logo SUARA MERDEKA
Line
Sabtu, 05 Januari 2008 NASIONAL
Line

Nasib Nelayan Tak Melaut (3-Habis)

Juragan Beri Pekerjaan Sampingan


SM/Muhammadun Sanomae KAMPUNG NELAYAN: Sampah yang terbawa ombak menumpuk di permukiman nelayan muara Kali Wiso di Kelurahan Jobokuto, Jepara, Kamis (3/1). (57)

MARZUKI (45) yang badannya hanya terbalut sarung, duduk di atas tumpukan jaring di atas perahu Sumber Urip. Perahu pursessine mini itu ditambatkan di pinggiran kampung nelayan Kelurahan Jobokuto Jepara, di antara ratusan perahu nelayan lainnya.

''Sudah satu bulan saya tidak melaut,'' tuturnya sembari menghisap rokok di sela-sela kesibukannya memperbaiki jaring yang rusak.

Rumah Marzuki hanya sekitar 50 meter dari tambatan perahunya itu. Dia yang sendirian itu memang masih memantau cuaca. Kalau saja angin bersahabat dan cuaca cerah selama tiga hari, dia akan berangkat melaut.

Namun kondisi alam yang dinanti itu belum datang. Perairan Jepara dan Karimunjawa yang jadi daerah operasi penangkapan ikan, sudah hampir tiga pekan ini sering diterpa badai. Gelombang tinggi, angin kencang, dan hujan deras datang sewaktu-waktu menghentikan sementara aktivitas nelayan.

Marzuki adalah pemilik perahu. Dia juragan dari 35 anak buah kapal (ABK) yang bekerja kepadanya. Tiap tahun dia sudah menghadapi liku-liku sepanjang musim barat. Namun tahun ini serasa lebih berat, jika dihadapkan pada hitungan untung rugi. ''Harga barang-barang naik, sedangkan hasil melaut tak berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, bahkan cenderung menurun,'' tutur ayah empat anak itu.

Awal mula musim barat tiba, dia beberapa kali berangkat melaut, namun pulang dengan tangan kosong karena ombak besar menggulung. Jaring tak jadi ditebar dan perahu dipacu ke pantai. Sekali berangkat, hanya untuk membeli solar butuh satu juta. Jika menginap dua tiga hari dilaut ditambah perbekalan lain butuh setidaknya Rp 4 juta. ''Tapi saat musim barat saat terjebak badai berkali-kali saya dan para ABK pulang tanpa membawa ikan,'' katanya.

Dia biasa melaut di perairan dengan kedalaman paling tidak 35 meter. Itu karena pertimbangan efektivitas jaringnya. Karena itu daerah operasinya ada di antara Jepara-Karimunjawa dan saat musim barat berisiko badai. Perahu jebol dan terbalik adalah risiko terburuk yang mereka hindari. Apalagi muatan kapal cukup berat. Peralatan jaring, es pendingin ikan, sampai mesin dan ABK bisa mencapai dua tiga ton.

Di tengah musim barat seperti ini, juragan pun merugi. Namun demikian, sebagian juragan tetap memikirkan ABK. Meski hanya beberapa kali, mereka memberikan pekerjaan sampingan. Terkadang meski tak berangkat melaut, para ABK itu diminta memperbaiki jaring yang rusak. Sehari diberi upah Rp 15.000. ''Karena tidak memiliki pekerjaan lain, sebagian tetap tidak keberatan. Namun sebagian memilih bekerja serabutan,'' katanya.

Juragan juga acapkali memberikan piutang kepada ABK yang ingin memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pembayarannya biasanya saat melaut lagi dengan cara dicicil dan sistem potong upah per harinya. Tradisi utang piutang untuk menutup kebutuhan saat tak melaut itu sudah biasa. Sebab perhitungannya, tabungan tujuh bulan melaut saat kemarau tak bisa menutup kebutuhan tiga atau empat bulan saat musim barat seperti ini.

Bahkan banyak yang tak bisa menabung karena penghasilan pas-pasan. Namun tidak semua juragan memberi utang, karena mereka sendiri juga terlilit kerugian.

Nelayan di Rembang juga mengambil langkah sama saat tidak melaut. Untuk menutup kebutuhan sehari-hari mereka terpaksa harus ngutang. Seperti Darmadji, nelayan perahu cukrik asal Desa Kabongan Kidul Kecamatan Kota Rembang.

Apabila ombak besar dan paceklik tiba, utang di warung adalah salah satu tulang punggung bagi nelayan untuk terus mengasapi dapur mereka. Berbeda dengan nelayan purseseine, nelayan cukrik tidak memiliki juragan yang bisa dimintai pinjaman uang selama musim paceklik. ''Sehingga satu-satunya harapan di masa sulit seperti ini hanyalah dengan berutang di warung untuk kebutuhan hidup sehari-hari,'' tutur Darmadji

Pilihan lainnya yang bisa ditempuh nelayan selama musim baratan adalah bekerja serabutan sebagai kuli bangunan atau menitipkan barang-barang berharganya di Pegadaian. Namun pilihan untuk bekerja kuli bangunan sangat langka, apalagi saat musim penghujan seperti saat ini. Sedangkan pilihan untuk mengadaikan barang ditempuh apabila nelayan masih memiliki barang berharga seperti televisi, tape atau VCD player. ''Kalau sudah tidak ada barang berharga, ujung-ujungnya kembalilah kami utang ke warung,'' ujar Nyono, nelayan lainnya.

Mengingat peran warung yang sangat vital ini, nelayan cukrik sedapat mungkin selalu membina hubungan baik dan menghindari masalah seperti ingkar janji tidak membayar utang kepada pemilik warung. Meskipun harus dengan mencicil sedikit demi sedikit, nelayan selalu berusaha untuk melunasi utangnya.

Kondisi tak jauh berbeda juga dialami nelayan di Pemalang. Cuaca buruk membuat mereka tak bisa mencari ikan. Karena itu sebagian di antaranya bekerja serabutan, seperti yang dilakukan mereka Warman (67) warga Dukuh Cokrah, Kelurahan Sugihwaras, Pemalang.

Ketika ditemui dia bersama rekan lainnya masih membersihkan jaring milik juragannya. Dia mengaku dengan bekerja seperti itu bisa mendapatkan upah Rp 20.000. Uang tersebut bisa untuk tambahan makan keluarganya.

Karena sudah sepekan lebih tidak melaut, dia juga utang tetangganya sebesar Rp 300.000. Uang sebesar itu dia pinjam tidak sekaligus, tapi sebanyak enam kali. untuk membeli keperluan hidup. (Muhammadun Sanomae, Mulyanto Ari Wibowo, Saiful Bachri-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA