logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 11 Januari 2008 NASIONAL
Line

Kerugian akibat Bencana Rp 760,8 M

SEMARANG-Kerugian akibat bencana banjir, tanah longsor, dan angin puting beliung yang terjadi sejak 26 Desember 2007 mencapai Rp 760,8 miliar. Pelaksana Harian Kepala Badan Informasi Komunikasi dan Kehumasan (BIKK) Pemprov Jateng, Urip Sihabudin mengatakan, kerugian itu merupakan akumulasi dari 20 daerah yang mengalami bencana alam.

''Dari 20 kabupaten/kota yang mengalami bencana alam, Kabupaten Sragen menanggung kerugian terbesar, yakni mencapai Rp 150 miliar. Kerugian sebanyak itu diakibatkan kerusakan infrastruktur dan sarana lain, seperti jalan, jembatan, bendungan, dan saluran irigasi,'' kata dia di Grhadika Bhakti Praja, Rabu (9/1), seusai pelantikan Sekda Jateng Hadi Prabowo.

Bencana alam juga merusakkan rumah, sekolah, tempat ibadah, sarana umum, serta puluhan ribu hektare sawah terendam banjir dan gagal panen.

Gubernur Jateng Drs Ali Mufiz MPA menyampaikan kerugian akibat bencana masih perlu diverifikasi lagi. Sebagai contoh, rumah yang sekarang dalam kondisi terendam, dalam beberapa hari ke depan kondisinya apakah bertambah parah atau tidak. Sebab, di sejumlah wilayah, banjir sampai saat ini belum surut.

Gubernur mengakui, kerusakan terbesar akibat bencana yakni infrastruktur irigasi, jalan dan jembatan desa, gedung sekolah, kantor desa, dan kantor kecamatan. Pembangunan kembali infrastruktur yang rusak itu akan menggunakan anggaran dari pemda, pemprov, dan pemerintah pusat.

Anggota komisi E DPRD Jateng, Mahmud Mahfudz meminta pemprov menerapkan skala prioritas dalam penanganan bencana. Tidak mungkin menangani secara langsung kerugian akibat bencana, dengan alokasi anggaran bencana di Jateng hanya sekitar Rp 40 miliar.

''Pemprov harus memprioritaskan penanganan hal-hal pokok dan mendesak seperti masalah pengungsi, kekurangan pangan dan sebagainya,'' ujar politikus PKS ini.

Goyah

Menyinggung lahan pertanian yang terendam banjir, Ali Mufiz menyampaikan sawah yang rusak mencapai 36.000 ha. Gubernur menyatakan, belum bisa memastikan tingkat kerusakannya, karena menunggu perkembangan lebih lanjut.

Angka ini jauh lebih sedikit dari laporan Dinas Pertanian Tanaman Pangan (Dispertan) Jateng yang mencapai 56.506,75 ha padi di 19 kabupaten, per 8 Januari.

''Bisa juga yang rusak berupa tanaman padi atau tebu. Kami masih menghitung dengan menunggu air surut, untuk mengetahui sampai berapa jauh tingkat kerusakan sawah-sawah yang ada di Jateng. Saya kira tidak mengancam ketahanan pangan. Tapi jelas memengaruhi program peningkatan beras nasional,'' kata Ali Mufiz.

Sedangkan Bupati Kudus Tamzil yang hadir dalam kegiatan itu menyampaikan kerugian akibat banjir di daerahnya mencapai sekitar Rp 230 miliar. ''Selain merusak saluran irigasi, jalan, jembatan, dan infrastruktur lain, banjir di Kudus selama berhari-hari juga menyebabkan 10.000 ha sawah puso,'' katanya.

Jumlah kerugian itu kemungkinan bertambah karena penghitungan kerugian belum selesai. Banjir di Kudus saat ini sudah surut sehingga sekitar 18.000 pengungsi juga sudah kembali ke rumah masing-masing. Tamzil menjamin pasokan pangan dan obat-obatan untuk pengungsi dalam beberapa hari mendatang tetap aman.(H7,H37-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA