logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 03 Januari 2008 NASIONAL
Line

Banjir Surut, Relawan Kecapekan


TERENDAM BANJIR: Seorang warga menuntun sepeda motor menerjang banjir di Desa Wates, Kecamatan Undaan, Kudus, Rabu (2/1). Sepeda motor yang terjebak banjir itu dibawa ke tempat yang aman dari genangan.(30)

KUDUS- Banjir di wilayah Kecamatan Undaan, Kudus mulai surut. Jalan utama di kawasan tersebut sudah bisa dilewati sampai dengan kawasan Babalan, Desa Kalirejo. Namun jalanan di kawasan Desa Tanjungkarang, Kecamatan Jati, Rabu sore (2/12), tergenang air setinggi 50 centimeter.

Upaya evakuasi pengungsi dari daerah yang terisolasi seperti Desa Karangrowo, Payaman, dan Medini, masih terus berlangsung. "Sampai pukul 17.00 (Rabu-red), kita sudah mengevakuasi 200 orang," kata Kepala Kesbanglinmas Ali Rifai.

Dengan perahu karet, pihaknya akan terus melakukan evakuasi. "Meski sudah ada 200 orang yang dibawa, pemantauan akan tetap kita lakukan," katanya.

Di sisi lain, kerja keras para relawan sejak Kamis (27/12) membuat stamina mereka terkuras. Dua orang dari PMI pingsan saat mendistribusikan nasi bungkus dan mengevakuasi korban di wilayah genangan di Undaan dengan menggunakan perahu karet. Mereka diperkirakan kelelahan dan telat makan.

Sementara itu, Selasa (1/1) sekitar pukul 20.00, rumah milik Nursalam (45) di RT 4 RW 4 Dukuh Semliro, Desa (Gunung) Rahtawu, Kecamatan Gebog dihantam longsoran tebing. Tidak ada korban jiwa, namun longsoran mengancam juga tujuh rumah warga lainnya yang dihuni 25 jiwa dan satu mushala.

Ketua DPRD Kudus HM Asyrofi Masyitho berharap pemerintah pusat segera turun ke daerah. Pasalnya banyak informasi bencana dari daerah yang kurang terakses ke pusat. Dukungan dari pemerinah pusat dibutuhkan mengingat bencana kali ini diperkirakan akan berlangsung lama.

Terkait dengan penanganan pengungsi dia mengusulkan agar ada rencana rehabilitasi pascabencana. Hal itu disebabkan pada setiap bencana masyarakat syok dan tidak siap. "Makanya yang juga harus dipikirkan adalah rehabilitasi. Ini tidak mudah mengingat korban banjir masih membutuhkan keberlangsungan hidup pasca bencana," katanya.

3 Kelurahan

Air yang menggenangi sembilan kelurahan di Kecamatan Cepu dan sejumlah desa di Kecamatan Kedungtuban dan Menden, kemarin, juga berangsur surut. Namun penyakit pascabanjir mulai menyerang warga.

Plt Kepala Dinkes dokter Eny Indriyanti melalui Kasi Pemberantasan dan Pencegahan Penyakit (P2P), Edy Widayat mengatakan, selama terjadi banjir di Cepu, Kedungtuban, dan Menden, Dinkes telah menangani ribuan warga yang terkena penyakit diare, ISPA, kulit, mata dan pusing-pusing.

Menurut Edy, untuk penyakit diare sebanyak 238 warga, ISPA 1.270 orang, penyakit kulit 4.620 orang, penyakit mata 139 orang, dan pusing-pusing sebanyak 2.869 orang. Dalam waktu dekat, Dinkes akan mengajukan dana ke Pemkab untuk kegiatan pengasapan di 23 desa di tiga wilayah itu. ''Ini sifatnya mendesak, untuk jaga-jaga jangan sampai nanti muncul kasus DB atau penyakit lain yang ditularkan oleh gigitan nyamuk,'' katanya.

Data di posko banjir kecamatan menyebutkan, hingga kemarin tinggal 3 kelurahan di Cepu yang masih tergenang air sekitar 1 meter, yakni Balun Gendeng dan Balun Ledokan, Kelurahan Balun; Kebul Kelapa dan Cepu Kidul di wilayah Kelurahan Cepu; dan Kelurahan Nglanjuk. (yit,H8,H50,J18,ud-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA