logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 07 Januari 2008 NASIONAL
Line

Ekonomi 2008 Terpuruk?

  • Oleh Sri Adiningsih

AKHIR tahun 2007 dan awal 2008 pasti menjadi hari-hari yang tidak mudah bagi warga Jawa Tengah. Betapa tidak, banjir, tanah longsor yang luas dan memakan banyak korban sudah berhari-hari belum juga mereda. Demikian juga laut semakin tidak ramah bagi nelayan kita.

Bahkan ancaman akan adanya curah hujan yang besar yang kemungkinan akan menyebabkan banjir dan tanah longsor rasanya membuat kecut hati menghadapi tahun yang baru ini, sehingga sulit mendapatkan muka-muka cerah yang optimistik menghadapi tahun 2008 yang baru kita masuki dalam beberapa hari ini.

Bencana alam yang melanda Jawa Tengah bagian timur dan berbagai kawasan di Pantura yang juga merupakan pusat kegiatan ekonomi penting jelas akan membawa konsekuensi yang serius di Jawa. Apalagi jika jalan darat yang buka tutup masih terus berlangsung, akan membawa konsekuensi yang serius pada perekonomian Indonesia. Karena sampai sekarang ini 60% kegiatan ekonomi Indonesia Indonesia berada di Jawa, dan banyak di antaranya berada di kawasan Pantura.

Oleh karena itu jika banjir dan tanah longsor masih saja terus terjadi dan bahkan meluas untuk waktu yang lama (diperkirakan hujan besar masih akan melanda Indonesia sampai pertengahan Februari menurut BMG), dan jika mobilitas barang dan jasa serta produksi di daerah-daerah kegiatan ekonomi terganggu. Dampaknya pada perekonomian Indonesia akan signifikan.

Ongkos yang harus kita tanggung karena tidak mengelola lingkungan hidup dengan baik pada akhirnya harus kita bayar dengan mahal, dan jika tidak ada perbaikkan ongkosnya akan semakin mahal saja. Padahal menjaga lingkungan hidup sulit diharapkan menjadi prioritas utama pemerintah pada tahun mendekati pemilu seperti masa kini.

Anggaran untuk kegiatan populis yang popular justru akan mendapatkan prioritas lebih tinggi. Oleh karena itu kita mesti siap-siap menghadapi berbagai masalah lingkungan hidup yang berat pada masa-masa mendatang dengan semua ongkosnya yang akan semakin mahal. Padahal kita juga harus menghadapi berbagai masalah ekonomi yang berat pada tahun ini, sehingga jika tidak hati-hati, ekonomi kita dapat terpuruk lagi, kehidupan akan semakin berat.

Harga Minyak

Bahan bakar minyak (BBM) sebagai komoditas strategis semakin penting peranannya bagi perekonomian suatu negara dan juga kehidupan masyarakat. Bahkan untuk negara eksportir BBM seperti dan Nigeria atau Malaysia, kenaikkan harga BBM yang tajam juga menimbulkan permasalahan bagi negara dan rakyatnya.

Bagi Indonesia sebagai salah satu negara produsen minyak yang menjadi anggota OPEC (meskipun sudah menjadi net importer BBM) dan salah satu produsen terbesar gas didunia mestinya banyak diuntungkan dengan naiknya harga migas akhir-akhir ini. Demikian juga kenaikkan harga komoditas primer lainnya seperti batubara ataupun minyak sawit (CPO) jelas secara umum mestinya menguntungkan Indonesia.

Namun pemerintah sendiri nampaknya tidak happy melihat perkembangan yang ada, nampak ''grogi'' melihat perkembangan harga barang-barang primer akhir-akhir ini. Jelas ada yang tidak benar di sini. Indonesia sebagai produsen dan eksportir barang-barang primer mestinya diuntungkan dengan perkembangan harga akhir-akhir ini, mestinya dapat memanfaatkan kenaikkan harga tersebut untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, bukan meningkatkan beban hidup rakyatnya.

Oleh karena itu perlu adanya perubahan paradigma dalam mengelola kekayaan alam agar supaya menjadi kekuatan kita untuk membangun dan meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, bukan sebaliknya.

Ketidakmampuan kita mengelola dengan baik sumber-sumber kekayaan alam telah membuat kita lebih menjadi penonton dengan kenaikkan harga barang-barang primer akhir-akhir ini, bahkan banyak yang menjadi korban. Oleh karena itu jika kita ingin mengubah nasib kita, kita harus mengubah paradigma dalam mengelola sumber daya alam kita.

Ingat Pasal 33 UUD 45. Kita harus balik kepada konstitusi dalam mengelola sumber daya alam kita, untuk sebesar-besarnya kesejahteraan bangsa Indonesia, sehingga dengan kenaikkan harga barang-barang primer yang menjadi andalan ekonomi dan ekspor kita, kita mestinya makin sejahtera. Jika perlu, ubah pengelolaan yang selama ini tidak mensejahterakan bangsa Indonesia.

Ekonomi 2008?

Tahun 2008 akan menjadi batu ujian yang berat bagi pemerintah. Bagaimana komitmen-komitmen yang sudah dibuatnya akan dilaksanakan, demikian juga target-target ekonomi apakah dapat diraihnya. Jelas berbagai tantangan yang besar ada didepan mata, baik dari domestik dari sisi ekonomi ataupun sosial politik yang akan lebih berat dibandingkan dengan tahun lalu.

Demikian juga perkembangan internasional juga tidak akan banyak mendukung bagi pembangunan ekonomi Indonesia. Apalagi kebijakan ekonomi yang tahun lalu pun kurang efektif sulit untuk diharapkan lebih baik pada tahun ini. Oleh karena itu tim ekonomi diharapkan masih dapat solid dan bekerja dengan keras agar supaya kesalahan kebijakan yang dibuat pada tahun 2005 tidak terulang lagi, sehingga ekonomi tidak kembali terpuruk.(77)

- Penulis adalah Kepala Pusat Studi Asia Pasific UGM


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA