logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Januari 2008 NASIONAL
Line

Nasib Nelayan Tak Melaut (1)

Beli Beras dan Teh Terpaksa Ngutang


SM/Arif Suryoto SUASANA LENGANG: Suasana di TPI Batang yang melenggang tidak ada aktivitas. Para nelayan tidak berani melaut karena gelombang tinggi.(30)

Hujan deras disertai angin kencang dan munculnya gelombang tinggi di Laut Jawa dalam beberapa hari terakhir membuat banyak nelayan di pantai utara terpaksa menghentikan aktivitasnya. Karena tidak melaut, praktis tak ada pemasukan. Kini, mereka terpaksa harus ''memutar otak'' untuk bisa menutup kebutuhan sehari-hari. Berikut laporannya.

SUDAH beberapa hari terakhir ini pengeras suara di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Batang tak terdengar suaranya. Padahal, pada hari-hari biasa saat cuaca cerah, pengeras itu selalu nyaring ''berteriak-teriak'', apalagi bila di lantai tempat itu dipenuhi keranjang berisi ikan yang siap dilelang.

Kali ini yang terlihat ruangan kosong. Hanya terlihat beberapa ekor kucing yang tampak asyik menyantap sisa ikan yang membusuk. ''Tak ada kapal yang melaut mas, sehingga tidak ada lelang. Kondisi seperti ini sudah berlangsung beberapa hari,'' ujar Khusaeri (45), nelayan asal Klidang.

Gelombang tinggi disertai badai yang terjadi sejak Desember lalu membuat aktivitas nelayan berhenti. Itu karena mereka tidak mau mengambil risiko saat berlayar.

Karena tidak melaut, merekapun harus berjuang untu menghidupi keluarganya. Lantaran tidak punya uang, karena tidak ada tangkapan ikan yang bisa dijual, mereka pun mencoba berbagai cara agar dapur tetap ngebul.

''Ya terpaksa mas, untuk memenuhi kebutuhan keluarga, kami utang dulu di warung. Mulai beras, gula, teh, mi. Pokoknya yang bisa untuk makan,'' ujar pria yang menjadi nelayan sejak berusia 15 tahun.

Utang itu baru akan diangsur setelah mereka bisa melaut dan mendapatkan hasil tangkapan. Menurut dia, nelayan biasanya melaut selama sepuluh hari. ''Karena itu, saya berdoa semoga gelombang pasang, bisa surut sehingga laut tenang,'' kata nakhoda KM Arta Jaya itu.

Karena gelombang tinggi itu pula, nelayan dari luar wilayah Batang yang selama ini juga membongkar ikan di TPI Batang, untuk sementara pulang ke kampung halamannya. Kebanyakan mereka berasal dari Lamongan dan Tuban. ''Sudah empat hari ini kami tak berani melaut. Selasa lalu, sebenarnya sudah berangkat. Tapi ketika baru satu jam di laut, ada informasi terjadi badai dan gelombang tinggi. Kami kembali ke Batang,'' ujar Suparno (34) nelayan asal Paciran, Lamongan.

Karena tidak ada perkembangan baik, dia mengontak juragannya. Akhirnya, diputuskan untuk sementara pulang ke kampung halamannya. Hal itu dibenarkan H Mustakim, pemilik kapal asal Tuban yang kemarin menjemput anak buah kapal (ABK) miliknya.

''Kasihan, sudah empat hari mereka tidak melaut. Saya tidak ingin mereka berlama-lama di Batang. Karena itu saya jemput pulang,'' ujar dia.

Pemilik enam kapal itu menyatakan, sebagian nelayan yang bekerja di kapalnya sudah pulang. Alasannya, karena kondisi cuaca yang berubah-rubah. ''Mudah-mudahan kondisi membaik, sehingga arek-arek ini bisa kembali ke Batang untuk melaut.''

Selama ditinggal pulang ke Tuban dan Lamongan, kapal-kapal dari Jatim itu ditambatkan di kolam tambat labuh. Di tempat pula ada kapal dari Juana, Rembang, Lasem, dan Demak. (Arif Suryoto-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA