logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Januari 2008 NASIONAL
Line

Sedimentasi di Gajah Mungkur 100 Juta M3

SOLO- Tingkat sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur Wonogiri saat ini sudah mencapai 100 juta m3. Padahal, daya tampung waduk hanya 120 juta m3. Kondisi itu menyebabkan terjadinya pendangkalan di Waduk Gajah Mungkur. Akibatnya, penampungan air tidak bisa maksimal, karena sudah tertutup oleh sedimentasi yang ada. Demikan diungkapkan Kepala Divisi Air dan Sumber Air Perum Jasa Tirta I Jateng-Jatim Suwartono.

Menurut dia, setiap tahun sedimentasi yang masuk ke waduk mencapai 2-3 juta m3. Sungai Keduang yang posisinya berada di atas waduk menjadi penyumbang terbesar sedimentasi. Jumlah sedimentasi yang disumbang sungai itu mencapai 33 persen.

"Menurut penelitian kondisi waduk memang sudah seperti itu. Dengan kata lain, hampir 80 persen daya tampung sedimentasi itu sudah terisi. Akibatnya, waduk menjadi dangkal dan tidak mampu menampung air lebih banyak," ujarnya.

Dia setuju jika pengelolaan waduk tidak bisa diserahkan pada salah satu pemerintah daerah. Sebab, waduk mempunyai kontribusi sangat besar terhadap sumber penghidupan masyarakat di banyak daerah, terutama masalah pertanian dan juga PLTA. Karena itu pemerintah pusat melalui Departemen PU meng-handle langsung pengelolaan waduk. Jasa Tirta I selaku pelaksana di lapangan dan sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat, .

"Saat ini sudah dilakukan berbagai penelitian terkait dengan waduk dan segala kemungkinannya, termasuk mengatasi masalah sedimentasi tersebut yang mengganggu waduk," katanya.

Tidak Ada Kaitannya

Suwartono menegaskan, sama sekali tidak ada kaitanya antara kondisi waduk itu dan banjir yang terjadi di sekitar Solo. Sebab, kontribusi air dari waduk yang dialirkan ke Bengawan Solo jumlahnya sangat kecil. Sebab, jika volume air di waduk sudah melewati ambang batas (TMA) yakni 135,3 m3, air yang dibuang ke Bengawan Solo itu hanya 200 m3 per detik. Padahal, daya tampung di Bengawan Solo mencapai 1.000 m3 detik hingga 1.250 m3/detik.

"Sangat kecil, hanya 15-16 persennya dari daya tampung di Bengawan Solo. Jadi, jika ada yang mengatakan bahwa banjir itu penyebab utamanya adalah waduk, itu salah," katanya.

Dia juga mengatakan, penyumbang banjir terbesar adalah anak-anak sungai Bengawan Solo yang jumlahnya mencapai puluhan. Sebab, air dari anak sungai itu langsung menuju Bengawan Solo.

Padahal dalam kondisi itu, Bengawan Solo sudah tidak mampu menampung air dari anak sungai. Akibatnya, air akan meluap dan terjadi banjir. "Persisnya, aliran dari anak sungai tidak bisa masuk, akibatnya meluap dan mengakibatkan banjir," katanya.

Senada dengan Suwartono, Humas Balai Besar Wilayah Bengawan Solo, Sukoco mengatakan, banjir-banjir yang terjadi di sepanjang aliran Bengawan Solo bukan disebabkan oleh waduk. Banjir lebih diakibatkan aliran anak sungai yang tidak bisa masuk ke Bengawan Solo. "Jarak aliran dari waduk ke Solo itu 7 jam dengan rute 55 km. Padahal, pada saat terjadi banjir sekitar pukul 06.00, air dari waduk itu baru dialirkan sebanyak 50 m3 per detik. Baru pada pukul 08.00 air dialirkan sebanyak 150m3/detik-200 m3/detik, sehingga banjir bukan diakibatkan aliran dari waduk."

Mengenai banjir di luar Solo, dia mengatakan, akibat meluapnya aliran anak sungai Bengawan Solo. Khusus yang terjadi di daerah Kudus dan sekitarnya, itu karena luapan Sungai Lusi dan Sungai Juana.

Sedangkan yang terjadi di derah Jawa Timur, akibat luapan air dari Kali Madiun. Sebab, di daerah itu terjadi titik pertemuan antara Bengawan Solo dan Kali Madiun. (H46-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA