logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Januari 2008 NASIONAL
Line

Suka-Duka Relawan Bencana (1)

Sehari Tidur Paling Lama Dua Jam


SM/Sony Wibisono TAMBAL TANGGUL: Dua relawan menambal tanggul timur Sungai Wulan, sebelum banjir merendam Kecamatan Undaan, Kudus, Kamis petang (27/12).

Peran para relawan dalam membantu menangani korban bencana tidak bisa diremehkan. Mereka bekerja tanpa mengenal waktu. Bahkan ada yang sampai ''mengabaikan'' jam istirahat untuk membantu warga yang sedang tertimpa musibah. Berikut laporannya.

KAMIS sore (27/12), warga di wilayah Kecamatan Undaan mulai panik. Debit sungai Wulan yang terus membesar membuat mereka was-was. Tanggul tambahan yang dibuat secara gotong-royong oleh warga pun tampaknya tidak sanggup menampung air yang semakin membesar.

Semakin sore rembesan berubah menjadi aliran-aliran kecil yang mulai membanjiri jalan Kudus-Purwodadi. Warga, khususnya yang berada di sekitar tanggul, pun panik dan berbondong menyelamatkan diri ke arah kota. Ratusan kendaraan bermotor membanjiri jalan yang sudah teraliri air itu.

Mulai dari sinilah para relawan dari berbagai ormas, parpol, bahkan masyarakat bergabung dengan satkorlak PBP terketuk hatinya menyelamatkan saudaranya. Berbagai kendaraan pun berdatangan, menjemput mereka yang tidak mempunyai kendaraan.

Selagi warga dievakuasi, fokus utama pengamanan adalah tanggul di sisi timur Sungai Wulan. Tapi apa mau dikata, menjelang malam air semakin membesar. Tiga titik tanggul di kawasan itu jebol. Para relawan dan warga laki-laki pun semakin bekerja keras. Air dari tanggul mulai turun menggenangi jalan dan merasuk menuju pemukiman. Meski begitu beberapa warga tidak mau dievakuasi, karena belum yakin banjir akan merendam rumah mereka.

Hal seperti itu pun menjadi tantangan tersendiri bagi relawan. Evakuasi tidak hanya sekedar membutuhkan armada fisik, namun juga keterampilan memberikan pengertian. Setelah evakuasi dilakukan kerja mereka tidak selesai karena masih mengurusi warga di tempat pengungsian. Dari distribusi logistik, penyediaan tempat, sampai pembuatan dapur umum.

Semua itu tidak akan pernah berjalan andai saja hati relawan tidak tergerak menolong. Dan, kesibukan itu tetap berlangsung sampai pekan ini. Sangat manusiawi jika ratusan relawan tersebut penat, capek, bahkan sakit.

"Ayo yang 1600 bungkus cepat diantarkan, ini sudah siang banyak yang nunggu," ujar seorang perempuan kepada laki-laki muda berperawakan sedang itu.

"Ya sudah kalau mobilnya siap langsung berangkat," jawab laki-laki yang bernama Yanto itu.

Hari itu, waktu hampir menunjukkan pukul 10.00. Jatah makan pagi memang sudah dinanti, tapi kesibukan di dapur umum PMI di halaman Disparbud tampaknya masih padat. Dua tampah besar berisi nasi yang masih mengepulkan asap. Masing-masing tampah ada empat orang yang bertugas membungkus nasi. Canda keriangan pun tetap terlihat, meski beberapa dari mereka berwajah kuyu.

"Ya, beginilah mas kesibukan kita setiap hari. Kalau jam segini mendingan karena semakin banyak yang bantu. Tadi pagi kita hanya berempat, cowok tiga cewek satu, sedangkan kita istirahat paling dua jam," kata Yanto. (Sony Wibisono-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA