logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Januari 2008 NASIONAL
Line

Kualitas Beras Diduga Dimanipulasi

JAKARTA- Pernyataan Kepala Sub Divre II Perum Bulog, Pati, Djatmiko yang menyebut beras bantuan untuk korban bencana banjir layak dan sesuai standar adalah tidak sesuai kenyataan temuan di lapangan.

''Pernyataan itu paradoks dengan fakta,'' ujar Bonang, aktivis LSM Protanikita di Jakarta, Kamis (10/1), sekaligus menanggapi pernyataan Kepala Divre Perum Bulog, Jateng, Harry Syahdan, bahwa bantuan beras untuk korban bencana banjir sesuai standar dan masih layak konsumsi.

Bonang membeberkan temuannya, kualitas beras untuk korban bencana banjir di wilayah Pati bertentangan dengan Inpres 3/2007, Pasal 6 ayat 3, butir patah maksimum 20%.

Temuan itu, lanjut Bonang, sesuai dengan temuan anggota Komisi B DPRD Jateng Fitria Rahmadi dari Fraksi PDI-P yang menyimpulkan kualitas beras menyalahi inpres tersebut. ''Temuan di Rembang juga sama,'' ujarnya.

Bonang mempertanyakan pernyataan Kasub Divre II Bulog Jateng, dan meminta aparat penegak hukum proaktif menyelidiki dugaan manipulasi kualitas beras untuk korban bencana banjir di beberapa daerah tersebut.

Protanikita juga menyesalkan pernyataan Kepala Humas Bulog Divre Jateng Siti Retno Farida, soal rendahnya kualitas beras yang diberikan kepada korban banjir, dengan alasan mereka tidak komplain. ''Sudah pasti mereka tidak bisa komplain,'' ujar Bonang.

Masyarakat korban bencana banjir tidak akan bisa komplain atas kualitas beras bantuan pemerintah yang didistribusikan Bulog. Sebab mereka tidak mengetahui hak-haknya, karena kurangnya informasi dan sosialisasi terhadap hak masyarakat atas kualitas beras sesuai Inpres 3/2007 Pasal 6 ayat 3:3.

Dia menegaskan elemen masyarakat yang mengetahui dan peduli wajib membela dan melindungi hak masyarakat korban bencana banjir dari tindakan oknum yang mencari keuntungan dari penderitaan masyarakat korban bencana banjir.

Dirut Perum Bulog Mustafa Abubakar, mengakui, kualitas beras untuk program raskin (beras untuk keluarga miskin) tahun 2008 kurang baik. Ini terjadi karena Bulog membeli dalam bentuk beras untuk pengadaan dalam negeri.

Bulog membeli beras dalam jumlah besar dan disimpan cukup lama (6 bulan). Karena itu wajar bila kualitas beras menjadi kurang baik. ''Saya minta maaf kepada penerima manfaat raskin, kalau kualitas beras yang diterima kurang baik,'' katanya pada acara peluncuran program raskin tahun 2008 di Kantor Divre Bulog DKI Jakarta, Rabu (9/1).(di-48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA