logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 05 Januari 2008 NASIONAL
Line

Lebih dari 30% BBM Bersubsidi Diselewengkan

JAKARTA- Besarnya selisih antara harga BBM dalam negeri dan luar negeri memunculkan kerawanan penyelewengan BBM bersubsidi. Besarannya diperkirakan lebih dari 30%. Hal ini diungkapkan Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro di Kantor Presiden, Jl. Medan Merdeka Utara, Jakarta, kemarin.

"Begitu harga minyak naik , disparitas makin tinggi antara harga pemerintah dengan pasar. Ini bisa mengundang beberapa pihak mengalihkan konsumsinya. BBM yang semestinya untuk konsumen perlu subsidi, diambil konsumen yang tak perlu subsidi. Bisa lebih dari 30%," ujar dia.

Sesuai APBN 2008, volume BBM bersubsidi ditetapkan 35,87 juta kiloliter yang terdiri dari premium 16,95 juta kiloliter, minyak tanah 7,87 juta kiloliter, dan solar 11 juta kiloliter dengan nilai subsidi Rp 42,1 triliun.

Adanya pengalihan konsumsi BBM ini, menurut Purnomo menjadi biang kelangkaan BBM di beberapa tempat. Khususnya minyak tanah yang paling tinggi nilai subsinya.

"Di lapangan yang sekarang terjadi konsumen yang harusnya mendapat subsidi, alokasi BBM-nya diambil oleh yang tidak mendapat subsidi karena dia bisa beli harga murah. Akhirnya volume stok nasional tersedot dan harga untuk konsumen bersubdisi jadi naik," papar Purnomo.

Menurutnya, jawaban atas masalah ini adalah memperketat distribudi BBM bersubsidi. Jangan sampai jatah BBM yang harusnya untuk rakyat kecil malah dinikmati kalangan industri.

"Ini kan ujung-ujungnya masalah pengawasan," ujarnya

Sementara itu, Pertamina mengaku khawatir harga minyak dunia yang kembali melejit akan membuat dispasritas harga subsidi dan nonsubsidi makin besar. Akibatnya, kelangkaan minyak tanah pun tak terhindarkan.

Dirut Pertamina Ari Soemarno usai sholat Jumat di kantor Pusat Pertamina, Jakarta, kemarin menyatakan perbedaan harga yang tinggi ini akan membuat masyarakat yang biasanya menggunakan BBM nonsubsidi beralih ke subsidi. Bahkan, beberapa oknum memanfaatkan kondisi ini dengan menjual minyak tanah subsidi ke industri karena harganya jauh lebih murah dari harga pasaran.

"Yang jadi kekhawatiran kita sekarang adalah dengan disparitas harga yang tingi, masyarakat jadi ambil (minyak tanah) banyak-banyak meski bukan untuk kebutuhannya sendiri. Dijual lagi, mungkin," katanya.

Tak hanya itu, cuaca yang buruk, longsor dan banjir juga menghambat distribusi BBM ke sejumlah daerah. Ditambah lagi fenomena program konversi dimana masyarakat yang sudah dikonversi masih mancari minyak tanah ke daerah lain.

Ari mengaku kewalahan mengawasi ini semua. Karenanya berapapun minyak tanah tambahan yang digelontorkan pasti akan habis dan kembali terjadi antrian. (dtc-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA