logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 08 Januari 2008 NASIONAL
Line

SKETSA PILGUB

The Indonesian Way

SUATU ketika seorang kolega saya, seorang Indonesianis asal Australia, bertanya kepada saya mengapa kampanye pemilihan di Indonesia sejauh ini nyaris tidak pernah ada platform dan program kerja yang jelas dari partai politik atau kandidat yang ditawarkan kepada khalayak pemilih. Yang selama ini ada, demikian kesan kolega saya ini, hanyalah slogan-slogan dan janji-janji yang abstrak, tidak operasional, sehingga pada akhirnya sulit ditepati dan mudah dilupakan.

Yang dimaksud dengan slogan-slogan tadi misalnya adalah, ''Kita akan tingkatkan kesejahteraan rakyat, berseri tanpa korupsi, kita akan berantas korupsi sampai ke akar-akarnya, akan kita tegakkan hukum setegak-tegaknya, kita akan tingkatkan lapangan kerja yang seluas-luasnya, dan pendidikan harus kita buat gratis.''

Karena forum yang ada ketika pertanyaan ini disampaikan hanyalah obrolan, bukan forum seminar, maka saya memberikan jawaban agak asal-asalan. ''Yeah, beginilah Indonesia sementara ini; you know, that is the Indonesian way.''

Saya agak malu juga memikirkan hal ini; kenapa modus kampanye yang dikembangkan selama ini masih terkesan agak primitif yakni mengandalkan arak-arakan kendaraan bermotor, teriakan-teriakan slogan, mengobral janji, sambil sesekali mengejek pendukung kompetitor dan kemudian saling bentrok dengan sesama anak bangsa. Terkesan masyarakat atau bangsa ini kok belum kunjung dewasa. Padahal kita memproklamasikan kemerdekaan sejak lebih dari 60 lalu.

Kalau warga Jateng bertekad menjadikan Pemilihan Gubernur 2008 sebagai suatu pemilihan yang cerdas, maka sebenarnya letak persoalan bukan hanya pada pemilih, sehingga dengan cepat lalu kita berasosiasi tentang pendidikan pemilih, misalnya. Persoalan juga terletak pada elite politik baik di tingkat pusat, daerah, maupun lokal.

Seberapa tinggi niatan menjadikan Pilgub Jateng 2008 sebagai pemilihan yang cerdas dapat kita amati nanti apakah model-model kampanye yang digunakan masih cara-cara lama ataukah para kandidat akan menggunakan teknik-teknik dan strategi pemasaran politik yang lebih rasional-ilmiah dengan bertumpu pada penawaran program-program yang jelas.

Program Kerja

Sejauh ini positioning yang diambil oleh para kandidat juga masih belum jelas. Mungkin hal ini dikarenakan belum tiba saatnya kampanye. Mudah-mudahan tiba saatnya nanti semuanya menjadi jelas.

Ketidakjelasan program kerja dalam kampanye akan menjebak para kandidat mengandalkan cara-cara lama: meneriak-neriakkan slogan dan janji-janji yang akhirnya tidak ditepati, membagi-bagikan uang (dengan istilah apapun termasuk misalnya uang bensin, uang makan, dan uang lelah) sambil sesekali menabur kecemasan dan rasa takut. Pasti kita semua tidak menginginkan kata-kata the Indonesian way memiliki makna seperti itu. Ajaran yang tidak jelas sumbernya yang menyebut dalil ''menang umuk-mabuk kalah ngamuk'' barangkali juga bukan warisan budaya yang luhur sifatnya, sehingga tidak pantas diuri-uri oleh masyarakat Jawa Tengah.

Begitu pula tafsir terhadap kata-kata serangan fajar semestinya bukan membagi-bagikan amplop berisi uang di saat menjelang matahari terbit untuk memaksa calon pemilih memilih kandidat tertentu. The Indonesian way untuk konteks Pilgub Jateng 2008 harus diartikan sebagai pemilihan yang jujur dan demokratis yang rupa-rupanya terletak pada semua pihak yakni para elite politik dan/atau kandidat, KPU dan Panwaslu, dan para pemilih.

Mohon maaf kalau boleh penulis mengemukakan saran. Sesekali duduklah sendirian di keheningan malam, pejamkan mata, tariklah napas secara teratur, dan kemudian bayangkan kemegahan Borobudur dan Prambanan. Barangkali akan didapati ketika itu kebesaran mahakarya para leluhur kita.

Kemudian bertanyalah kepada diri sendiri apakah kita yang mewarisi kebesaran tadi juga mau belajar untuk berjiwa besar. Mudah-mudahan kita semua terhindar dari kecenderungan memiliki jiwa yang kerdil hanya karena kita mudah dirasuki birahi kekuasaan dan/atau mudah mabuk kepayang dengan kedudukan. Nuwun sewu. (60)

- Pawito PhD, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip Universitas Sebelas Maret Surakarta


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA