| Selasa, 08 Januari 2008 | NASIONAL |
Bengawan Solo Akan Ditanggul 4 MeterJAKARTA- Departemen Pekerjaan Umum merencanakan membuat tanggul tambahan di sepanjang Sungai Bengawan Solo untuk mengatasi meluapnya sungai itu setiap musim hujan. "Tanggul setinggi empat meter itu akan dibangun mulai dari Babat di Lamongan, Cepu hingga Bojonegoro," kata Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Bengawan Solo, Imam Agus, di Jakarta, Senin (7/1). Perkiraan biaya guna membangun tanggul itu mencapai Rp1,2 triliun yang akan diambil dari dua sumber APBN atau memanfaatkan dari pinjaman Jepang. "Akan tetapi kami usahakan bukan dari pinjaman," ujarnya. Imam Agus mengatakan tanggul itu nantinya akan melengkapi tanggul yang telah ada sebelumnya yang terbentang dari Muara hingga Babat sepanjang 110 kilometer. Selain membuat tanggul, Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen SDA) juga akan merevitalisasi sungai Bengawan Solo dengan pelebaran. Bengawan Solo akan dilebarkan menjadi 230-250 meter. Saat ini lebar sungai itu hanya 160-80 meter. Idealnya lebar sungai itu 300 meter. "Jujur saja, untuk pelebaran ideal 300 meter sangat sulit karena terkait masalah relokasi warga yang tinggal di bantaran sungai," katanya. Untuk pelebaran menjadi 300 meter, pemerintah harus merelokasi warga 10 ribu KK, sehingga sulit dilakukan. Sementara untuk pelebaran 230-250 meter, jumlah warga yang harus direlokasi hanya 1.000 KK. Untuk relokasi ini, kata dia, masalah sosialnya lebih tinggi dibanding aspek teknisnya. "Bila semua lancar, saya perhitungkan pembangunan dan pelebaran akan selesai dalam waktu lima tahun," ujarnya. Buat Sudetan Aspek teknis penanganan banjir di aliran Bengawan Solo juga akan dilakukan melalui pembuatan sudetan. Ditjen SDA akan membuat dua buah sudetan di Bojonegoro dan Babat. Saat ini baru ada satu sudetan di Lamongan yang memiliki kapasitas aliran air 600 meter kubik per detik. Selain itu, pemerintah tengah mengkaji pembangunan beberapa waduk besar di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur. Dalam rencana induk penanganan banjir sepanjang Bengawan Solo, ada beberapa tempat yang perlu dibangun waduk di antaranya satu di daerah hulu Wonogiri, satu waduk bernama Bendo di Ponorogo dan waduk Kedungbendo di Pacitan. Selain itu, akan terus ada pembangunan waduk-waduk kecil di sungai-sungai kecil sekitar Bengawan Solo sebagai tampungan air di Kota Solo dengan daya tampung air sebesar 33 juta meter kubik. Imam Agus menegaskan, banjir di Solo dan beberapa Kabupaten di Jawa Timur bukan disebabkan kegagalan sistem dari infrastruktur pengendalian banjir yang ada. Banjir lebih disebabkan sangat tingginya curah hujan di daerah tersebut yang mencapai 140 ml per harinya. Dengan curah hujan sebesar itu, air yang masuk ke waduk Gajah Mungkur di Wonogiri sebanyak 1.900 meter kubik/detik. Namun pintu air di waduk tersebut hanya dibuka sebesar 250 meter kubik/detik. Tingginya curah hujan juga menambah aliran air Sungai Madiun yang berada di bawah Wonogiri sebanyak 1.500 meter kubik/detik. "Bisa dibayangkan seandainya air yang mengalir ke hilir (Kota Solo-red) tidak ditampung waduk Gajah Mungkur," ujarnya. (ant-77) |