logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 06 Januari 2008 NASIONAL
Line

7.000 Pengungsi di Kudus Masih Bertahan

KUDUS - Ribuan pengungsi dari Kecamatan Undaan, Sabtu (5/1) meninggalkan tempat penampungan. Seiring dengan surutnya air di wilayah tersebut, dari 18.000 pengungsi di Kudus, diperkirakan jumlahnya saat ini tinggal 7.000 orang. Mereka yang kembali ke kampung masing-masing diangkut dengan truk dan bus dari Polres, Kesbanglinmas, dan Kodim. Menurut catatan Kantor Kesbanglinmas, hingga sore kemarin, jumlah pengungsi di kawasan GOR Wergu Wetan tinggal 2.000 dari jumlah sebelumnya yang mencapai 4.800 jiwa. "Sejak pagi tadi warga Undaan yang berada di GOR, SD Wergu Wetan, dan SD Mlati Kidul sudah mulai kembali," kata Kepala Kesbanglinmas, Ali Rifai.

Selain GOR, penampungan pengungsi di brak (unit) PR Sukun, Kecamatan Kaliwungu juga sudah berkurang banyak. Di tempat itu, sebelumnya jumlah pengungsi mencapai 1.200, namum kemarin tinggal 150 orang. Selain di kedua penampungan itu, Kesbanglinmas juga masih terus mendata kembalinya pengungsi di tempat penampungan yang kapasitasnya kecil.

Ali Rifai memperkirakan pengungsi yang masih tersisa, sebagian besar dari Kecamatan Mejobo dan Jati. "Yang mengungsi memang didominasi warga Undaan, kecuali warga Larikrejo dan Karangrowo yang genangannya masih tinggi. Lainnya warga Jati dan Mejobo," katanya.

Hari ini (6/1) rencananya pengungsi yang berada di Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi juga akan dipulangkan.

Logistik Masih Tersendat

Pantauan di lokasi bencana, meskipun pasokan logistik terus mengalir, pendistribusian di lapangan masih terganjal genangan air. Kondisi tersebut dijumpai di Desa Berugenjang, Kecamatan Undaan. Sejumlah relawan harus berjuang melewati genangan hampir satu setengah meter, sambil mendorong rakit berisi logistik. ''Kami memang mendistribusikan bantuan langsung ke rumah korban banjir,'' kata Koordinator Relawan PT Djarum Kudus, A Yudho Prihartono.

Bupati Kudus Ir HM Tamzil MT mengatakan, kerugian akibat banjir akan disampaikan kepada Pemerintah Pusat melalui Pemprov. ''Harapannya, ada bantuan dari pusat untuk membangun kembali infrastruktur yang rusak,'' jelasnya.

Disinggung soal rumah korban banjir yang rusak, pihaknya juga akan mengupayakan bantuan untuk perbaikan. Untuk rumah yang rusak berat, akan diusulkan bantuan dari Pemerintah Pusat, kategori sedang dari Pemprov, dan ringan akan dicarikan dana dari Pemkab.

''Data sementara rumah yang rusak baik berat, sedang, maupun ringan mencapai 1.500 unit,'' tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, dia juga menegaskan, logistik untuk keperluan pengungsi dinilai masih mencukupi. Bila memang kurang, akan segera didatangkan lagi.

Ditambahkan, saat ini, upaya penanganan bencana masih difokuskan pada penambalan tanggul Sungai Wulan dan Juwana yang jebol. Adapun lokasi perbaikan, dipusatkan pada tanggul kanan Sungai Wulan di Desa Medini, Kecamatan Undaan.

Bila penambalan tanggul selesai, pihaknya akan merencanakan menggeser dapur umum ke kecamatan yang wilayahnya diterjang banjir. Tujuannya, agar pendistribusian logistik ke lokasi musibah lebih dekat.

''Tentunya, hal itu baru akan dapat dilakukan apabila tanggul sudah benar-benar dibenahi,'' tandasnya.

Soal genangan pada beberapa lokasi di Kecamatan Jati, termasuk Terminal Induk, pihaknya sudah mengoperasikan lima pompa penyedot air. Alat tersebut sudah dioperasikan sejak dua hari terakhir.

Sementara, itu persediaan minyak tanah masih cukup, dan setiap hari didistribusikan, khususnya untuk masyarakat Undaan.

Kepala Disperindagkop Kudus, Djoko Indratmo menjamin kebutuhan minyak tanah cukup. Pihaknya sudah mengirimkan minyak tanah setiap hari ke Undaan.

"Setiap hari kami mengirim 5.000 liter minyak tanah dengan satu tangki, dan itu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, khususnya masyarakat Undaan," katanya.

Soal harga, kata dia, masih sama yaitu Rp 2.500 per liter. Jika ada perubahan pihaknya akan memberi tahu kepada masayarakat.

Ketua DPRD Jateng Murdoko mengatakan pihaknya berencana menaikkan dana penanggulangan bencana alam tahun ini. "Tahun kemarin, kami hanya menganggarkan bantuan 32 ton beras. Jumlah itu jelas sangat kurang jika melihat bencana yang terjadi saat ini,"ujarnya saat mengunjungi Kudus, kemarin.

Menurut dia, bencana sebetulnya dapat diprediksi. Prediksi itu digunakan untuk memperkirakan berapa dana yang harus dianggarkan.

Ketua PDI-P Jateng itu juga berharap distribusi logistik baik ke pengungsian maupun tempat bencana betul-betul diperhatikan agar tidak terhambat.

Untuk membantu korban bencana, kata dia, partainya membentuk Badan Penanggulangan Bencana (Baguna). Badan tersebut diisi oleh kader-kader yang siap terjun langsung ke setiap lokasi bencana.

Selain ke Kudus, Murdoko juga meninjau lokasi banjir di Desa Tanjang dan Kosekan, Kecamatan Gabus, Pati. Dia berharap, Pemkab-pemkab lebih intensif dalam memberikan informasi tentang bencana dan persoalan yang menyebabkannya. (H8,H35, H50,J18,H49-62)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA