logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 06 Januari 2008 NASIONAL
Line

Jual Dua Ayam untuk Bekal Melaut


SM/Muhammad Burhan MENANGIS: Turah (65) Ibu kandung Suratno, nelayan yang tewas di perairan Batang menangis sejadinya saat jenazah anaknya dibawa ke pemakaman.

TURAH (65) berteriak sejadinya ketika jenazah Suratno (32), nelayan asal Sumub Lor, Sragi, Kabupaten Pekalongan yang tewas di Perairan Batang, dibawa menuju ke pemakaman. Tubuh lemah nenek itupun terjatuh saat mau mengejar iring-iringan jenazah. Beberapa warga kemudian mengangkat tubuh nenek yang terus berteriak memanggil anaknya. ''Anakku ojo lunga, (anakku jangan pergi-Red),'' tuturnya sambil terus menangis tersedu.

Suratno yang tewas diterjang badai dan ombak setinggi tiga meter saat mencari ikan, Kamis malam (4/1), di Perairan Batang dimakamkan Sabtu (5/1) sekitar pukul 13.30 di pemakaman di desa kelahirannya Sumub Kidul, diantar tetangga dan teman-temannya sesama nelayan.

Tewasnya bapak tiga anak itu menyisakan duka mendalam bagi keluarganya, terutama ibu dan istrinya yang mempunyai nama sama, Turah. Istrinya, Turah (30), bahkan beberapa kali pingsan hingga tidak bisa memberikan keterangan saat ditanya sejumlah wartawan.

Dayem (50), bibi korban menuturkan, Suratno sebenarnya sudah diperingatkan saat mau berangkat melaut, Rabu lalu (2/1). ''Namun karena kepepet kebutuhan dia memberanikan berangkat melaut,'' paparnya.

Keponakannya, kata Dayem, sudah setengah bulan tidak melaut sehingga saat mau berangkat mengaku kehabisan modal. ''Dia terpaksa menjual salah satu harta berhaga keluarganya yang masih tersisa yaitu dua ekor ayam yang dijual Rp 35.000,'' ujarnya.

Keluarga kaget ketika Jumat siang (4/1) mendengar kabar kapal yang dinaki Suratno pecah dan tubuh Tuban (30), nelayan sekaligus pemilik kapal yang melaut bersama Suratno, ditemukan selamat.

Tangis istri dan ibu korban pecah ketika mendapat kabar susulan Sabtu pagi (5/1) bahwa jenazah Suratno ditemukan di Pantai Celong Mangunsari, Kedawung, Banyu Putih, Batang. Suranto akhirnya dimakamkan di desa kelahirannya di Sumub Ki-dul, Sabtu kemarin sekitar pukul 13.30.

Kesulitan Ekonomi

Dayem mengaku tidak tega jika mengingat nasib istri dan kedua anak korban yang ditinggalkan. ''Anak-anaknya masih kecil yang satu berusia 3 tahun dan yang satunya lagi setahun setengah. Siapa yang akan menghidupi mereka,'' paparnya.

Ruwah (45), teman sesama nelayan mengaku ikut kehilangan Suratno yang kos bersebelahan dengan rumahnya di Jambean, Wonokerto Kabupaten Pekalongan. ''Dia tidak pernah membicarakan keinginannya, tapi sering mengeluh tentang kesulitan ekonomi keluarganya,'' jelasnya.

Dia juga megingatkan agar Suratno tidak melaut. Bersama Tuban, Suratno sebenarnya baru saja pulang melaut Kamis siangnya. Namun karena tidak dapat ikan dia berniat mau melaut lagi.

Berdua bersama Tuban, Suratno akhirnya pergi melaut pada Kamis malam (3/1) sekitar pukul 00.00 menggunakan kapal sopek milik Tuban.

Perjuangan nelayan untuk menghidupi keluarganya itu akhirnya berakhir di laut. Kapal yang dinaiki pecah diterjang keganasan ombak setinggi tiga meter. (Muham-mad Burhan, Royce Wijaya-45)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA