
KARANGANYAR- Astana Giribangun, pemakaman keluarga mantan presiden Soeharto, di puncak bukit dengan ketinggian 666,66 meter di atas permukaan air laut sudah disterilkan. Pengamanan di kawasan pun meningkat tajam. Berdasar pengamatan Suara Merdeka sejak pagi sampai sore kemarin, aparat Polwil Surakarta dan Polres Karanganyar serta TNI dari Kodim Karanganyar dan Korem Surakarta disiapkan di setiap sudut. Dua panser pun disiagakan di belakang pemakaman. Beberapa mobil OB van milik stasiun televisi swasta yang disiagakan di ring pertama, di tempat parkir utama, kemarin, sudah dipindah ke luar kompleks. Mobil yang boleh masuk cuma mobil petugas dan pembawa perlengkapan. Ruang utama tempat persemayaman Ibu Tien Soeharto, kedua orang tuanya, serta seorang kakaknya sejak Rabu lalu memang sudah ditutup untuk peziarah umum. Sebelumnya, peziarah masih diperbolehkan masuk dan berdoa di depan makam. Namun sejak menurunnya kesehatan Pak Harto, ruang utama tidak dibuka lagi. Di samping makam ibu Tien itulah sejak lama sudah disiapkan satu lubang untuk mantan Presiden Soeharto, jika memang tiba waktunya dipanggil Tuhan Yang Maha Esa. Makam itu sudah digali, namun kemudian ditutup lagi dengan papan serta dilapisi pemadani tebal. Cek Langsung Sementara itu, Sabtu pagi kemarin, Pangdam IV/Diponegoro Mayjen TNI Agus Suyitno bersama Kapolda Irjen Pol Dody Sumantyawan, serta calon Pangdam Mayjen TNI Darpito datang ke Astana Giri Bangun. Mereka didampingi sejumlah pejabat Polri dan TNI, serta Bupati Karanganyar Rina Iriani dan Bupati Wonogiri Begug Purnomosidi. Saat dicegat wartawan, kedua pejabat tidak serta merta menjawab pertanyaan yang menyangkut antisipasi terkait kritisnya Pak Harto. Dengan diplomatis mereka semua menjawab, persiapan dilakukan karena di tempat itu bakal banyak tamu, karena berkaitan dengan bulan Sura. Hal senada dikemukakan Kapolda maupun Bupati Rina. Mereka mengatakan perlu mengecek langsung kondisi keamanan di kompleks pemakaman tersebut, sebab di bulan Sura ini, banyak tamu yang hadir ke kompleks pemakaman tersebut. Suasana agak berbeda terlihat di Ndalem Kalitan, Penumping, Laweyan, Solo. Sejak Sabtu kemarin pukul 10.00 tertutup untuk umum. Penutupan itu atas perintah Kepala Rumah Tangga Ndalem Kalitan, Sriyanto. Hanya polisi, wartawan dan karyawan yang boleh memasuki area rumah yang dibeli keluarga mantan orang nomor satu di negeri ini dari Gusti Ratu Alit putri PB X, 1969 silam. Namun, wartawan hanya diperbolehkan sampai pendapa saja. Penjagaan ketat dari Poltabes Surakarta juga terjadi di Ndalem Kalitan. Sejumlah angota polisi, termasuk polwan dan petugas berpakaian preman berada di tempat tersebut. Satpam Ndalem Kalitan yang biasanya hanya satu orang, kemarin menjadi empat. Menurut Totok Hartono salah seorang satpam, penutupan kunjungan ke Kalitan dilakukan untuk memudahkan pengawasan. Sebab, jumlah anggota keamanan sangat terbatas. Apalagi, sejak Pak Harto dikabarkan kritis banyak sekali warga dari berbagai daerah datang ke Ndalem Kalitan. "Ini perintah dari Pak Sriyanto selaku Kepala Rumah Tangga di sini," katanya. Atas penutupan tersebut, sejumlah warga yang hendak berkunjung dan melihat kediaman pribadi HM Soeharto balik kanan. (an,H46, H44-53,77) | ||||