| Selasa, 08 Januari 2008 | NASIONAL |
Suka-Duka Relawan Bencana (2-Habis)Repot Mengatasi Pengungsi Stres
PADATNYA aktivitas di dapur umum membuat para relawan capai, penat, bahkan ada yang sakit. Namun selagi masa pengungsian belum berakhir, pekerjaan mereka belum selesai. Wahyu Purnomo, ketua II dapur umum PMI menyatakan kegiatan rekan-rekannya di tempat itu memang padat. Sejak pukul 02.00 dinihari sudah berbelanja ke pasar. Waktu subuh, acara masak-memasak sudah dimulai. Mengingat dapur umum PMI menyuplai beberapa titik pengungsian, persiapan sampai distribusi makan pagi bisa sampai dengan pukul 10.00. Setelah itu mereka menyiapkan makan siang, dilanjutkan dengan makan malam. Praktis waktu luang para relawan setelah makan malam, sekitar pukul 23.00-24.00. "Paling istirahat dua jam. Ketua I, Ahmadi, kemarin saat antar makanan sampai pingsan karena kecapaian," ujar Wahyu yang juga sempat sakit. Kepenatan relawan sedikit terkurangi ketika pemijat dari Pusdiklat Widjaya, Jepara, memberikan pelayanan gratis. "Sayang kemarin (Minggu-Red) saya belum sempat pijat. Malah hari ini (kemarin-Red) saya periksa ke posko kesehatan," ujar Wahyu sembari menenggak sebutir pil. Kondisi Psikologis Capai memang manusiawi dan wajar dirasakan para relawan karena harus menyediakan makanan untuk pengungsi. Namun yang tidak kalah penting adalah mengatasi kondisi psikologis pengungsi. "Pengungsi selalu memikirkan kondisi rumahnya, karena saat banjir mereka tidak sempat menyelamatkan barang-barangnya. Pikiran itulah yang membuat mereka (pengungsi-Red) tidak betah," ujar Gesang, sekretaris KSR PMI Kudus, yang bertugas di penampungan Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Menurut dia, saat awal masa pengungsian, masalah psikologis itu begitu terlihat. "Mereka panik dan stres ketika salah satu anggota keluarganya terpisah saat evakuasi," tuturnya. Pengungsi lalu berusaha mencari di lokasi penampungan yang lain. "Tubuh mereka di sini, tapi pikirannya melayang ke rumah atau sanak keluarganya yang belum ketemu," katanya. Relawan pun juga harus memperhatikan masalah itu. Pasalnya, tekanan psikologis bisa merembet ke masalah kesehatan. "Kalau tidak diatasi malah tambah repot nanti," tandas Gesang. Di samping para relawan dewasa yang berpengalaman di berbagai lokasi bencana, juga diberikan kesempatan bagi relawan muda. Meski capai mereka mengaku senang karena bisa terlibat langsung dalam penanganan bencana. "Ini pengalaman baru, dan saya senang bisa membantu korban banjir," kata Wahyu Cahyo dari SMK Wisudha Karya. Karena jam pelajaran di sekolahnya sedang longgar, remaja yang duduk di kelas III itu bisa meluangkan waktu lebih banyak. "Sekarang habis ujian, kegiatan sekolah tinggal class meeting. Kalau ada urusan yang agak penting di sekolah saya izin dulu pada posko," katanya. (Sony Wibisono-62) | ||||