logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Januari 2008 NASIONAL
Line

SBY Jalan Kaki 2,5 Km ke Lokasi Longsor

KARANGANYAR- Jalan berkelok dan menurun tajam menuju lokasi bencana tanah longsor tak menyurutkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengunjungi lokasi itu, Senin (31/12). Bersama sejumlah menteri Kabinet Indonesia Bersatu, SBY memilih berjalan kaki meski jaraknya 2,5 kilometer naik turun bukit. Mobil rombongan yang cukup banyak dan berukuran besar memang sangat berbahaya jika masuk ke lokasi tersebut.

Karena itu ketika melihat jalan yang sangat sempit, Presiden memilih turun dari mobil dan berjalan kaki. Ny Ani Yudhoyono yang merasa ngeri memilih beristirahat, tidak ikut jalan kaki. Rombongan pun akhirnya mengikuti, karena tidak mungkin naik mobil sementara SBY berjalan kaki.

Sebagai prajurit, SBY terlihat tidak merasa kesulitan dengan jalan kaki di lokasi bukit terjal itu. Meski demikian, beberapa kali terlihat Presiden meminta rombongan untuk beristirahat sejenak, karena ngos-ngosan. ''Konsolidasi!'' teriaknya. Seluruh rombongan langsung berhenti, karena artinya RI-1 minta istirahat.

SBY sejak awal sudah berniat akan mengunjungi lokasi, meski saat itu disarankan cukup menemui para pengungsi dan korban bencana di Kelurahan Tawangmangu. Para keluarga korban sudah dikumpulkan di tempat yang kini dijadikan posko utama Bupati Karanganyar selama terjadinya bencana.

Namun kabar terakhir, Presiden tetap akan berkunjung. Bahkan saat bertemu keluarga korban dan pengungsi di Kelurahan Tawangmangu, niat itu kembali dikemukakan. ''Saya akan melihat lokasi longsoran, sebagai bentuk simpati dan ungkapan rasa duka kami atas musibah yang dialami oleh masyarakat Tawangmangu,'' katanya.

Saat tiba di lokasi bencana, tanpa sungkan Presiden mencopot sepatu dan turun ke lumpur. SBY tidak mau memakai sepatu boot karet yang disediakan. Dibantu dua pengawal Paspampres, Presiden turun ke lokasi menyaksikan langsung jalannya evakuasi.

Saat itu, ratusan warga, sukarelawan dari organisasi masyarakat seperti MTA (Majelis Tafsir Alquran), FKAM (Forum Komunikasi Antar Masjid), Pemuda Muhammadiyah, prajurit TNI dan Polri sedang bekerja keras menyingkirkan lumpur dan potongan beton rumah ke pinggir untuk mencari korban.

Masih ada tiga korban yang sampai kemarin masih terkubur di dalam timbunan tanah. Bersama Bupati Rina Iriani, Mensesneg Hatta Radjasa, dan beberapa menteri lainnya, SBY beberapa saat berada di lokasi. Dia juga berdialog dengan para relawan. Ia menyatakan terima kasih dari pemerintah atas keikhlasan mereka membantu mencari para korban.

Presiden mengunjungi dan menyalami beberapa keluarga korban dan warga Dusun Ledoksari, yang terkena musibah tersebut. ''Saya berharap musibah ini bisa diterima dengan hati lapang. Ini ujian kita bersama, dan seharusnya mengingatkan kita agar lebih dekat dengan Sang Pencipta,'' ujarnya.

Setelah beberapa saat, rombongan meninggalkan lokasi dengan menggunakan mobil yang sudah disiapkan. Selanjutnya di pinggir jalan, Presiden pindah ke mobil Indonesia 1 untuk melanjutkan perjalanan ke Solo melalui jalur Tawangmangu-Koripan-Matesih-Karanganyar-Solo, jalur yang sama saat datang ke Tawangmangu. Jalur utama melalui Karangpandan, meski sudah dibersihkan dan dibuka, tapi tidak dipakai karena dinilai masih membahayakan.

Dana Relokasi

Saat berpidato di depan para keluarga korban bencana, Presiden menyatakan siap membantu dana relokasi bagi para korban. Saat itu, Bupati Rina Iriani memang melaporkan kekurangan dana bantuan untuk korban jika bersedia direlokasi ke perumahan bersubsidi yang disediakan Pemkab Karanganyar.

''Kami sedang merayu para keluarga korban dan warga yang kini diungsikan karena rumahnya terancam longsor. Ada 450 rumah siap huni di kawasan rumah bersubsidi. Harganya Rp 22,5 juta, dibantu subsidi Rp 12,5 dari Menpera, dan sisanya Rp 10 juta. Kalau Bapak Presiden bersedia mengucurkan bantuan menutup kekurangan itu, tentu warga tidak akan menanggung beban berat,'' kata Rina.

SBY mengatakan, nanti dana itu akan diurus oleh Menko Kesra. Yang penting, saat ini Pemkab harus segera mendata secara lengkap berapa kerusakan yang ada, siapa yang harus dibantu, sehingga sasarannya tepat.

Sementara itu beberapa warga yang kini mengungsi karena rumahnya roboh mengatakan, jika memang itu jalan satu-satunya yang harus dijalani, warga siap direlokasi. ''Prinsipnya kami tidak masalah, sepanjang tidak bertambah berat saja beban hidup kami,'' kata Sutaryo, warga Karangpandan.

Menteri Pekerjaan Umum (PU) Djoko Kirmanto meminta, perumahan di bantaran sungai di sepanjang Bengawan Solo diminta untuk direlokasi. Pasalnya, permukiman itu menjadi sasaran banjir akibat meluapnya sungai terpanjang di Jawa itu.

Permintaan itu disampaikan di sela-sela mendampingi Presiden mengunjungi korban banjir di Sampangan, Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasarkliwon, Solo, Senin (31/12).

''Kami minta permukiman yang ada dibantaran sungai segera direlokasi. Soal dana, tanyakan pada Menko Kesra,'' katanya.

Dalam kunjungannya di Sangkrah, Presiden SBY meminta para korban banjir untuk bersabar dan tinggal sementara di pengungsian. "Warga saya minta bersabar, dan demi kemanan agar tidak kembali ke rumah dulu," katanya didampingi Ani Yudhoyono.

Dalam kesempatan itu, SBY yang memakai pelampung juga memantau banjir menggunakan perahu karet di Sangkrah. SBY juga meminta penjelasan Wali Kota Surakarta, Joko Widodo, terkait dengan penanganan banjir dan jumlah rumah yang terendam serta kerugiannya. Untuk meringankan beban para pengungsi, presiden juga memberikan bantuan makanan dan kebutuhan lainnya.

Djoko Kirmanto mengakui, tingginya sedimentasi di Waduk Gajah Mungkur menjadi salah satu penyebab terjadinya banjir di wilayah Surakarta dan sekitarnya. (an,H46,G8-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA