| Jumat, 11 Januari 2008 | NASIONAL |
Perbaikan DAS Bengawan Solo Butuh 20 TahunSOLO- Karena rusak parah, perbaikan daerah aliran sungai (DAS) Bengawan Solo sepanjang 600 km dari hulu ke hilir dibutuhkan waktu 15 tahun hingga 20 tahun. Pernyataan tersebut disampaikan Deputi III Bidang Peningkatan Konservasi Sumber Daya Alam dan Pengendalian Kerusakan Lingkungan Kementerian Lingkungan Hidup, Masnellyarti Hilman saat mendampingi Menteri Lingkungan Hidup (LH) Rachmat Witoelar ketika melakukan kunjungan kerja bersama Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto di Solo, Kamis (10/1). ''Memang belum ada studi atau penelitian di Indonesia untuk mengetahui berapa lama perbaikan DAS Bengawan Solo. Namun dari pengalaman di negara-negara lain yang melakukan perbaikan DAS yang punya permasalahan yang sama butuh 15 tahun hingga 20 tahun untuk perbaikan,'' katanya. Dalam kunjungan itu, menteri dan rombongan melakukan penyusuran Bengawan Solo dari jembatan Bacem, Sukoharjo sampai kawasan Jurug, Solo. Mereka juga meninjau infrastruktur drainase di Solo yang rusak akibat diterjang banjir. Seperti pintu air Demangan, Sangkrah, Kecamatan Pasarkliwon serta tanggul, talut, dan parapet di Joyotakan Kecamatan Serengan. Sedimentasi Kendati belum fatal, menurut Rachmat Witoelar, kerusakan DAS Bengawan Solo sudah cukup parah. Kerusakan DAS di sepanjang Bengawan Solo akibat degradasi penggunaan lahan yang tidak disiplin. Dia menyontohkan, lahan-lahan yang sebenarnya bantaran sungai digunakan untuk permukiman dan lahan sabuk hijau yang mestinya ditanamani tanaman keras malah digunakan untuk pertanian dengan tanaman holtikultura. Menurut dia, ada dua akibat dari degradasi itu. Pertama, sungai akan mengalami sedimentasi. Kedua, jika air sungai meluap otomatis akan menggenangi permukiman. Selain dari permukiman, lanjut dia, sedimentasi yang terjadi di Bengawan Solo di sepanjang DAS merupakan bawaan anak sungai yang mengalir ke Bengawan Solo. Sedimentasi itu terjadi di 20 kabupaten/kota di Jateng dan Jatim yang dilewati Bengawan Solo. Namun yang paling parah terjadi di Bojonegoro (Jatim). ''Sedimentasi itu kebanyakan terjadi di hilir anak sungai sehingga menyumbat aliran air dan mengakibatkan banjir,'' katanya. Dalam jangka pendek, Rachmat Witoelar mengusulkan, perlu dilakukan pengerukan untuk mengurangi sedimentasi agar laju air Bengawan Solo dari hulu hingga hilir lancar dan bisa menampung banyak air. Untuk jangka panjang perlu dilakukan konservasi di sepanjang DAS. ''Bantaran sungai dan sabuk hijau itu perlu dikembalikan seperti semula dengan ditanami tanaman keras.'' Djoko Kirmanto mengatakan, di beberapa kabupaten/kota di Jatim dan Jateng yang dilintasi Bengawan Solo akan dibuatkan waduk kecil-kecil. Waduk itu dimaksudkan untuk pengendalian air, sehingga jika volume air Bengawan Solo meningkat drastis, air tidak langsung menggenangi masuk ke perkotaan dan menggenangi permukiman, tapi bisa ditampung dulu di waduk sehingga tidak terjadi banjir. Untuk pembangunan tanggul sepanjang 130 km mulai dari kawasan Babat, Lamongan (Jatim) hingga Cepu (Jateng), lanjut dia, akan dilakukan dalam tiga tahun mulai 2008 hingga 2011. Menurut Djoko, dananya sudah disediakan, yakni pPinjaman dari Pemerintah Jepang.(G8,H44-46) |