| Sabtu, 12 Januari 2008 | NASIONAL |
Warga Datangi Ndalem Kalitan
SOLO - Sejumlah warga di sekitar Ndalem Kalitan, Penumping, Laweyan mendatangi rumah kediaman Mantan Presiden Soeharto, Jumat (11/1) malam. Hal tersebut terkait dengan kondisi kesehatan Pak Harto yang makin kritis. Dari pantauan Suara Merdeka sekitar pukul 19.00, Ndalem Kalitan nyaris tidak ada kegiatan apa pun. Sama sekali tidak nampak kesibukan. Di dalam kompleks Kalitan hanya seorang satpam yang duduk-duduk di meja kerjanya sembari melihat siaran televisi. Setengah jam kemudian, di luar gerbang terlihat satu-dua wartawan yang datang untuk meliput kegiatan di tempat itu. Sejurus kemudian, belasan kuli tinta yang lain menyusul. Suasana tersebut menjadikan arus kendaraan di jalan depan Ndalem Kalitan padat sekali. Apalagi, warga sekitar yang semula diam di rumah keluar dan berada di pinggir jalan. Dari beberapa warga tersebut, terlihat sejumlah warga dari Wonosari, Gunung Kidul. Mereka tidak sengaja datang ke tempat itu, hanya kebetulan berada di rumah saudaranya, di daerah Penumping. Setelah melihat siaran televisi, mereka mampir ke Ndalem Kalitan. "Kami kebetulan berada di rumah saudara, dan setelah melihat Pak Harto kritis, datang kemari untuk menyaksikan langsung kalau-kalau dibawa ke sini," ungkap Sri Handayani, warga. Dia mengaku, Pak Harto adalah sosok yang sangat merakyat. Ada satu hal yang masih melekat di hati rakyat, yakni kehidupan yang tentram dan aman. Selain itu, selama dia memimpin sandang pangan murah. Senada dengan dia, Ismuwardi, juga warga dari Gunung Kidul mengaku sangat prihatin dengan kondisi kesehatan mantan orang nomor satu di negeri ini. Dia berharap agar kesehatan Pak Harto bisa segera pulih. Berkait dengan kasus hukum yang saat ini masih menjadi pro kontra, warga menyatakan kasus tersebut ditutup saja. Sebab, dalam situasi seperti ini bukan kasus tersebut yang menjadi prioritas utama. "Saya rasa tidak perlu kasus itu dilanjutkan, ditutup saja. Harus juga diingat kebaikan selama beliau memimpin," tuturnya. Apa yang dikemukakan Ismuwardi juga dikatakan oleh Sutarno, warga Purworejo yang mampir ke Ndalem Kalitan setelah pulang dari rumah saudaranya malam itu. Di tengah-tengah situasi itu, meluncur sebuah mobil pikap dari luar dengan membawa kursi. Dugaan awal, kursi tersebut sengaja dipersiapkan untuk menyambut kedatangan jenazah Pak Harto. Ketika hal tersebut dikonfirmasi ke Totok Hartono, satpam yang berjaga di Ndalem Kalitan, kursi-kursi tersebut memang berasal dari Kalitan yang akan dibawa ke Ndalem Yosodipuro. Sebab, di tempat itu ada acara peringatan tujuh hari meninggalnya RAy Roekmini Soepardjo, saudara Sriyanto, kepala Rumah Tangga Ndalem Kalitan. "Belum ada instruksi apa pun dari Cendana. Memang di tempat ini kosong karena semua karyawan, termasuk tiga satpam lainnya ke Yosodipuro," katanya. Sementara itu, Kepala Rumah Tangga Astana Giri Bangun, Matesih, Karanganyar, Sukirno (55) semalam menyebutkan, dia bersama seluruh karyawan Astana tetap berjaga-jaga di tempat. Sejak siang tadi diadakan kegiatan bersih-bersih lingkungan Astana, utamanya di lokasi kompleks makam keluarga Pak Harto. Sampai semalam belum ada perintah dari Cendana yang menyangkut persiapan pemakaman. Kalaupun ada perintah yang berkait dengan pemakaman, pihaknya sudah siap menjalankan tugas. Utamanya, menyiapkan liang lahat yang sekarang hanya terisi pasir. "Kalau hanya mengeduk pasir cukup 15 menit selesai. Kami semua tidak pulang, standby di sini (makam)," aku Sukirno. Bandara Siap Di Bandara Adisumarmo, hingga pukul 22.30 belum terlihat persiapan untuk menghadapi kondisi terburuk, jika mantan Presiden RI kedua itu wafat. Kondisi bandara internasional sepi. Namun sejumlah petugas terlihat siaga, termasuk Airport Duty Manager PT Angkasa Pura I Bandara Internasional Adisumarmo Ishak Temaluru. "Kami sudah ada perintah untuk standby terkait kondisi Pak Harto. Tapi untuk saat ini memang belum ada persiapan. Tapi kami sudah siap dan membentuk tim dengan kondisi ini. Jadi sewaktu-waktu ada perintah persiapan, kami siap, " katanya. Untuk kondisi bandara yang sepi, itu disebabkan operasional terminal udara itu memang tutup pukul 19.00. Sehari-hari, bandara beroperasi antara pukul 06.00-19.00. Hasil rapat koordinasi tim, juga sudah direncanakan penutupan bandara dari aktivitas penerbangan komersial pada jam-jam tertentu. Jika ada penerbangan dari Jakarta terkait pemakaman Suharto, satu jam sebelum pesawat tiba, aktivitas bandara akan ditutup untuk penerbangan komersial. "Masalah itu sudah kami sampaikan kepada seluruh maskapai, sehingga bisa diatur jam pemberangkatan dan kedatangan pesawat mereka," tuturnya. Pendaratan pesawat komersial kemungkinan juga dialihkan, jika 30 atau 15 menit sebelum mendarat tiba-tiba ada permintaan khusus untuk pendaratan pesawat tamu VIP. Pendaratan akan dialihkan ke Bandara Ahmad Yani Semarang, atau Bandara Adi Sucipto Yogyakarta. Jika tidak memungkinkan dialihkan, pesawat komersial diperbolehkan mendarat dan akan ditangani secara cepat, sehingga penerbangan darurat yang membawa tamu VIP tidak terganggu. Untuk penempatan pesawat, pihak bandara sudah menyiapkan apron (tempat parkir pesawat) Alfa. Ada tiga apron di bandara, yaitu Alfa, Bravo, dan Charlie. Apron Charlie digunakan untuk penerbangan haji, sehingga tidak bisa diganggu karena sudah ada jadwal pasti. "Kami akan mengatur penggunaan apron Alfa dan Bravo. Sudah kami siapkan tempat parkir khusus di apron Alfa untuk penerbangan darurat ini," tandasnya. Kodim Solo juga siap bila Soeharto mengalami kondisi terburuk. Kodim juga sudah mengantongi dua skenario pemakaman bila Soeharto wafat. Hal itu disampaikan Komandan Kodim (Dandim) Solo Letnan Kolonel Inf Adi Nugroho kepada wartawan seusai melakukan koordinasi dengan pihak Ndalem Kalitan, semalam. Menurut Adi, TNI sudah memiliki dua skenario pemakaman bila Soeharto memang meninggal dunia. Skenario pertama, rute perjalanan rombongan Soeharto setiba di Bandara Adi Sumarmo akan langsung di bawa ke Astana Giri Bangun. Skenario kedua, dari Bandara Adi Sumarmo, akan dibawa terlebih dahulu ke Ndalem Kalitan dan selanjutnya ke Astana Giri Bangun. "Itu pun kalau dikehendaki pihak keluarga," ujar Adi. Sebelumnya Mabes TNI sudah mengeluarkan radiogram mengenai skenario pemakaman bila Soeharto meninggal. Ada dua skenario yang dilakukan untuk membawa jenazah dari Jakarta sampai menuju pemakaman Astana Giri Bangun di Mangadeg, Karanganyar. Dua skenario itu bersandi CB1 dan CB2. CB1 meliputi rute: RSPP-Halim Perdana Kusuma-Adi Sumarmo-Mangadeg. CB2 meliputi rute: RSPP-Cendana-Halim Perdanakusuma-Adi Sumarmo-Mangadeg. (H46,G8,H44,dtc-62) |