logo SUARA MERDEKA
Line
Minggu, 06 Januari 2008 NASIONAL
Line

Istri Bernyali


BATAS antara kreativitas dan keterpepetan rupanya sangat tipis. Jika di tengah genangan banjir Bengawan Solo orang terpaksa naik rakit dari drum yang dibelah, pastilah itu disebabkan orang sedang kepepet. Tiada pilihan lain. Tak ada rotan, akar pun jadi. Tak ada rakit, apa pun yang mengapung pasti digunakan untuk tunggangan. Bahkan batang pisang, amben, meja, bisa menjadi perahu darurat yang menyelamatkan proses evakuasi korban banjir. Selalu saja, muncul akal dan siasat dalam keterhimpitan.

Mungkin ini yang dinamakan berkah terselubung. Kreativitas terkadang justru mbrojol dari situasi yang menekan. Dalam ketertindasan dan penderitaan, gagasan gemilang dengan mudah akan berlalu-lalang. Karena itulah, meski sedih menyaksikan bencana demi bencana menghantam saudara sebangsanya, Mas Celathu masih mencoba memetik syukur. Dilihatnya ada saja akal kreatif untuk cari selamat dan menciptakan fungsi ganda dari benda-benda itu. Mungkin ini yang dinamakan kecerdikan.

Namun begitu, kalau di tengah bencana longsor, tiba-tiba ada yang mengaku-aku kehilangan uang ratusan juta terbenam di dalam timbunan longsor, boleh dicurigai ini sebagai kecerdikan negatif. Sebuah spekulasi. Dengan ndobos begitu, siapa tahu nanti dapat ganti rugi dari pemerintah. Kan lumayan hanya dengan modal bacot bisa dapat rezeki durian runtuh. Persis sebagaimana korban gempa dua tahun lalu.

Demi keinginan mendapatkan dana renovasi dan rekonstruksi yang dijanjikan puluhan juta rupiah, rumah yang cuma retak malah diambrukkan sekalian. Konyolnya, telanjur rumah rata tanah, eh iming-iming yang dijanjikan pemerintah enol rupiahnya pada menggelinding hilang. Hanya dapat beberapa juta rupiah saja, itu pun musti menunggu lamaaaaa dan berkelok-kelok prosedurnya.

Makanya, janganlah sekali-kali memanfaatkan kepintaran dan kecerdikan untuk hal-hal yang tidak senonoh. Mas Celathu menjadikan premis ini sebagai pedoman hidupnya. Jangan minteri orang yang tidak pinter. Misalnya kita jagoan soal hukum, janganlah malah memperdagangkan pasal-pasal hukuman atau membiarkan orang yang buta hukum terperosok ke lubang hukum. Jika kita ditugasi menjaga ketertiban, janganlah justru menyelenggarakan ketidaktertiban dengan bertengkar antarkesatuan.

''Makanya, sebaiknya batalkan saja niat sampeyan jualan kasur di lokasi bencana. Nggak etis itu. Mosok cari untung kok di tengah orang yang lagi susah,'' cegah Mbakyu Celathu, menanggapi ide suaminya yang berniat jadi saudagar kasur.

''We lha, niat saya itu menolong. Kan kasihan ta korban-korban banjir itu, kasur-kasur mereka basah. Nggak layak dipakai,'' kilah Mas Celathu yang rupanya lagi gandrung baca buku teknik pemasaran.

''Kalau mau nolong ya datang ke sana. Bawa kasur, terus disumbangkan. Kalau perlu sekalian bawa makanan yang siap disantap. Nggak usah berdagang. Sampeyan itu kayak kurang kerjaan aja. Lagian sampeyan kan bilang, jangan suka memanfaatkan penderitaan orang. Piye ta sampeyan ini? Sekarang malah mau golek bathi dari korban banjir,'' Mbakyu Celathu mulai naik tensinya, nada suaranya naik beberapa oktaf.

Disantlap begitu, Mas Celathu langsung mengkeret. Bukan lantaran takut, tapi karena pukulan balik itu menggunakan premis Mas Celathu sendiri. Apa yang selalu diucapkannya, kini berbalik menghantamnya. Ia merasa malu. Lidah bininya ternyata kayak jagoan pencak silat.

Apa boleh buat. Mas Celathu cuma bisa memamerkan wajah kecutnya sambil garuk-garuk kepala yang tidak gatal. Buku ''ilmu pemasaran'' yang beberapa hari ini dibacanya segera ditutup, dan dilemparkan ke kolong meja.

Memang, sebenarnya, Mas Celathu cuma ingin mempraktikkan jurus-jurus marketing yang sedang dipelajarinya. Konon, menurut buku itu, orang harus peka membaca peluang.

Setiap ada peluang, harus diolah jadi kemungkinan untuk mendapatkan keuntungan. Nah, bencana banjir itu, dalam logika Mas Celathu, adalah sawah subur yang bisa diolah sebagai peluang untuk memanen keuntungan. Dari situlah, mendadak muncul ide berdagang kasur.

''Mbok ya sudah ta. Nggak usah neka-neka berdagang. Lha wong sudah dikaruniai keahlian jual abab, kok ya nggragas. Masih mau berdagang segala. Sampeyan sendiri yang selalu bilang, kalau keahliannya orang itu sudah dikapling-kapling. Nggak bisa memborong semua keahlian,'' istrinya nyerocos, seperti membuka kembali file-file lama suaminya. Modar. Mas Celathu tak berkutik lagi. Dia kena serangan telak, lagi-lagi menggunakan pukulan dari omongannya sendiri.

Tapi dasar Mas Celathu. Biarpun dipukul KO, tidak membuat dirinya terjerembab. Dia malah nyengenges memamerkan gigi kuningnya yang full nikotin sambil men-ciweli lengan istrinya. ''Wuuuahh, untung lho aku aku punya istri cerdas kayak kamu. Kalau tidak diingatkan, pasti saya bisa kebablasan,'' candanya mengalihkan perhatian, semata-mata untuk menutupi rasa malunya yang nggak ketulungan.

Padahal, aslinya, dia ya benar-benar bangga. Bangga karena istrinya tergolong perempuan yang punya nyali. Berani mengingatkan ketika suami mau nyempal menyesatkan diri di tikungan. Niat mem-proyek-kan bencana dan pederitaan khalayak, bisa dicegah istrinya. Bagi Mbakyu Celathu, mengeksploitasi musibah untuk dijadikan berkah, tidak bisa dikategorikan sebagai kecerdikan dan kreativitas. Tapi, itu adalah siasat jahat.

Mas Celathu membatin, mungkin inilah salah satu peran istri terpenting di zaman pembangunan. Punya keberanian untuk mengingatkan pasangannya, terutama saat sang pasangan diketahui akan keliru membuat kebijakan. Bukan malah merongrong terselenggaranya penyimpangan.

Mas Celathu tidak tahu, apakah para istri lainnya, terutama istri-istri para pejabat publik di sepanjang aliran Bengawan Solo yang wilayahnya sedang ditenggelamkan air bah, juga istri bernyali seperti Mbakyu Celathu. Istri yang berani mengingatkan, supaya para sua-minya tidak serta merta mem-proyek-kan bencana dan penderitaan rakyatnya. Kekhawatiran Mas Celathu mungkin bukanlah kekhawatiran yang berlebihan. Soalnya, biasanya sih memang begitu. (62)


Berita Utama | Bincang - Bincang | Semarang | Karikatur | Olahraga
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA