| Jumat, 11 Januari 2008 | NASIONAL |
Repotnya Mengurus Jamaah Haji IndonesiaTUMPUKAN barang berharga seperti tempat air dari kuningan, jerigen, cered, gunting, lampu, mainan anak, asbak, berbagai jenis pisau, belati hias, dan perhiasan akhirnya tertimbun dan teronggok begitu saja. Hal itu terlihat usai pemeriksaan barang dan kargo jamaah haji asal Kloter 15 tujuan Solo, di pintu 9 pusat pemberangkatan haji jamaah haji Garuda Indonesia di Bandara King Abdul Azis Internasional Jeddah, pekan lalu. Timbunan barang itu terbuang percuma. Barang-barang itu termasuk yang dilarang dibawa. Selain itu mayoritas jamaah haji asal kloter 15 Solo tersebut menganggap membawa barang tersebut hanya akan memberatkan bawaan. Hingga para jamaah berpikir lebih baik dibuang saja. Kejadian pembuangan barang yang semula merupakan oleh-oleh tersebut, bukan hanya milik kloter 15, tapi selalu terjadi setiap kali kloter asal Indonesia akan boarding naik pesawat untuk kembali ke Tanah Air. Akibatnya puluhan petugas cleaning service Bandara King Abdul Azis selalu siap mengangkat dan membersihkan barang-barang yang dibuang tersebut. Masalah lain yang kerap kali timbul dalam pemeriksaan barang bawaan jamah haji Indonesia adalah saat pemeriksaan fisik jamaah haji. Di mana jamaah sering tidak mengindahkan peringatan, misalnya tidak mengeluarkan HP dari dalam kantong baju, menyimpan emas,atau sengaja menyembunyikan sesuatu dibalik baju dengan tujuan barang itu bisa bebas dibawa. Menurut Wisnu, karyawan bagian pemeriksaan bagasi Garuda Indonesia, yang tahun ini mendapat tugas di Jeddah, mengurus jamaah haji Indonesia yang berdasar kuota jumlahnya yang terbesar dibanding negara-negara lain, yakni 200.000-an jamaah. Sebanyak 100.000-an di antaranya menumpang Garuda Indonesia. Ini masih ditambah dengan ONH Plus yang jumlahnya mencapai 13.000-an jamaah. Banyaknya jamaah itu membuat sulit menjaga ketertiban. Bayangkan, kata dia, setiap kloter terdiri ratusan orang, antara 325 hingga 425 penumpang. Faktor lain yang juga membuat repot antara lain usia. Mayoritas jamaah haji Indonesia berusia lanjut. Juga faktor pendidikan dan intelektualitas, pengalaman serta dan etika mengingat sebagian besar jamaah berasal dari pedesaan yang rata-rata baru sekali naik pesawat dan menginjak bandara. Ini masih ditambah dengan beban akibatnya banyaknya belanjaan, karena jamaah haji Indonesia dikenal sangat royal. Harap diketahui, royalnya jamaah haji Indonesia sudah diakui para pedagang di pusat-pusat perbelanjaan oleh-oleh di Makkah, Madinah dan Jeddah. "Akibatnya, ya, kita sebagai petugas mesti sabar. Sebab kalau tidak sabar, malah jadi kacau. Proses pemeriksaan makin lambat dan makin memperlambat keberangkatan pesawat," tutur Wisnu. Pernyataan Wisnu dibenarkan salah seorang staf Sekretaris Korporat Garuda Indonesia, Hotma P Siregar, yang mengakui proses boarding merupakan salah satu bagian yang paling penting dalam pemulangan haji. Mengingat dalam proses ini, dibutuhkan kerja sama dan kedisiplinan dari para jamaah untuk memperlancar dan mempercepat pemeriksaan agar pesawat bisa terbang sesuai jadwal. Persoalannya, kata Hotma, di fase pemeriksaan ini masalah kerap muncul. Karena para jamaah yang sudah melaksanakan ibadah haji tersebut acap kali menjejali kopernya dengan berbagai oleh-oleh yang berlebihan. Dampaknya kerap memunculkan masalah, seperti bagasi kelebihan beban, atau barang yang dibawa terkena larangan. Masalah ini ditambah dengan padatnya frekuensi penerbangan di bandara Jeddah dan Madinah. Di Bandara Jeddah saja, selama musim haji, terdapat 167 pesawat yang terbang setiap hari. Ini belum ditambah dengan pesawat yang baru datang, sehingga bisa dibayangkan padat dan penuhnya bandara Jeddah. "Tentu saja hal ini berpengaruh pada proses ketepatan waktu pemberangkatan," ujar Hotma. Padahal, untuk memudahkan proses pemulangan, sejak 1996, Garuda Indonesia membuat sejumlah program dan packing. Pada tahap pertama, jamaah yang baru datang dari Madinah dan Makkah langsung diistirahatkan di sejumlah hotel transit di Jeddah, bagi jamaah yang akan kembali dari Jeddah, dan langsung dari maktab-maktab bagi jamaah yang akan pulang dari Bandara Prince Mohammed Bin Abdul Azis yang langsung pulang dari Madinah. Di saat jamaah check in di hotel transit tersebut, barang bawaan langsung diangkut ke pos penimbangan dan pengepakan di Madinatul Hujaj Jeddah, sekitar 10 kilometer dari Bandara King Abdul Azis Jeddah. Terlambat Selama 24 jam waktu pemeriksaan, seluruh koper dan bawaan jamaah dirapikan dan ditimbang petugas sebelum dimasukkan langsung ke bagasi. Setelah itu, selama satu malam, jamaah langsung menuju bandara Jeddah atau Madinah, atau 4 jam sebelum pesawat take off. Di bandara, setelah beristirahat, para jamaah pun bersiap untuk boarding, setelah terlebih dulu menjalami pemeriksaan Sinar X dan imigrasi. Namun demikian, meski barang sudah diperiksa di posko khusus, dan jamaah sudah menjalani pemeriksaan sebelum antri ke imigrasi, masalah kerap saja muncul. Akibatnya jamaah terlambat masuk ke pesawat, padahal pesawatnya sudah siap. Menurut Vice Presiden Haji Garuda Indonesia, Hadiy Syahrean, untuk setiap fase pemulangan haji, Garuda Indonesia mengerahkan 98 tenaga khusus yang sengaja diberangkatkan langsung ke Jeddah dan Madinah. Para karyawan tersebut berasal dari berbagai bagian seperti bagian ticketing, bagasi, pemeriksaan, boarding dan jadwal penerbangan, kontrol penerbangan. "Mereka ditugaskan secara bergilir, gantian setiap tahun. Sebagian diambil dari karyawan Garuda Indonesia yang bekerja di cabang-cabang kantor Garuda Indonesia di daerah," katanya. Untuk setiap kali bertugas, karyawan Garuda Indonesia mendapat tugas 40 hari. Setiap harinya, staf yang bertugas dibagi 2 bagian. Bagian pertama bekerja mulai pukul 08.00 pagi hingga 20.00, dan kedua mulai 20.00 hingga 08.00. Untuk kebutuhan penginapan petugas, selama musim haji Garuda Indonesia menyewa sebuah hotel yang sekaligus dijadikan posko pemberangkatan dan pemulangan baik di Jeddah dan Madinah. Demi melancarkan proses pemulangan ini, Garuda Indonesia bekerja sama dengan perusahaan mitra dari Arab Saudi. Untuk urusan pesawat, Garuda Indonesia bekerja sama dengan perusahaan Attar. Sedangkan dalam pengepakan dan penimbangan bagasi, bekerja sama dengan perusahaan kargo setempat Al-Munief. Menurut Sulaeman, staf yang bertugas di bagian pemeriksanaan barang yang ditemui di Madinatul Hujaj, kinerja mitra ini juga sangat berperan dalam melancarkan proses packing. Tahun ini, untuk angkut barang, Al-Munief, lebih banyak mempekerjakan pekerja kuli angkut asal Arab sendiri, sementara tahun-tahun lalu, kuli angkut yang menaikkan koper jamaah ke truk berasal dari Somalia. "Pekerja asal Somalia lebih rajin dan gesit ketimbang buruh Saudi. Kalau yang dari Saudi agak malas, mereka kerap protes," kata Sulaeman.(Budi Nugraha-60) |