logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Januari 2008 NASIONAL
Line

Catatan dari Tanah Suci

Disoal, Jarak Maktab dengan Masjidil Haram

KEWAJIBAN melaksanakan ibadah haji memang tidak ringan. tidak cukup hanya materi, namun perlu didukung kemampuan baik lahir maupun batin. Salah satu rukun haji adalah wukuf di Arafah. Tanpa wukuf, jamaah tidak akan memperoleh haji. Sementara wukuf adalah proses mengantarkan diri ke suatu panggung replika padang mahsyar, yaitu suatu tamsil atau contoh bagaimana kelak manusia dibangkitkan dari kuburnya dan dikumpulkan dalam formasi antrean menunggu giliran untuk dihisab oleh Allah SWT.

Itu sebabnya karena pentingnya wukuf bagi para jamaah calon haji, maka dalam kondisi apa pun mereka tetap diberangkatkan ke padang Arafah tersebut meskipun dalam kondisi sakit atau diinfus sekali pun. Bahkan dalam kondisi sakit dan tidak bisa bergerak serta kritis, tetap harus dibawa menggunakan ambulans untuk wukuf dengan cara disafarikan.

''Memang harus demikian, karena wukuf merupakan rukun haji. Tanpa wukuf, seseorang tidak memperoleh haji. Itu sebabnya dalam kondisi apa pun seluruh jamaah calon haji Indonesia akan diberangkatkan ke padang Arafah,'' papar Wakil Ketua Daerah Kerja (Daker) Jeddah Bidang Pelayanan Umum dan Ibadah, Surahmat di Media Center Haji yang bertempat di Hotel Al Ryad, Jeddah.

Saya yang sejak 16 November berangkat menuju Tanah Suci dan 25 Desember 2007 lalu tiba kembali ke Tanah Air usai melaksanakan ibadah haji, menuliskan beberapa catatannya selama melaksanakan rukun Islam yang ke lima tersebut.

Dibanding dengan pelayanan selama musim haji tahun-tahun sebelumnya, mungkin pelayanan tahun 2007 sudah jauh lebih baik, meskipun di sana sini tetap perlu perbaikan. Kalaupun dulu makanan pernah menjadi masalah, tahun ini boleh dikata lebih baik, meskipun harus antre panjang. Namun itu wajar, karena tak mungkin jumlah jamaah yang begitu banyak bisa mendapat layanan dalam waktu bersamaan.

Ketika saya masih berada di Madinah dan Makkah, tak sedikit kawan dari Indonesia yang mengirimkan pesan singkat atau menghubungi langsung melalui ponsel menanyakan masalah makan. Ya saya jawab hampir tak ada masalah yang berarti.

Menteri Agama Maftuh Basyuni yang menjadi amirulhaj jamaah haji Indonesia menyatakan pemerintah sudah melakukan berbagai perbaikan terhadap pelayanan penyelenggaraan ibadah haji, apalagi setahun sebelum musim haji 2007 ada masalah, khususnya berkaitan dengan pelayanan katering di Arafah dan Mina. Itu sebabnya untuk musim haji 2007, Pemerintah memberikan perhatian khusus soal pelayanan katering itu. Bahkan tahun 2007 lalu antrean makan itu tidak terjadi di semua maktab. Karenanya Menag berjanji akan memperbaiki masalah yang kecil-kecil guna penyelenggaraan pelayanan musim haji di waktu-waktu mendatang.

Jarak Maktab

Yang cukup menjadi persoalan justru jarak maktab untuk jamaah Indonesia ke Masjidil Haram. Jarak yang cukup jauh itu menjadi penyebab utama tak sedikitnya jamaah yang sudah kelelahan sebelum proses hajinya selesai. Akibatnya tak sedikit pula yang jatuh sakit karena kelelahan. Sebagai kompensasi jauhnya jarak atau fasilita hotel yang kurang memadai, jamaah mendapat pengembalian uang.

Ketua Tim Pembantu Peningkatan Pelayanan Penyelenggaraan Ibadah Haji (TP4H) Kloter I Prof H Slamet Budi Prayitno menilai maktab Indonesia lebih jauh dari jamaah haji asal Malaysia, India, dan Pakistan. Hal itu disebabkan pembayaran biaya sewa maktab masih 2.000 dolar AS, sedangkan India 2.400 dolar AS. Untuk bisa lebih dekat dengan Masjidil Haram, Indonesia harus berani menaikkan biaya menunaikan ibadah haji. Maka DPR dan Pemerintah Indonesia perlu mengkaji ulang tentang besarnya Biaya Ibadah Haji (BIH). ''Atau juga biaya ibadah haji tetap besarnya, tetapi alokasi untuk pemondokan atau maktab dinaikkan. Kultur orang Indonesia lain dengan Turki yang kurang memiliki semangat untuk melaksanakan shalat di Masjidil Haram, tetapi lebih suka shalat berjamaah di masjid sekitar pemondokan mereka. Sementara jamaah Indonesia semangatnya tinggi untuk melaksanakan shalat di Masjidil Haram yang pahalanya dilipatgandakan dibanding shalat di masjid lain,'' tambah Drs H Hisyam Ali, wakil ketua DPRD Jateng yang juga disertai Dr H Iqbal Wibisono (ketua Komisi E DPRD Jateng) yang menjadi anggota TP4H. Tugas TP4H tersebut memang menilai semua bentuk pelayanan. Yang baik maupun buruk mereka akan tulis apa adanya sebagai masukan bagi pemerintah.

Memang panitia penyelenggara haji Indonesia mengembalikan sejumlah uang kepada jamaah yang pemondokannya jauh dengan Masjidil Haram atau karena fasilitas hotel yang kurang. Namun kebanyakan dari jamaah lebih senang tidak menerima uang pengembalian asal jarak maktab atau pemondokannya dekat dengan Masjidil Haram. Sebab kalau jauh mereka terpaksa naik angkutan umum atau berjalan kaki cukup jauh. Ada yang berjalan 1,5 km sampai 3 km. Dengan begitu, risiko kelelahan sering menghinggapi jamaah sebelum proses haji bisa diselesaikan dengan baik.

Menteri Agama Maftuh Basyuni sendiri mengakui masih ada kekurangan dalam pelayanan pemondokan di Makkah, sedangkan di Madinah dan Jeddah tidak ada masalah. ''Di Makkah banyak rumah tua di sekeliling Kabah yang tak boleh disewa. Memang ada hotel yang dekat dengan Masdjidil haram, tetapi tarifnya mahal,'' paparnya.

Pemeriksaan Kesehatan

Pada bagian lain, dalam pemeriksaan di tingkat RSUD tak sedikit calon jamaah haji yang mengeluhkan keharusan periksa ulang, meskipun sudah membawa hasil laboratorium. Ujung-ujungnya, para calon tamu Allah itu harus mengeluarkan uang tak sedikit untuk membayar pemeriksaan ulang di RSUD Kota Semarang misalnya. Kasihan mereka, mau tak mau harus membayarnya. Padahal mereka seharusnya diperlakukan sebaik-baiknya. Namun yang terjadi justru menjadi ''sapi perahan'' oknum-oknum yang memanfaatkan situasi karena para calon jamaah haji itu sedang ''butuh'' mereka. ''Saya bantah bahwa saya tidak sakit atau memiliki tekanan darah tinggi, yang merasakan itu saya,'' ujar M Sodiq AR, calon jamaah yang mengaku berani menolak perintah dokter untuk periksa lebih lanjut mengenai kesehatannya. Ia pun akhirnya hanya membayar sekitar Rp 60.000.

Padahal yang lain ada yang harus mengeluarkan uang jauh lebih dari itu untuk periksa kesehatan calon haji di RSUD. Mereka yang merasa dirugikan sebenarnya bisa komplain, namun karena mereka calon haji sehingga lebih banyak bersabar. Semoga hal itu tak terjadi lagi pada tahun-tahun mendatang. (Agustadi-62)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA