| Jumat, 11 Januari 2008 | NASIONAL |
Peringatan 1 Sura di Gunung SrandilKhidmat Tanpa Kehadiran Gus DurRibuan komunitas kejawen yang sejak Kamis (10/1) siang memadati Padepokan Agung Mandalasari di Gunung Srandil, Desa Glempang Pasir, Kecamatan Adipala, Cilacap menyesalkan mantan presiden RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Gus Dur yang sedianya akan hadir dalam acara Peringatan Suran atau Tahun Baru Jawa 1 Sura 1941 bersamaan dengan Tahun Baru Hijriyah 1 Muharam 1429 H ternyata tidak datang. Pemberitahuan dari Gus Dur yang diterima panitia peringatan tahun baru Jawa Paguyuban Cahya Buwana (PCB) menyebutkan, Gus Dur membatalkan hadir di Srandil karena harus mengikuti acara yang tidak bisa ditinggalkan di Jakarta. Acara tersebut dihadiri Sri Hartati, direktur aliran kepercayaan di bawah naungan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Wakil Bupai Cilacap Tato Pamuji beserta Muspida Cilacap. Wartawan Suara Merdeka yang mengikuti acara tersebut sejak awal acara melaporkan, walau tanpa kehadiran Gus Dur, acara tetap berlangsung khidmat dan meriah. Ribuan warga dari berbagai daerah memadati pelataran padepokan di kaki Gunung Srandil tersebut sejak Rabu (9/1) malam. Banyak pengunjung yang menginap di padepokan atau di tempat-tempat lain di kaki Gunung Srandil sambil berdoa sampai tengah malam. Berbagai hiburan digelar antara lain kuda lumping, kenthongan, reog, dan barongan. Pada malam hari diteruskan hiburan berupa kesenian kethoprak bersama bintang tamu Yati Pesek dengan lakon Sinuwun Prabu Brawijaya Mandhito. Puncak Acara Puncak acara Suran berlangsung Jumat (11/1) pagi ini dengan ritual larungan. Yaitu kirab ageng larungan sesaji untuk Yang Mulia Kanjeng Ibu Ratu Kidul Sekaring Jagat. Kemudian diteruskan dengan Pembagian Tolak Bala Sura 1941. Acara Suran juga ditandai dengan "Rawuhan Kaki Semar", yang merasuk pada raga Ketua Umum PCB KRAT Sarwo Dadi Ngudiono. Dalam acara rawuhan selama sekitar 15 menit, Kaki Semar melalui raga Ngudiono bersabda, pada tahun baru Jawa 1941 bakal diwarnai banyak musibah dan bencana alam. Sehingga, seluruh warga diimbau senantiasa eling dan waspada. Tahun ini juga akan ada tokoh nasional yang meninggal dunia. "Sing sapa-sapa nglirwaake dhawuhe Kaki Semar bakal cilaka lan adoh saka karahayoning Gusti (siapa saja yang tidak mengindahkan perintah Kaki Semar bakal celaka dan jauh dari lindungan Tuhan yang Maha Esa)," kata Kaki Semar yang merasuk dalam raga Ngudiono. Usai acara, Ngudiono mewisuda lima orang penghayat yang telah selesai mengikuti pelajaran ilmu kejawen. Ilmu ini, menurut Ngudiono bukan ilmu hapalan, tapi amalan. Ilmu Jawa bukanlah tuku (membeli), tapi laku (perilaku). Ilmu Jawa bukan nesu (amarah), tapi ngguyu (tertawa). Ilmu Jawa itu bukan sumur golek timba (sumur mencari timba), tapi timba golek sumur (timba mencari sumur). Ngudiono didampingi Humas PCB Adi Muljawan Srikuning menambahkan, ciri-ciri ilmu Jawa itu antara lain luwes aning teges (luwes tapi tegas), tepo selira marang pepodo (saling menghargai kepada sesama), nrimo nanging budidoyo sak dermo (menerima tapi tetap berusaha sebisanya), bebodro kang miguno (berbuatlah yang berguna), yen wani aja wedi-wedi yen wedi aja wani-wani (kalau berani jangan takut-takut, kalau takut jangan berani-berani). "Hidup jangan kepalang tanggung, kalau iya ya iya, kalau tidak ya tidak," ujar Ngudiono. Dikatakan, ilmu Jawa itu bukan milik orang Jawa saja, tapi juga lahir dan asli milik bumi nusantara atau Indonesia. Siapa saja boleh menggunakan dan melakukan ilmu Jawa. "Tapi jangan tinggi hati, mentang-mentang orang Jawa memiliki Ilmu yang mempuni," tambahnya. Tahun Ancang-ancang Usai acara wisuda, para sesepuh PCB melayani para warga kejawen yang ingin ngalap berkah. Para sesepuh pun memberikan bunga mawar dan bunga setaman keapada warga kejawen yang ngalap berkah. Ngudiono mengatakan, menurut wangsit dari Kaki Semar pada malam Jumat Kliwon akhir 2007, tahun 2008 ini merupakan tahun ancang-ancang, atau tahun geni kayu (api dan kayu). Semuanya mudah terbakar dan kemebul (berasap). Akan terjadi banyak penipuan, perampokan, kebakaran, panas-panasan, gontok-gontokan, perkelahian, kekerasan, pencurian, bencana alam, wabah penyakit, dan banyak orang bingung. Banyak kejadian yang tidak mengenakan hati. Sandang pangan dan rezeki sulit dicari. "Ini bukan menakut-nakuti. Tapi mengingatkan kita harus tetap hati-hati dan waspada, dengan tetap bertawakal kepada Tuhan," ujar Aji Muljawan Srikuning mengakhiri keterangannya. (Gading Satrio Pinandito-60) |