| Jumat, 04 Januari 2008 | WACANA |
Surat PembacaKorban KorupsiJika menyimak kasus korupsi, pikiran orang sering terfokus pada besaran angka rupiah yang kemudian sering disebut sebagai jumlah kerugian negara. Itu pun sudah kerap membuat heran campur geram, belum lagi kerusakan sumber daya alam. Menurut saya sebenarnya ada hal yang jauh lebih merugikan karena bersifat immaterial (spiritual) yaitu terjadinya pembusukan tata nilai sosial dan merosotnya integritas bangsa. Hal itu pada akhirnya akan merusak karakter bangsa sehingga kita tidak lagi memiliki kebanggaan nasional bahkan mungkin malu sebagai bangsa Indonesia. Kerugian immaterial tersebut saya istilahkan sebagai korban korupsi yang memiliki daya rusak luar biasa dan berjangka panjang (laten). Mungkin hal inilah yang membuat para pencetus, pelaku, penikmat apalagi pelindung perbuatan korupsi, bisa dikategorikan sebagai punya kesalahan yang tidak termaafkan dari aspek sejarah perjalanan bangsa. Beberapa hal pembusukan tata nilai sosial yang terjadi ketika masyarakat telah mengakomodasi korupsi sebagai hal yang lazim adalah sbb: Pemimpin dimaknakan sebagai penguasa, loyalitas (kepada tugas) dimaknakan sebagai menjilat dan rajin berupeti kepada atasan. Kemudian uang sogok/suap menjadi alat baru dalam komunikasi publik serta sikap jujur dianggap sebagai tindakan bodoh yang bisa mencelakai diri. Termasuk juga institusi yang korup, dimaknai sebagai tempat basah dan ladang keberuntungan, jabatan/harta pun menjadi Tuhan/sesembahan "baru" dan masih banyak lagi. Bahkan kebanyakan orang tidak yakin lagi bahwa korupsi sebenarnya tidak sulit diberantas. Ikon sosial yang pernah dibanggakan pun seperti sifat toleransi, gotong royong, rukun dalam keragaman makin terkikis dari kehidupan sosial. Akibatnya sebagai bangsa kadang kita merasa telah kehilangan karakter (sering diistilahkan sebagai krisis identitas) dan muncullah karakter "lain". Sebagian terjebak ke dalam sikap kebarat-baratan yang sangat memanjakan kebebasan. Sebagian lagi terjebak ke dalam sikap ketimurtengahan yang sangat mengkhawatirkan kebebasan. Keadaan ini sama artinya kita menjajahkan diri atau memang berhobi dijajah. Contoh yang jelas bisa dirasakan adalah maraknya sikap arogansi kekelompokan (chauvinisme) yang mengatasnamakan suku, agama, ras atau aliran yang berpotensi memudahkan terjadinya konflik horizontal. Untuk itu kepada para koruptor agar segera menghentikan kebiasaan buruknya (bukan budaya). Hal itu sebelum semuanya menjadi terlambat dan kelak hanya tersampahkan oleh waktu. Juga kepada para calon koruptor agar merenungkan kembali akibat perbuatan korupsi tersebut. Jangan warisi anak cucu dengan menanggung rasa malu. Mari kembali ke ideologi Pancasila dalam bersikap dan kebijakan. Lanjutkan national building ataupun character building seperti cita-cita para founding fathers negeri tercinta ini. Salam Indonesia. Drg Toto Hermawan Puskesmas Kebondalem, Pemalang CV Mardhotilah, Mana Janjimu? Kepada CV Mardhotilah Group yang bergerak di bidang pengembangan dan penjualan tanah kaveling di lokasi Magelang, terutama kepada pimpinannya yang alamat di Krajan II RT 9/RW 3 Secang, Magelang (belakang pasar Secang ), saya sebagai pembeli sejak 25 April 2007 tetap menunggu sertifikat tanahnya. Juga berharap perusahaan tersebut segera membayar administrasi di PPAT dan BPN setempat sehingga dapat terselesaikan proses sertifikatisasi tanah-tanah kavling seepatnya. Jangan beri janji yang selalu berubah dan tidak pasti seperti yang terjadi selama ini terhadap puluhan konsumen. Saya mengetuk hati perusahaan tersebut agar berbesar hati dan segera melakukan kewajibanya. Bukannya saya kejam, seperti yang pernah ditujukan kepada saya. Lebih kejam mana, orang yang berjuang menuntut hak dengan orang yang tidak melakukan kewajibannya? Hariyono Jl Duku I/19 Kramat, Magelang *** Butuh Biaya Operasi Dalam istilah kedokteran penyakit itu namanya tumor rahang mulut. Setelah melalui diagnosa, penyakit ini harus segera dioperasi dengan biaya sekutar Rp 35 juta. Jumlah biaya ini tidak kecil bagi pengurus PAYM (Panti Asuhan Anak Yatim Piatu Muhammadiyah) Shalahudin Al Ayyubi Desa Tampingan Boja Kabupaten Kendal telp (0294) 571430. Namun sebagai wujud tanggung jawab, pengurus tetap mengusahakan karena si anak memang harus operasi apalagi dia yatim piatu. Kebetulan saudara dari almarhum ayah/ibunya juga hidup dalam kondisi serba kekurangan sehingga tak ada lagi sandaran hidup. Besar harapan ada pembaca memberi bantuan biaya operasi tersebut. Sunarso Humas PAYM Tampingan Boja, Kendal *** BenQ HP Murah, Kualitas Murahan Saya membeli ponsel BenQ-Siemens seri E61 di swalayan Simpanglima Semarang dengan garansi Januari 2009 seharga Rp 885.000 (dengan fitur kamera VGA, MP3, MMS, Mini Slot SD 256 Mb), serasa memiliki ponsel mewah. Tapi selang dua bulan tepatnya Desember 2007 ponsel mulai rusak serius yaitu bila dipakai sering mati sendiri (untuk telepon maupun sms). Saya menyervis ke BenQ-Siemens Sales & Costumer Care di Jl Piere Tendean 12 A Semarang 13 Desember 2007 sedikit tercengang karena ternyata banyak juga konsumen yang komplain atas produk tersebut dengan kerusakan yang hampir sama. Dijanjikan milik saya selesai dua hari maksimal namun kenyataannya sampai 21 Desember 2007 juga belum beres. Bahkan dia katakan ponsel tidak dapat diperbaiki dan harus dikirim ke Surabaya untuk waktu sekitar dua bulan. Terus terang saya kecewa pada perusahaan yang promosinya: " HP murah tapi tidak murahan" tersebut. Saya imbau calon pembeli lebih selektif membeli ponsel, jangan termakan iklan dan iming-iming fitur lengkap. Dwi Agus Sarwono Jl Ronggolawe RT 1/RW8, Semarang *** Nguri-uri Kabudayan Di tengah bangsa ini meributkan kebudayaan yang diklaim bangsa lain, 11 Desember 2007 di Solo ada Festival Bon Rojo 2007. Saat itu saya melihat pementasan wayang bocah yang perlu diacungi jempol. Mereka ingin membuktikan sebenarnya para pekerja seni masih peduli dengan budaya sendiri, tapi mungkin para petinggi pemerintahan yang tidak peduli dengan semua itu. Di dalam pementasannya selalu disinggung-singgung soal Kawasan Sriwedari yang mau digusur, entah oleh Pemkot atau swasta. Untuk itu perlu diperhatikan jangan sampai tempat di mana para pekerja seni yang berusaha untuk tetap melestarikan budaya negeri ini hilang begitu saja. Bagaimana tidak diklaim negara lain, kalau budaya sendiri yang masih berkembang di negeri sendiri saja ternyata sarana dan prasarananya dibatasi. Kalau kondisi ini terus-menerus berlangsung, ya jangan marah kalau 5 tahun sampai 10 tahun mendatang, justru negara lain yang membawa kebudayaan asli kita datang ke Indonesia untuk memperkenalkan kepada anak cucu kita. Untuk itu mohon semua pihak membantu dan mari lestarikan budaya Indonesia dengan tidak membatasi sarana dan prasarana bagi pertumbuhannya. Nunuk Hari Setyowati Tmn Lamongan II/14, Semarang Pendidikan Itu... Pendidikan itu mengolah pikir, hati dan kalbu. Menjadikan manusia pandai mengelola benih kecerdasan untuk kemaslahatan. Sayang, seringkali pendidikan terpaksa dicemari keinginan untuk memupuk kemakmuran pribadi. Pendidikan itu ajaran kasih yang menuntun pada kebaikan. Menjadikan manusia lebih memanusiakan manusia. Sayang, sering pendidikan terpaksa dibubuhi ajaran kekerasan. Pendidikan itu mengembangkan kecerdasan individu yang heterogen. Pengakuan atas potensi yang tak seragam. Sayang, sering pendidikan menetapkan standar sama untuk kecerdasan individu yang jelas berbeda. Pendidikan bukan untuk diperdagangkan, bukan menyulitkan apalagi menambah beban. Pendidikan itu juga merupakan kepedulian. Sayang, hanya ada segelintir Dick Doang, Butet Manurung, Ibu Kembar, Sekolah Qoriyah Toyyibah, Guru Toto Chan dan sedikit kawannya. Pendidikan itu hak yang dijamin negara. UUD'45 menyatakan dengan sejelas-jelasnya. Sayang, sering pendidikan harus menghamburkan uang dan tak terjangkau sembarang kalangan. Anggrahini KD Jl Ahmad Yani 100 Gubug, Grobogan *** Pemanasan Global Saya terlambat berangkat shalat Jumat tetapi keterlambatan itu menguak hal yang sebelumnya tidak saya sadari. Saat itu halaman Masjid Al -Taqwa Wonogiri penuh dengan motor dan mobil. Saya bergumam, ternyata untuk berbakti kepada Allah, para umat juga harus ramai-ramai menggunakan bahan bakar fosil yaitu bensin yang berdampak utama meningkatnya suhu global lebih cepat. Mungkin yang memiliki motor berdoa semoga segera bisa memiliki mobil dan yang punya mobil berdoa dapat yang lebih mewah. Peningkatan konsumsi bahan bakar fosil pun makin menaik, suhu global juga naik makin cepat. Saya mengetuk, apakah umat dapat sedikit meneruskan ketangguhan sikap menahan diri setelah tergembleng selama Puasa, dalam kehidupan sehari-hari kini ?. Bagaimana kalau setiap melaksanakan shalat Jumat justru mengistirahatkan motor/mobil masing-masing ? Pergi ke masjid dengan jalan kaki. Bila kejauhan bisa melakukan ibadah yang sama di mushala terdekat. Kebetulan, tiap Jumat adalah hari berolahraga bagi karyawan Iembaga pemerintahan dan swasta. Alangkah baiknya bila hari itu terjadi kesinambungan semangat dan praktik untuk hidup sehat, berperilaku menahan diri mengonsumsi bahan bakar fosil, peduli kepada masa depan bumi. Hal ini berarti juga peduli bagi masa depan, anak cucu dan sesamanya. Bambang Haryanto (081329306300) JI Kajen Timur 72, Wonogiri *** Mobil untuk Kajari dan Ketua PN Sukoharjo Beberapa waktu lalu, Pemkab Sukoharjo membagikan mobil baru antara lain untuk kajari dan ketua Pengadilan Negeri Sukoharjo yang pembiayaannya dari APBD, Yang menjadi pemikiran, apa pantas dua instansi penegak hukum tersebut menerima mobil mewah dari Pemkab mengingat daerah lain tidak ada kebijakan seperti itu. Apalagi kedia instansi ini punya atasan Dep Hukum/HAM serta kajari punya Kejaksaan Agung yang semuanya memperhatikan kebutuhan bawahannya. Bekas Jaksa Agung Andi Ghalib pernah memberi mobil BMW untuk kajati/kajari dan fasilitas canggih bagi kelancaran tugas institusi bawahannya di kabupaten/kota. Demikian juga Dep Hukum/HAM dan MA selalu meningkatkan anggarannya untuk kesejahteraan dan melengkapi fasilitas institusi di bawahnya. Kalau kejari dan kedua Pengadilan negeri Sukoharjo menerima mobil baru tersebut, apa tidak pakewuh bila nanti memeriksa/menyidik dan menyidang bupati atau oknum legislatif dan pejabat setempat. Di Jateng saja masih banyak bupati disidang oleh hakim, disidik jaksa dan masih terus berlanjut di semua daerah sesuai temuan aparat maupun laporan masyarakat. Kalau saya pribadi akan menolak, sebab mengganggu profesionalitas, independensi dan disiplin. Sayang saya bukan hakim atau jaksa, jadi ya silakan saja. Tang perlu diingat, rakyat melihat, memantau dan mengawasi. H Erlangga Chandra (EI) Bantulan RT1/RW1 Banyudono, Boyolali. *** Label Halal Emas Surat ini saya tujukan khususnya pada MUI berkenaan dengan jual-beli emas perhiasan karena saya sebagai konsumen merasa dirugikan. Saya beli emas muda di toko emas Candi Jl Jenderal Sudirman 236 Semarang seberat 7,671 gram dengan harga Rp 700.500. Pada 11 Desember 2007 perhiasan saya jual kembali. Saat ini harga emas muda Rp 125.000/gram. Ternyata emas saya dihargai tetap seperti setahun lalu saat saya beli yaitu Rp 700.500. Harga jual saya dipatok pada harga lama karena menurut surat pembelian tahun lalu bukan harga saat ini dan itu pun masih dipotong 30% karena perhiasan dianggap rusak sehingga hanya terima bersih Rp 490.350. Akibatnya kerugian saya sebesar Rp 210.150. Seharusnya emas terjual 7,671 gram x Rp 125.000 = Rp 958.875. Karena rusak terpotong 30% dari Rp 958.875 atau menerima Rp 671.215,50 dengan kenaikan harga dari Rp 105.000/gram menjadi Rp 125.000/ gram. Yang menjadi pertanyaan, apakah MUI diam saja. Seharusnya mereka membuat label halal sebagai bentuk perlindungan hukum kepada konsumen pada setiap toko emas. Apakah jual-beli seperti ini termasuk riba karena jika emas dijual ke toko lain tidak ada yang mau menerima. Melihat sirkulasi emas seperti bank maka sebaiknya pemerintah membuat UU Perlindungan Konsumen berkenaan dengan jual-beli emas perhiasan. Emas saya dikatakan rusak, padahal belum pernah saya pakai. Agus Edy Supriyanto Ringintelu RT 1/RW 1, Semarang Hilangkan Fanatisme dengan Kawruh Jiwa Kawruh Jiwa diwariskan oleh Ki Ageng Suryomentaram, salah satu "filsuf Jawa". Sebagai sebuah filsafat, Kawruh Jiwa sering disalahmengerti sebagai kejawen atau aliran kepercayaan/kebatinan. Padahal itu bukan kejawen, bukan kebatinan dan bukan kepercayaan serta juga bukan agama. Sebenarnya nilai-nilai di dalamnya tidak kalah dengan filsafat barat. Salah satu kekurangannya hingga saat ini adalah metode pengajarannya yang belum sistematis dan belum ada metode baku untuk mempelajari. Akibatnya pemahaman tiap pelajarnya (sebutan bagi pemerhati Kawruh Jiwa) menjadi berbeda sesuai daya tangkap masing-masing orang. Kawruh ini mempelajari tentang rasa diri dan bagi yang sudah mendapatkan, hasilnya adalah pengendalian diri luar biasa, yang dikenal dengan istilah "pangawikan pribadi". Contoh, pengendalian diri yang dimiliki para pelajar adalah tanpa dhemen sengit, artinya menerima segala sesuatu tidak dengan rasa suka atau sebaliknya dengan rasa benci. Tingkatan ini dapat dicapai jika seseorang bisa mengendalikan keinginannya (karep). Sebab jika sesuatu sesuai dengan keinginan maka yang muncul adalah rasa suka. Sebaliknya jika tidak sesuai dengan keinginan akan muncul rasa benci. Pengendalian terhadap keinginan, dapat menciptakan rasa tanpa dhemen sengit. Pembelajaran Kawruh Jiwa menganut prinsip tanpa guru tanpa murid (tidak ada guru, tidak ada murid) dan salah satu prinsip penting yang selalu dipegang adalah tanpa nesu/ora nganggo nesu (tanpa marah), sehingga proses pembelajaran kawruh ini penuh dengan suasana demokratis dan damai. Mereka menganggap orang lain adalah sesama yang memiliki "sesuatu" yang sama dengan diri sendirinya. Fanatisme terhadap keyakinan tertentu, juga bisa berkurang bahkan hilang jika nilai kawruh ini sudah dihayati, karena keyakinan yang dipegang teguh oleh seseorang biasanya akibat percaya pada jarene (katanya) orang lain/tokoh masyarakat/buku atau bahkan katanya diri sendiri. Mereka merasa bahwa keyakinannya paling benar, paling baik. Padahal rasa paling benar atau paling baik, dasarnya adalah keinginan. Kalau sesuai dengan keinginan, menjadi benar/baik tapi bila tidak sesuai jadi salah/buruk. Jika dapat mengendalikan keinginan diri sendiri dan memahami keinginan orang lain niscaya fanatisme yang sering diwujudkan dengan penghakiman pada orang lain, akan menjadi sesuatu yang tabu. Jika ada yang berminat mempelajari lebih lanjut tentang Kawruh Jiwa, ada beberapa orang di berbagai kota yang dapat dihubungi. Beberapa nama kami cantumkan di website http://ilmubahagia. salatiga.biz, siap menjadi teman diskusi seputar Kawruh Jiwa yang bisa memberikan pencerahan bagi banyak orang. P Wijayanto (08122810181) Jl Seruni 5, Salatiga |