logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 04 Januari 2008 NASIONAL
Line

Harga Minyak Tembus 100 Dolar Per Barel

NEW YORK - Harga minyak dunia menembus rekor 100 dolar AS per barel kemarin pagi. Kenaikan tersebut dipicu oleh aksi borong spekulatif akibat situasi kekerasan di Nigeria, pengetatan cadangan energi, dan melemahnya dolar.

Lonjakan sampai batas psikologis 100 dolar tersebut berdampak pada gejolak bursa saham di Wall Street dan makin membuat suram prospek ekonomi banyak negara, termasuk Amerika Serikat. "Harga minyak yang menembus 100 dolar AS itu menimbulkan kecemasan akan inflasi," kata Todd Salamone, wakil direktur bidang riset pada Schaeffer's Investment Research.

Minyak mentah AS diperdagangan pada harga 100 dolar AS per barel, atau naik 4,02 dolar dari harga sebelumnya. Beberapa jam kemudian, harga minyak turun sedikit pada 99,62 dolar AS per barel. Namun, para analis memperkirakan harga minyak masih akan melebihi 100 dolar AS per barel. Pada April 1980, harga minyak dunia pernah mencapai 101,70 dolar akibat dampak revolusi Iran.

"Harga minyak masih bisa lebih tinggi lagi," kata Kris Voorspools, analis energi pada Fortis di Brussels.

Gedung Putih menyatakan belum akan membuka keran cadangan minyak mentah negeri itu untuk meredakan gejolak harga. Harga minyak mentah melonjak 58 persen pada 2007. Lonjakan tersebut termasuk yang tertinggi dalam kurun waktu sepuluh tahun ini, dan membuat harga minyak tiga kali lipat dibandingkan pada 2000.

OPEC Tak Mampu

Pergolakan geopolitik serta meningkatnya kebutuhan energi di negara-negara berkembang menjadi faktor utama lonjakan itu. Melemahnya mata uang dolar makin mendorong kenaikan harga.

Kenaikan harga sebesar lebih dari empat persen kemarin dipicu oleh insiden serangan militan terhadap kota minyak utama di Nigeria, Port Harcourt. Serangan tersebut dikhawatirkan bakal mengganggu pengiriman minyak dari eksporter terbesar kedelapan dunia itu.

"Kelompok militer dan militan masih saling bertikai di Nigeria. Akibatnya, gangguan terhadap suplai minyak makin tinggi dibandingkan beberapa bulan lalu," kata Olivier Jakob dari Petromatrix.

Serangan-serangan kelompok militan sejak Februari 2006 mengakibatkan ribuan pekerja di sektor minyak hengkang dari Delta Niger dan ekspor dari negara itu turun sebesar 20 persen.

Para analis berpendapat, harga minyak masih akan naik selama lima tahun ke depan sejalan dengan terus meningkatnya permintaan. "Permintaan akan naik terus dan saya kira ada masalah struktural dengan sektor produksi minyak. Permintaan akan produk berkualitas lebih tinggi meningkat, namun pabrik pengilangan tidak merespons dengan produksi jenis kualitas tinggi," kata analis Kris Voorspols.

"Kita nyaris tidak bisa mempertimbangkan skenario apapun untuk mengantisipasi kenaikan harga minyak," tambah Kevin Norrish, analis pada Barclays Capital di London.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Eksportir Minyak (OPEC) masih mempertahankan tingkat produksi sehingga ikut mendorong kenaikan harga. OPEC menyatakan tidak bisa berbuat banyak untuk menurunkan harga karena sebagian besar anggotanya saat ini sudah memproduksi sebanyak mungkin. Lebih dari sepertiga kebutuhan minyak dunia disuplai oleh 13 negara anggota OPEC.

"OPEC tidak bisa berbuat banyak," kata Shokri Ghanem dari Libia, salah satu negara OPEC. "Produksi sebagian besar negara anggota OPEC saat ini sudah pada level kapasitas mereka."

Kebijakan RI

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan, perhitungan penerimaan dan pengeluaran negara terhadap kenaikan harga minyak tidak dapat dilakukan secara harian.

''Pokoknya kalau ada perkembangan harga baru, terutama yang ada kaitannya dengan APBN, kita akan melihat tidak dalam reaksi harian,'' katanya ketika ditemui di Kantor Kementerian Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta Pusat kemarin.

Pemerintah akan mengantisipasi fluktuasi harga minyak terhadap APBN sampai semester satu 2008. Perubahan postur APBN, kata Sri, baik dari sisi penerimaan, pengeluaran maupun jumlah defisit akan dilakukan dalam APBNP 2008.

Menurut Sri, antisipasi itu selalu dilakukan dari harga minyak mentah berada di level 60 dolar AS per barel. ''Kita akan lihat bagaimana polanya (fluktuasi harga minyak-red) sampai dengan akhir 2008 nanti,'' tambah menkeu.

Namun, selama ini dari sisi harga minyak dan penerimaan negara dinilai masih berkorelasi positif terhadap APBN. (rtr,gn,J10-25,33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA