| Minggu, 06 Januari 2008 | NASIONAL |
Orang Kuat Berdaya Tahan HebatKETIKA Soeharto menjalani rawat inap di Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) Jakarta, Jumat (4/1) lalu, sejumlah koleganya yang besuk mengatakan kalau mantan presiden ini hanya melakukan check up kesehatan saja. ''Hanya check up biasa,'' kata M Assegaf, salah seorang pengacaranya. Komentar ini cukup aneh. Kalau benar check up, kenapa harus menjalani rawat inap, dan bukan sekadar rawat jalan? Belakangan diketahui, Soeharto menjalani USG serta CT scan. Informasi yang beredar, penyakitnya kali ini lebih parah, bahkan kondisi kesehatannya semakin kritis. Anak-anak Soeharto, yang pernah merasakan manisnya ''kue'' kekuasaan tiran, pun kini sudah berkumpul di RSPP. Demikian pula dengan kerabat dekat seperti Sudwikatmono. Stroke Ringan Sejak lengser dari kekuasaan tertinggi (21 Mei 1998), muncul tuntutan sebagian masyarakat untuk mengadilinya. Kejaksaan Agung pun sudah mulai menyelidiki kasus korupsi (hanya dalam konteks ketua yayasan), tetapi mentok oleh alasan kesehatan. Entah benar atau tidak, saat kasus korupsinya muncul ke permukaan, Soeharto dikabarkan terkena stroke ringan. Posisi mulutnya terlihat miring. Dia menjalani pemeriksaan radiologi dan MRI di RSPP. Kejaksaan Agung lantas menghentikan sementara penyelidikan kasus Soeharto, terhitung sejak 20 Juli 1999. Delapan hari kemudian, kondisi kesehatannya mulai membaik. Mulutnya sudah tidak lagi miring. Setelah menjalani aneka pemeriksaan kesehatan, termasuk pemeriksaan kondisi syaraf secara menyeluruh (EEG) dan CT Scan, kondisi kesehatannya membaik. Tim dokter yang dipimpin Ibrahim Ginting mengizinkan Soeharto pulang pada 30 Juli 1999. Ketika kasus dugaan korupsi kembali mencuat ke permukaan, 14 Agustus 1999, Soeharto kembali masuk rumah sakit yang sama. Saat itu muncul rumor, tokoh yang dibenci sekaligus dipuji masyarakat Indonesia ini selalu masuk rumah sakit jika kasus hukumnya diungkit-ungkit. Benar dan tidak rumor ini, wallahu a'lam! Yang jelas, Soeharto ketika itu menjalani rawat inap setelah mengalami pendarahan di usus. Keluhan ini muncul tatkala dia mengambil air wudhu untuk salat subuh di rumah. Jadi penyakitnya bukan lagi terkait syaraf, melainkan pendarahan usus. Menurut diagnosis tim dokter, Soeharto kemungkinan menderita ambeien atau haemorroid, akibat banyak berbaring dan duduk selama proses penyembuhan di RSPP maupun di rumah. Pada 7 Oktober 1999, tim dokter menerangkan Soeharto masih sakit, sehingga tidak dapat mengikuti pemeriksaan di Kejaksaan Agung. Surat ini diteken Hari Sabardi. Dijelaskan, surat keterangan ini dibuat berdasarkan alasan yang dapat dipertanggungjawabkan secara medis. Upaya Kejaksaan Agung untuk menyeret Soeharto ke meja hijau menemui jalan buntu, setelah dokter menjelaskan dirinya mengalami kesulitan berkomunikasi verbal (14 Februari 2000). Pada 7 Maret 2000, Kejaksaan Agung membawanya ke RSCM untuk pemeriksaan ulang kesehatannya. Mantan Pangkostraditu kembali masuk RSPP, 14 Agustus 2000, untuk pemeriksaan endoskopi dan CT Scan. Foto otak dijalaninya lagi pada 23 September 2000 di rumah sakit yang sama. Usus Soeharto kembali bermasalah. Pada 24 Februari 2001, dia menjalani operasi usus buntu di RSPP. Tetapi penyakit baru bermunculan, termasuk gangguan jantung. Pada 13 Juni 2001, Soeharto menjalani operasi pemasangan alat pacu jantung permanen di RSPP. Tim dokter mencatat frekuensi nadinya rendah, sehingga distribusi oksigen ke organ-organ vital seperti otak, ginjal, dan jantung terganggu. Sesak Napas Di penghujung tahun itu, Soeharto lagi-lagi kritis dan dibawa ke RSPP. Tetapi, penyakitnya juga baru, yaitu batuk dan sesak napas. Tensi darahnya tercatat 180/70 dengan suhu 38-39 derajat Celsius. Pada 18 Desember 2001, Soeharto dinyatakan menderita pneumonia dengan gejala flu, batuk, demam, tidak mau makan, dan diare. Karena pertimbangan nonmedis, terutama emosional dan kultural, tim dokter merawatnya secara intensif di rumah. Saat itu, umat Islam sedang merayakan Idul Fitri. Namun kondisi kesehatannya makin memburuk, sehingga pada 28 Desember 2001 kembali menjalani rawat inap di RSPP selama 11 hari.Sepanjang tahun 2002, gangguan kesehatan kembali mendera fisik Soeharto. Tetapi tidak terlalu berat. Kejaksaan Agung kemudian membentuk tim dokter, untuk membuktikan isu mantan penguasa itu sudah sembuh. Tim yang terdiri atas 20-an dokter (tujuh orang dari RSCM dan ditunjuk Kejaksaan Agung) itu memeriksa kesehatan Soeharto pada 18 Juni 2002. Ketua Tim Dokter Soeharto, Akhmal Taher, mengumumkan kesehatan Soeharto lebih baik daripada saat terserang stroke pada 1999 dan 2001. ''Namun kemampuan berbahasanya terganggu,'' kata Akmal. Anehnya, pada 29 Oktober 2002, Soeharto terlihat sehat dan segar saat ziarah ke makam Ibu Tien di Astana Giribangun, Mangadeg, Karanganyar. Ia mampu berjalan sendiri, tanpa dipapah maupun menggunakan tongkat! Cacat Psikologi Pada tahun 2003, Soeharto hanya sekali menjalani rawat inap di rumah sakit. Gangguan pencernaan yang merembet jantung membuat ia dilarikan ke RSPP (29 April 2003). Karena itulah, pada tahun berikutnya, Kejaksaan Agung memerintahkan Kejaksaan Negeri Jaksel memeriksa kondisi kesehatan Soeharto. Tim dokter RSCM memeriksa kesehatannya selama tiga kali, dan menyimpulkan Soeharto menderita cacat psikologi permanen (7 Januari 2004). Statement ini mengundang pro-kontra di masyarakat. Apalagi sebulan kemudian, Soeharto terlihat sumringah ketika menerima kunjungan mantan PM Malaysia, Dr Mahathir Mohammad, di kediamannya. Saluran pencernaan Soeharto kembali bermasalah dan mengeluarkan darah. Itu terjadi pada 29 April 2004, yang membuatnya kembali masuk RSPP. Tetapi tiga hari kemudian, ia diizinkan pulang. Penyakit ini kambuh lagi pada 5 Mei 2005. Namun tim dokter menilai kondisi kesehatannya relatif aman. Meski demikian, ia menjalani rawat inap hingga 11 Mei 2005. Pernikahan Cucu Setelah tampil di muka publik, termasuk menghadiri pernikahan cucu dan bersua mantan PM Singapura Lee Kuan Yew, Soeharto lagi-lagi dirawat di RSPP (4 Mei 2006). Ia mengalami pendarahan yang mengakibatkan penurunan kadar sel darah merah atau hemoglobin (Hb). Ia menjalani dua kali operasi (8 dan 11 Mei), untuk memasukkan pipa lambung sebesar jari kelingking orang dewasa ke dinding perut sebelah kiri atas. Sepekan kemudian, Soeharto dinyatakan kritis. Bahkan tidak bisa lagi melakukan sejumlah aktivitas yang dilakukan sehari sebelumnya. Keluarga Cendana pun pasrah jika Soeharto dipanggil Tuhan sewaktu-waktu. Sejak 22 Mei 2006, kondisi kesehatannya berangsur-angsur membaik, meski masih dalam masa kritis. Soeharto sudah bisa berkomunikasi dengan keluarga dan menjalani fisioterapi. Pendarahan sudah berhenti dan fungsi organ tubuh lainnya relatif baik. Setelah menjalani EEG, Soeharto diizinkan pulang (31 Mei 2006), meski selang masih terpasang di lambung. Semalam, kondisi ginjal Soeharto dikabarkan membaik. Ini makin membuktikan bahwa "orang kuat" tersebut memang berdaya tahan hebat. (Dudung Abdul Muslim, dari berbagai sumber-32) |