logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Januari 2008 NASIONAL
Line

Arah Pembangunan Ekonomi Sudah Benar


SM/dok SBY

JAKARTA- Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berpendapat prestasi pasar modal Indonesia yang mencatat pertumbuhan tertinggi di Asia setelah China menunjukkan arah pembangunan ekonomi Indonesia sudah benar. Diharapkan, pencapaian positif pasar modal tersebut memberikan kontribusi yang riil bagi kepentingan seluruh rakyat.

''Prestasi pasar modal Indonesia yang berhasil meningkatkan pertumbuhan sebesar 52 persen merupakan gambaran terjadi perbaikan dan tren positif dari perekonomian nasional Indonesia, baik makro ekonomi maupun sektor riil,'' kata Yudhoyono saat membuka perdagangan hari pertama 2008 sekaligus meresmikan logo baru Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta, Rabu (2/1).

Logo baru digunakan terkait dengan digabungnya Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan Bursa Efek Surabaya (BES). Didampingi Ketua Bapepam-LK A Fuad Rahmany dan Dirut BEI Erry Firmansyah, Yudhoyono menepis anggapan sejumlah pengamat yang menilai ekonomi jalan di tempat karena sektor riil belum tumbuh.

''Anggapan itu tidak benar karena kalau ekonomi tumbuh 6,3 persen, misalnya, maka itu agregat dari pertumbuhan sektor riil. Itu adalah kumpulan dari semua komponen pendukung dari dimensi ekonomi kita,'' katanya.

Yudhoyono yang datang ke BEI didampingi Menko Perekonomian Boediono, Menkeu Sri Mulyani Indrawati, Menperind Fahmi Idris, Menteri PU Djoko Kirmanto, Meneg BUMN Sofyan Djalil, dan Menkominfo M Nuh, menyebut, sektor riil bisa dilihat dari pajak yang dikumpulkan oleh pemerintah. Dengan demikian akan terlihat bila pajak yang dibayarkan ke negara naik, berarti pendapatannya juga naik.

''Itu salah satu indikator untuk menguji apakah sektor riil tumbuh atau belum dan sektor riil mana yang belum memiliki pertumbuhan yang cepat, mana yang kurang cepat, memang ada yang masih stagnan,'' katanya.

Membaiknya kinerja pasar modal, menurut SBY, juga menunjukkan makin membaiknya stabilitas politik, kondisi sosial masyarakat, kepastian hukum, dan keamanan. Sebab pasar modal sesungguhnya berkaitan dengan kepercayaan.

''Tidak mungkin investor dan pelaku pasar gamang melihat keadaan Indonesia lantas melakukan sesuatu di pasar modal. Itu menunjukkan bahwa we are moving ahead (melangkah ke depan).''

Tidak Cemas

Meskipun tahun 2008 banyak yang memprediksi akan terjadi perlambatan ekonomi, Yudhoyono meminta masyarakat tidak cemas. Pasalnya pemerintah memperkirakan prospek ekonomi Indonesia tahun 2008 tetap positif. Dampak subprime mortgage di AS yang memukul pasar finansial di banyak negara, hampir tidak ada pengaruhnya terhadap keuangan RI.

Kalaupun ada ancaman tingginya harga minyak dunia, menurut Presiden, dari sisi ekonomi Indonesia ada plus minusnya. ''Meskipun kita mengalami masalah dalam subsidi, tapi penerimaan negara dari minyak dan gas dengan harga minyak yang tinggi, juga menjadi satu hal yang positif. Kalau dilihat dari semua sisi tadi, maka tidak perlu kita terlalu khawatir terhadap dinamika ekonomi global, meskipun kita harus terus mengantisipasi dan merespons dengan tepat dan harus ada policy adjustment apabila ternyata berpengaruh tidak baik bagi perekonomian kita,'' tandasnya.

Pada kesempatan tersebut, Presiden juga mendorong kalangan usaha untuk masuk bursa. Bahkan dia menyatakan akan segera menandatangani regulasi insentif fiskal yang akan diberikan pemerintah kepada perusahaan go public. ''Perusahaan yang melepas sahamnya minimal 40 persen akan dikenai potongan pajak sebesar lima persen.''

Di saat yang sama, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan industri pasar modal dan sektor riil merupakan hubungan yang tak terpisahkan. ''Semakin banyak emiten yang masuk, akan memberikan suatu tingkat yang reasonable terhadap harga-harga yang ada,'' katanya.

Dia meyakini pertumbuhan ekonomi sebesar 6,8 persen dalam APBN 2008 akan tercapai. Pemerintah akan mengoptimalkan pertumbuhan dari segala sisi baik konsumsi maupun investasi. (A20,J10-48)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA