logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 04 Januari 2008 NASIONAL
Line

Nasib Nelayan Tak Melaut (2)

Bisa Main Catur dan Nonton TV Sore-sore


SM/Rukardi DI TENGAH HUJAN: Perahu nelayan Tambaklorok, Semarang nekat berlayar di tengah hujan angin dan gelombang pasang.(30)

HUJAN disertai angin mengamuk sore-sore. Dua lelaki asyik bermain catur di teras sebuah rumah di ujung utara Kampung Tambaklorok, Semarang. Kusmidi (36) dan Subur (25) tak mempedulikan tempias air hujan yang menerpa tubuh dan membasahi papan catur. Mereka juga acuh dengan ombak yang berdebur-debur, menghantami talut penahan gelombang, persis di sebelah utara rumah.

Main catur sore-sore, aktivitas yang tak bisa dilakukan di sembarang hari. Hanya pada musim angin barat (baratan) seperti sekarang inilah aktivitas rekreatif itu leluasa mereka jalankan. Di musim ombak tenang, Kusmidi dan Subur yang nelayan biasa melaut seharian, dari pagi hingga petang, atau bahkan larut malam. Tapi saat ini, mereka banyak berdiam di rumah, menghindari gelombang pasang yang sewaktu-waktu bisa mencelakakan.

Di dalam rumah, Kastoni (42) serupa santainya. Dia duduk di atas tikar, menonton televisi sambil nyicil kwaci. Matanya cermati siaran langsung sepakbola Indonesia, antara Persija Jakarta melawan Deltras Sidoarjo. Kastoni terlihat nyaman ditemani sang istri.

"Pada musim baratan, kami menghindari cuaca buruk. Kalau nekat dan tanpa perhitungan, nyawa akan jadi taruhan," kata Kusmidi, sambil memainkan bidak caturnya, selangkah ke depan.

Kendati demikian, bukan berarti selama baratan, nelayan di Tambaklorok sama sekali tak melaut. Mereka mencari celah pada saat mangsa medheng, yakni angin dan gelombang mereda. "Biasanya medheng berlangsung mulai jam tiga dini hari sampai tengah hari. Saat itulah, nelayan turun ke laut."

Sejatinya, angin barat itu ibarat mata panah bermata dua. Selain menimbulkan gelombang pasang yang membahayakan keselamatan pelayaran, ia juga membawa binatang laut ke tepian. Dengan demikian, tangkapan jauh lebih gampang.

Maka, bagi nelayan, mangsa medheng menjadi pengharapan. Mereka melakukan srobotan, mencuri-curi waktu di antara gelombang pasang. Mengingat mangsa medheng berlangsung singkat, nelayan tidak melaut jauh-jauh.

Mereka membatasi diri jarak perjalanan selama satu jam. Kalau ke arah barat, sampai di sekitar Tirangbedhah. Kalau ke timur sampai perairan Sodhong, Sayung, Kabupaten Demak. Kalau terlampau jauh, dikhawatirkan akan terjebak gelombang pasang.

Memang, untuk melaut pada mangsa medheng, butuh keberanian dan perhitungan matang. Kalau sukses, hasilnya jauh lebih besar dari musim ombak tenang.

"Sebagai perbandingan, melaut selama tiga jam pada musim baratan, seorang nelayan bisa mendapat hasil kotor Rp 200.000. Pada saat ombak tenang, hasil sebesar itu diperoleh setelah kerja dari pagi sampai petang. Jadi kalau dipikir-pikir, musim baratan itu justru menguntungkan. Kerja sebentar, hasilnya tetap banyak," papar Kusmidi.

Butuh Keberanian

Serupa, Kastoni menyebut nelayan tetap memperoleh hasil tangkapan cukup pada musim baratan. Menurutnya, nelayan hanya butuh keberanian dan perhitungan untuk mendapat hasil tangkapan.

Kondisi nelayan Tambaklorok, lanjut dia, tak seperti nelayan-nelayan lain di daerah sekitarnya.

Hal itu tak lepas dari keberadaan dam penahan gelombang yang terdapat di sekitar Pelabuhan Tanjung Emas. Jika nelayan di daerah lain mengalami paceklik, mereka tak mengenal istilah itu.

"Kami di sini tidak mengenal istilah paceklik. Semua musim tetap membawa hasil. Kalau boleh disebut, hasil tangkapan paling sedikit justru pada masa ombak tenang," katanya.

Pendapatan kotor hasil penjualan tangkapan, jika dikurangi bahan bakar minyak, rokok, dan bekal makanan, menyisakan sekitar Rp 80.000. Itu penghasilan bersih yang kami terima pada musim baratan.

Seusai baratan akan datang musim kuwolon. Itulah masa ketika angin dan ombak mulai mereda.

Mangsa medheng lebih panjang. Hasil tangkapan pun relatif lebih banyak. "Tapi, nelayan tetap harus waspada. Angin kencang dan ombak besar, sewaktu-waktu bisa datang. Nelayan yang terlena bisa celaka."(Rukardi-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA