logo SUARA MERDEKA
Line
Jumat, 04 Januari 2008 NASIONAL
Line

3.000 Buruh Rokok Diliburkan

  • Banjir Landa Infrastruktur Industri
  • 30% LIK Bugangan Terendam

TIDAK BERAKTIVITAS: Sejumlah buruh rokok di brak (gudang produksi) Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Kudus, Kamis (3/1) berjalan kaki melewati genangan air. Mereka terpaksa pulang tidak melakukan aktivitas kerja, karena areal pabrik masih terendam air.(30)

KUDUS- Banjir akhirnya merendam infrastruktur industri di Kota Kretek, kemarin. Setidaknya brak (gudang produksi) PT Djarum di Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, terendam setengah meter.

Dampaknya, 3.000 buruh linting sigaret kretek tangan (SKT) yang baru hari kedua kerja setelah libur panjang, terpaksa dipulangkan. Belum diketahui sampai kapan mereka diliburkan. Pabrik perajutan PT Colombo yang terdapat di sebelahnya juga bernasib sama.

Genangan yang bertambah tinggi semakin mengancam Pura Group yang berlokasi di Desa Jatiwetan dan Jatikulon, Kecamatan Jati. Pura yang menyerap sekitar 8.500 buruh merupakan perusahaan kertas dan percetakan.

Dari Kota Semarang dilaporkan, Kawasan Lingkungan Industri Kecil (LIK) Bugangan Baru dan Kawasan Industri Terboyo tak luput dari rendaman banjir. Akibatnya, cost pada distribusi dan produksi membengkak.

Banjir menggenangi mulai Jalan Raya Kaligawe, Banjir Kanal Timur sampai Jembatan Kali Tenggang. Genangan ini meluber hingga merendam sekitar 30 persen Kawasan LIK Bugangan Baru yang luasnya mencapai 105 hektare.

Terminal 1,5 Meter

Rendaman semakin tinggi juga terjadi di Terminal Induk Bus Kudus, serta perkampungan warga di sekitarnya. Banjir bahkan telah merangsek sampai di Jalan Raya Agil Kusumadya depan terminal hingga ketinggian 75 cm sampai pukul 12.00.

Halaman dalam terminal jauh lebih parah, puluhan kios terendam dan terpaksa harus tutup. Pukul 21.30, air di terminal mencapai 1,5 meter. Kondisi disebabkan air hujan dari wilayah kota tak bisa masuk Sungai Wulan setelah sungai tersebut pasang.

Ruas jalur lingkar tenggara Kudus tepatnya di Desa Payaman, Kecamatan Mejobo, juga terjamah air. Di desa tersebut, 70 persen wilayahnya terendam. Permukaan air berkisar antara 0,5-1,5 meter. Hampir seribu penduduk diungsikan ke balai desa dan beberapa sekolah setempat. Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kecamatan Kaliwungu masih terkurung banjir. Sekitar 170 keluarga dari dukuh itu terpaksa mengungsi, sementara 450 jiwa bertahan di perkampungan yang mirip danau. Jalan satu-satunya ke kampung itu dari jalur lingkar selatan tergenang setinggi 1,5 m, sehingga cuma bisa dilalui dengan perahu.

Manajer Corporate Officer PT Djarum, Handojo Setyo mengatakan, kebijakan meliburkan buruh yang baru hari kedua masuk setelah libur Natal dan tahun baru itu, dilakukan karena kondisi force majeur (luar biasa). Ia menyebutkan, ada 3.000 buruh SKT yang bekerja di brak tersebut. Pihaknya mengaku belum bisa menghitung berapa kerugian yang dialami perusahaan.

Kurang Pangan

Sementara, Desa Wonosoco, Kecamatan Undaan, Kudus yang terisolasi sejak 27 Desember 2007, sampai kemarin pagi belum pernah mendapatkan bantuan makanan. Mereka terancam kurang pangan. Desa itu terisolir karena satu-satunya akses (jalan) menuju ke wilayah itu tergenang air setinggi 2-3 meter.

Satu-satunya armada yang bisa hanya dengan menggunakan perahu. Jumlah penduduk desa itu sekitar 5.000 jiwa, masih ditambah sejumlah pengungsi dari desa tetangga. "Bantuan baru kami terima berupa beras," ujar Kades Wonosoco, Sudarmin kemarin sore. Dia menambahkan, seluruh lahan sawah di desanya seluas 450 hektare ikut terendam. Sawah-sawah tersebut dipastikan gagal panen.

Sedangkan jalur Kudus-Purwodadi belum bisa dilalui. Jalur tersebut terputus di Desa Jetiskapuan. Di desa tersebut ada genangan air sedalam 1 meter, sehingga kendaraan biasa tidak bisa lewat.

Penduduk yang ingin melalui jalur tersebut harus menumpang truk Polres dan Kodim atau truk besar. Sebenarnya, setelah genangan itu jalur menuju desa terakhir Kalirejo cukup lancar.

Jumlah seluruh pengungsi Kudus masih tetap sejumlah 17.000 jiwa. Jumlah itu termasuk pengungsi di Desa Prawoto, Kecamatan Sukolilo, Pati sebanyak 800 orang. Para pengungsi telah mendapatkan bantuan beras dan makanan. Meski demikian, mereka masih membutuhkan perlengkapan untuk tidur seperti tikar.

Sementara, para relawan masih mengoperasikan sejumlah dapur umum. Menurut rencana mulai Jumat ini diupayakan ada dapur umum baru dengan kapasitas minimal 1.000 nasi bungkus. Dalam urusan memasak makanan mereka relatif tidak menemui kesulitan, tetapi distribusinya kepada korban yang bertahan di daerah genangan mengalami hambatan.

Suplai nasi bungkus dan makanan lainnya kepada warga yang tidak mengungsi itu, satu-satunya hanya bisa menggunakan perahu karet. Kondisi seperti misalnya terjadi di Dukuh Karangturi, Desa Setrokalangan, Kaliwungu dan Desa Payaman, Kecamatan Mejobo.

Penambalan tanggul Sungai Wulan dan Sungai Juwana bobol di delapan titik masih terus berlangsung. Para pekerja berupaya keras dengan menggunakan alat berat beghu. Baru tiga titik bobolan yang telah tertambal.

Industri Terboyo

Ketua Himpunan Kawasan Industri (HKI) Jateng Didik Sukmono mengatakan, di Kawasan LIK Bugangan terdaftar resmi sekitar 573 industri yang relatif kecil. Sementara di Kawasan Industri Terboyo mencapai 150 perusahaan besar.

Untuk Terboyo, lanjutnya, jumlah industri yang tergenang mencapai 25 persen dari total kawasan seluas 300 hektare tersebut. Akibatnya banyak pemilik perusahaan berlomba meninggikan tempat usahanya.

"Kalau pemerintah tidak jeli, seolah-olah sudah tidak ada banjir lagi. Padahal banjir itu sebenarnya pindah ke tempat lain," ujarnya.

Dengan banjir yang menjadi rutinitas ini, menurut dia, mengakibatkan ketidaknyamanan sekitar 5 ribuan tenaga kerja yang bekerja di lingkungan industri tersebut. "Tidak hanya kerugian fisik, tetapi juga hilangnya opportunity business. Mestinya produksi bisa maksimal, karena banjir mungkin hanya separo atau bahkan kurang dari itu," tandasnya.

Keberadaan rumah pompa, menurut dia, kurang membantu mengurangi debit air yang meluber hingga kawasan industri. "Bagaimana bisa air dipompa kalau tempat pembuangan level airnya sama. Tentu akan percuma saja. Seharusnya pemerintah memikirkan penanganan yang lebih komprehensif," imbuhnya. (yit,H8,H35, H50,J18,J14-60,33)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA