logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 04 Januari 2008 NASIONAL
Line

Sedimentasi Ancam Kekuatan Waduk

SEMARANG- Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) Jateng mengkhawatirkan penumpukan sedimentasi yang terjadi di semua waduk di Jateng. Pasalnya, sedimentasi itu berpotensi besar mengurangi umur serta kekuatan waduk. Kepala PSDA Pandji Inu Kertapati mengungkapkan hal itu menjawab soal penumpukan sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur yang mencapai 100 juta m3.

"Kondisi itu yang kita khawatirkan, misalnya dalam membuat waduk, kekuatannya diprediksi sampai umur 100 tahun, tetapi dengan ada sedimentasi jelas akan berkurang. Ini sangat membahayakan bila masih dibiarkan," kata dia usai menghadiri penyerahan DIPA 2008 di Grhadika Bhakti Praja, Kamis (3/1).

Meski bukan instansi yang berwenang mengurusi masalah waduk, PSDA sangat menggantungkan pada kondisi penampung air itu. Terdata di Jateng ada 38 waduk, tujuh di antaranya merupakan waduk besar seperti Waduk Malahayu (Brebes), Cacaban (Kabupaten Tegal), Kedungombo (Grobogan), Wadaslintang dan Sempor (Kebumen), Sudirman (Banjarnegara), Gajah Mungkur (Wonogiri).

Pengurangan umur waduk, jelas dia, karena dengan sedimentasi yang terus menumpuk lambat laun akan mendesak konstruksi bangunan. Dengan begitu kekuatan sebagai tempat penampung air akan berubah dari desain awal. Selain itu sedimentasi juga berpotensi mengakibatkan kebanjiran maupun kekeringan. Pasalnya, daya tangkapan air pada waduk berkurang drastis.

Rp 10 Miliar

Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Pemali-Juana, Jaya Murni Wargadalam mengakui sungai-sungai mulai dari Brebes sampai Rembang kondisinya banyak tertutup sedimentasi. "Seperti Sungai Wulan (Kudus), dulu didesain tampungannya 1.000 m3/detik. Namun kini menjadi 700 m3/detik. Setidaknya terkurang 30% karena sedimentasi,'' tandasnya.

Juga pada Sungai Banjirkanal Barat dan Timur, karena sedimentasi luasannya menjadi sempit. Tentu saja kondisi itu berpotensi menimbulkan banjir. Sebagai upaya melakukan pemulihan Sungai Wulan, Balai Besar Pemali-Juana memperkirakan biayanya mencapai Rp 3 miliar. ''Itu tahap pemulihan, kalau untuk memperbaiki secara keseluruhan bisa mencapai Rp 10 miliar,'' ungkap dia.

Sementara anggota Komisi D DPRD Jateng Agus Abdul Latif menyatakan turunnya kapasitas waduk tersebut disebabkan tingginya angka sedimentasi pada setiap waduk. ''Penurunan kapasitas itu bisa mencapai 21% dari yang direncanakan,'' ungkap dia.

Tingginya angka sedimentasi tersebut paling banyak disebabkan rusaknya kawasan sabuk hijau yang berada di hulu sungai, hilangnya sistem terasering dalam pertanian, pembukaan sabuk hijau, serta gundulnya hutan-hutan.

Gubernur Jateng Ali Mufiz menyatakan upaya konservasi lingkungan terus digalakkan. Terakhir bersama Perhutani memulihkan 72 ribu hektare lahan yang rusak dengan ditanami bibit pohon. ''Jangan sampai lahan kritis akhirnya menjadi penyumbang sedimentasi di waduk-waduk. Karena itu kami serius melakukan konservasi lingkungan,'' tandasnya.

Salahi Subtansi Awal

Anggota Komisi VI DPR RI, Aria Bima menuding pengelolaan Waduk Gajah Mungkur (WGM) Wonogiri, tidak sesuai dengan Keppres dan menyalahi subtansi awal. Waduk juga dinilai sudah berubah fungsi.

Hal tersebut diungkapkan wakil rakyat dari PDI P tersebut di sela-sela pemberian bantuan kepada korban bencana banjir di Kampung Sewu, Sewu, Jebres, Solo. Menurut dia, pada awalnya waduk hanya berfungsi sebagai pengairan di saat musim kemarau dan menjadi penampung air sekaligus benteng disaat musim hujan tiba agar tidak banjir.

Namun dalam perkembangan hingga saat ini, fungsi waduk sudah berubah. Sebab, waduk sekarang juga berfungsi sebagai pembangkit tenaga listrik. "Berdasarkan Keppres waduk berfungsi sebagai pengairan dan penahan air agar tidak banjir. Tetapi sekarang sudah melenceng dan bergeser dari subtansi awal," katanya.

Terkait dengan banjir yang terjadi di Bengwan Solo, Aria Bima menyatakan waduk tetap mempunyai kontribusi akan hal itu. Sebab, tidak mungkin aliran anak sungai tidak bisa masuk kalau kondisi air di bengawan tidak penuh. "Ada sebab ada akibat, dan waduk mempunyai kontribusi atas banjir yang saat ini terjadi," ujarnya.

Berkait dengan hal itu, Suwartono, Kepala Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I Jateng-Jatim membantah jika pengelolan waduk selama ini menyalahi subtansi awal. Ia menjelaskan, sejak waduk pertama kali dibangun dan diresmikan tahun 1981 ada lima fungsi utama waduk.

Pertama, waduk sebagai pengendali banjir dari debit air sebanyak 4.000 M3 per detik menjadi 400 M3 per detik. Kedua, menjadi pembangkit listrik tenaga air (PLTA) dengan daya 12,4 mega watt. Fungsi ketiga, menjadi pengatur irigasi untuk lahan seluas 40 ribu hektar yang berada di sekitarnya. Yakni Wonogiri, Sukoharjo, Sragen, Karanganyar. Bahkan rencananya ke depan, waduk juga akan mengaliri lahan di Ngawi.

Sedangkan fungsi keempat adalah menyediakan air baku untuk industri dan air baku PDAM.

Yang terakhir, untuk pemeliharaan sungai yang ada di bawahnya. karena pada saat tertentu terdapat limbah, sehingga perlu digelontor air dari waduk untuk membersihkannya. "Dari dulu hingga sekarang fungsi waduk ya seperti itu, tidak menyalahi subtansi. Itulah kenapa waduk dinamakan waduk serba guna," tandas Suwartono. (H37,H7,H46-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA