| Selasa, 08 Januari 2008 | NASIONAL |
1.228 Ha Padi di Pati Puso
PATI - Lahan tanaman padi yang tergenang akibat banjir di Pati mencapai 7.616 hektare. Taksiran kerugian akibat genangan itu mencapai Rp 12.185.600.000. Sementara yang telah puso seluas 1.228 hektare dengan kerugian mencapai Rp 8.596.000.000. Demikian disampaikan Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (Distannak) Pati Ir Pujo winarno, kemarin. "Untuk pemulihan pertanian butuh Rp 13.457.413.000 sedangkan peternakan diperlukan Rp 450 juta," jelas dia, kemarin. Kerugian lain akibat banjir tersebut, seperti disampaikan Kepala Kantor Kesbanglinmas Pati, Moch Bambang Sukandar SH MM, ada 17.560 keluarga yang rumahnya terkena banjir. Mereka tersebar di 43 desa di tujuh kecamatan. "Jika curah hujan terus tinggi, kami prediksikan daerah yang tergenang mencapai 81 desa di sembilan kecamatan," jelas dia. Pihaknya menaksir kerugian akibat kerusakan infrastruktur mencapai Rp 24,5 miliar. Adapun kerusakan tanggul yang kondisinya kritis diperkirakan menyebabkan kerugian Rp 12,45 miliar. Di tempat terpisah, anggota Komisi E DPRD Jateng mengatakan, total lahan tananam padi yang terendam akibat banjir di 17 kabupaten di Jateng, sedikitnya mencapai 29.048,75 hektare. Areal sawah yang tergenang, kata anggota Fraksi PDI-P itu, berada di Kabupaten Pati, Kudus, Jepara, Blora, Pekalongan, Tegal, Pemalang, Cilacap, Banyumas, Purbalingga, Demak, Grobogan, Klaten, Sukoharjo, Karanganyar, Sragen, dan Wonogiri. Menurut dia, hal itu terungkap dalam rapat kerja antara Komisi E dengan Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Dinas Kesejahteraan Sosial, Kesbanglinmas, PSDA, dan Dinas Kesehatan beberapa hari lalu. ''Angka itu per 2 Januari 2008. Jika sampai saat ini air belum surut dan banjir meluas, bisa dipastikan lahan terendam dan padi yang puso akan lebih banyak,'' kata Sarwono yang juga Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana DPD PDI-P Jateng itu, Senin (7/1). Jenis tanaman pangan lain yang juga terendam per 2 Januari, yakni jagung (870 hektare), kedelai (428 hektare), kacang tanah (52 hektare), cabe (8 hektare), sayuran (5 hektare), dan sejumlah tanaman pangan jenis lain. Bencana longsor di Karanganyar juga mengakibatkan 1,6 hektare padi rusak. Rapat antara DPRD dan eksekutif itu dihadiri Ir Sutikno dari Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan Provinsi Jateng (Dispertan) dan perwakilan instansi Pemprov Jateng. Pihak Dispertan menyatakan, penanganan terhadap tanaman pangan yang terkena banjir yakni melalui pengadaan bantuan benih. Untuk bantuan bibit padi, diajukan 771.725 kg dengan asumsi kebutuhan benih 25 kg/hektare. Untuk Jagung 13.305 kg, kedelai (17.120 kg), kacang tanah (6.240 kg), pisang (7.260 batang), cabe (2.400 gram), dan bawang merah (8 kwintal). Anggota Komisi B Fatria Rahmadi mengemukakan, banjir juga berpotensi mengakibatkan terputusnya jalur distribusi pupuk dan hasil panen para petani. Selain itu, infrastruktur pertanian berupa saluran irigasi juga rusak di sejumlah daerah. ''Banjir telah memberi dampak kerugian yang sangat besar bagi petani maupun produktifitas pertanian Jateng. Terlebih banjir melanda daerah yang selama ini menjadi basis pertanian provinsi ini,'' kata Fatria. Anggota DPRD yang membidangi pertanian itu mendesak Pemprov segera menyiapkan skema bantuan kompensasi kerugian produksi pertanian, melalui bantuan input produksi secara gratis bagi petani. Adapun dalam jangka menengah dan panjang, juga perlu dilakukan langkah pengintegrasian program pembanguan pertanian dengan revitalisasi kehutanan dan manajemen sumber daya air. Bencana yang melanda Jateng terhitung 17 Desember-3 Januari 2008, menurut Kepala bidang PAM dan Penanggulangan Bencana Pemprov Jateng Drs Achmad Rofai MSi, menyebabkan korban meninggal 91 orang, luka berat (74 orang), dan luka ringan (15 orang). Sementara jumlah rumah roboh (67 unit), rusak berat (661 unit), dan rusak ringan (2.663 unit). Pengaturan Waduk Sementara itu, Pemprov Jateng akan memperketat pengaturan Waduk Gajahmungkur dan Kedungombo untuk mengurangi dampak banjir yang lebih besar dalam waktu ke depan. Selain itu juga akan membangun sejumlah waduk berskala kecil untuk mengurangi sendimentasi sungai yang belakangan kondisinya sedemikian parah. Gubernur Jateng Drs Ali Mufiz MPA saat mengunjungi lokasi banjir di Desa Banjarsari, Kecamatan Gabus, Pati, Senin (7/1) mengatakan, kebijakan tersebut sebagai salah satu penanganan banjir dengan risiko paling kecil. "Artinya pengaturan tersebut tetap mempertimbangkan kemampuan, daya tampung, dan teknis dari waduk yang ada. Sehingga pengaliran air tidak menimbulkan dampak yang besar bagi warga yang bermukim di hilir." Penanganan banjir itu, kata dia, tidak bisa dipecahkan satu kabupaten saja, tapi bersama-sama dengan yang lain. Pasalnya, persoalan aliran sungai melingkupi lintas daerah. Menurutnya, saat ini tidak hanya sungai-sungai besar yang kondisinya kritis, namun anak sungai juga mengalami pertambahan air yang tinggi akibat sendimentasi. Karenanya perlu program pengerukan sungai-sungai di Jateng. "Kami akan mengusulkan kembali normalisasi Sungai Juwana serta membangun waduk-waduk kecil," jelas dia yang dalam kunjungan tersebut didampingi Bupati Pati Tasiman bersama wakilnya, Kartina Sukawati SE MM. Pembangunan waduk kecil, lanjutnya, berguna untuk mengurangi sendimentasi sungai sekaligus mengendalikan banjir. Selain itu, dalam jangka panjang pihaknya juga melakukan program penghijauan yang dimulai dari tingkat keluarga. Sejalan dengan upaya mempercepat aliran air di beberapa sungai, pihaknya memperhatikan pula kebutuhan masyarakat akan pendidikan. Kendati terkena bencana, keberlangsungan pendidikan anak tetap bisa berjalan. Sejauh ini untuk penanganan banjir di sebagian besar wilayah Jateng, Pemprov telah melakukan upaya tanggap darurat. Di antaranya mendahulukan evakuasi korban baik yang selamat ataupun yang terluka. "Kami juga mendorong logistik untuk lebih dekat dengan masyarakat," lanjutnya. Adapun kerugian akibat banjir di Jateng, Ali Mufiz menaksir hingga kemarin mencapai ratusan miliar. "Jumlah itu masih terus bertambah karena banjir melanda 20 kabupaten/kota dan kami terus menghimpun kerugiannya," tandasnya. Dalam kesempatan itu, Gubernur sempat melihat langsung permukiman warga Desa Banjarsari yang terendam air dengan perahu karet. Dia juga menyapa dan berdialog dengan pengungsi yang tinggal di tenda. Ketinggian air di beberapa wilayah genangan banjir di Pati, kemarin cenderung menurun dibanding sehari sebelumnya. Menurut warga Desa Tanjang, Kecamatan Gabus, Sari Saputro, air sudah menyusut sekitar lima centimeter. Demikian pula dengan di Banjarsari, air menyusut meskipun tidak terlalu banyak. Sebagian besar warga yang kebanjiran masih melakukan rutinitas seperti biasa. Namun, aktivitas warga di desa-desa yang jangkauan dataran tingginya jauh dari permukiman harus direpotkan dengan transportasi. Mereka yang harus rela naik perahu dengan jarak yang lumayan jauh untuk menuju tempat aktivitas adalah warga Desa Tanjang, Kosekan (Gabus), Tondomulyo, Bungasrejo, Ngastorejo, dan Karangrowo (Jakenan). Jalan-jalan desa wilayah tersebut tergenang antara 1-1,5 meter. (H49, G4, ad,H7,H37-62) | ||||