| Senin, 07 Januari 2008 | NASIONAL |
Salah Pendapat tentang Arab SaudiTAK sedikit orang yang memiliki pandangan atau pendapat bahwa Arab Saudi adalah sumber teroris. Pandangan itu dibantah oleh Achmad, seorang mahasiswa asal Indonesia yang kuliah di Al Jami'ah Al Islamiah. ''Pandangan itu tidak benar, saat maraknya teroris, Raja Saudi tidak pernah melarang ulama dan para dai untuk berdakwah di masjid. Malahan seminar digalakkan, untuk memberantas paham-paham teroris,'' katanya. Bahkan di kampus para mahasiswa dinasihati untuk taat dan patuh kepada pemerintah selama tidak memerintahkan maksiat. Selain itu, banyak juga orang berpendapat bahwa Arab Saudi berpaham wanabi sebagai mazab kelima dan tidak mencintai ahli bait, tidak shalawat atas Nabi. Itu semua tidak benar. Sebab Arab Saudi berpaham ahlu sunnah dengan mazab Imam Achmad. Namun tak berarti mereka tidak memakai mazab yang lain. ''Buku yang kami pelajari bukan saja mazab Imam Achmad, tetapi semua mazab. Jadi jangan salah paham dengan pemerintah Arab Saudi.'' Ia berharap orang yang ingin belajar di negara itu tak perlu khawatir. Sebab semua yang dipelajari dibangun di atas Alquran dan sunah Rasulullah. Al Jami'ah Al Islamiah merupakan Universitas Islam di Madinah. Jadi dia bukan Jamaah Islamiyah yang di Indonesia dianggap oleh sebagian masyarakat sebagai aliran yang keras. Mata kuliah di universitas tersebut antara lain Kuliyatu Syariah, Dakwah (Usuluddin), Alquran (Kuliah Quran), Kuliyatu Al Hadits atau Kuliah Hadis, Kuliyatu Al Lughotul Arabian (Kuliah Bahasa), dan Mahat Ta'limul Lughot (Persiapan Bahasa). Kegiatan para mahasiswa Indonesia di perguruan tinggi tersebut mengadakan kajian atau siraman rohani bagi TKI di Masjid Nabawi. Kemudian juga membagikan buku-buku dan menterjemahkan ceramah-ceramah syaikh atau ulama bagi jamaah haji Indonesia. Bahkan juga mengadakan olahraga serta pertandingan dengan negara lain dari berbagai cabang olahraga yang diselenggarakan pihak universitas. Selain itu, mengadakan pertemuan dengan Pemerintah Indonesia yang ada di Arab Saudi, serta mencari jamaah haji yang kesasar dari rombongannya di Masjid Nabawi. Cara Masuk Menurut Achmad, bagi warga Indonesia yang ingin menjadi mahasiswa Universitas Islam Madinah sebenarnya mudah. Mereka cukup mengirim berkas persyaratan dan mengisi formulir yang bisa diambil melalui www.iu.edu.ra.com, pas foto, surat kelakuan baik, surat kesehatan dari dokter, hafal Alquran minimal tiga jus, dan ada rekomendasi dari sekolah atau Departemen Agama atau ustad-ustad. Juga bisa datang langsung ke Universitas Islam Madinah dan ini biasa dilakukan orang-orang yang sedang umrah di bulan Ramadan. Selama kuliah di universitas tersebut, Achmad mengaku banyak mendapat fasilitas dari Pemerintah Arab Saudi. Sejak pemberangkatan dari Indonesia diberi tiket gratis kurang lebih Rp 20 juta. Di kampus juga disediakan tempat tinggal lengkap dengan tempat tidur, kasur bersepreai dan selimut, meja belajar, lemari, serta ruangan ber-AC. ''Setiap bulan saya menerima beasiswa 849 riyal atau sekitar Rp 2 juta. Kemudian setiap tahun diberi uang pustaka 800 riyal. Bahkan ada antar-jemput dari kampus ke Masjid Nabawi yang berjarak sekitar 5 km. Kemudian setiap libur tahunan musim panas kami diberi tiket pulang balik ke kampung halaman dan masih banyak lagi fasilitas dari negara yang menerapkan syariat Islam ini. Itu sebabnya, di Universitas Islam Madinah ini paling banyak orang asingnya,'' paparnya. (Agustadi-62) |