| Rabu, 02 Januari 2008 | NASIONAL |
Muria Dikepung Sungai Berhutan GundulBANJIRyang merendam sebagian wilayah Kudus, Pati, dan Grobogan selama hampir sepekan ini terjadi karena luapan sungai di wilayah Seluna (Serang, Lusi, dan Juwana). Menyusul sebagian wilayah Demak, sementara Jepara selatan relatif aman. Kudus, Pati, Jepara, Demak, dan Grobogan tiap musim hujan selalu diintai banjir, karena keberadaan sejumlah sungai yang melintas di lima wilayah tersebut. Termasuk, sistem irigasi Waduk Kedungombo yang pada saat musim kemarau juga tak jarang memunculkan bencana kekeringan sehingga sering terdengar petani rebutan air. Ada belasan sungai besar dan kecil yang mengepung lima kabupaten itu, yang berhulu (mata air) dari wilayah Pegunungan Kendeng (sekitar Waduk Kedungombo) serta Pegunungan Kapur Utara (dari Grobogan, Rembang selatan Cepu, Blora hingga perbatasan Sragen). Sementara, khusus Jepara, Kudus, dan Pati masih terkepung belasan sungai yang berasal dari Gunung Muria. Dari Waduk Kedungombo mengalir Sungai Serang, yang kemudian di bawahnya setelah masuk Bendung Sedadi di Grobogan, mendapat tambahan beban air Sungai Lusi. Alur Lusi yang menangkap air dari Pegunungan Kapur utara khususnya Blora, akhirnya masuk ke alur Serang di Grobogan, setelah terlebih dulu masuk Bendung Dumpil di wilayah tapal batas dua kabupaten itu. Alur Serang setelah masuk Bendung Klambu di Kecamatan Klambu, Grobogan kemudian terbagi menjadi dua sungai di Bendung Wilalung di Desa Kalirejo, Undaan, Kudus yang dibangun pada tahun 1918, yakni Sungai Wulan yang bermuara di Kedung, Jepara dan Sungai Juwana bermuara di Juwana, Pati. Benahi Terpadu Sistem irigasi Kedungombo yang dibangun masa rezim Orde Baru dengan beberapa bendung dan waduk seperti Waduk Kedungombo, Bendung Dumpil, Bendung Sedadi, dan Bendung Klambu serta sejumlah saluran irigasi dimaksudkan untuk mengatasi banjir dan ketersediaan air untuk pertanian di lima kabuaten tersebut (sekitar 63 ribu hektare), namun toh tiap tahun banjir dan kekeringan selalu berulang. Mengapa? Pembenahan secara terpadu daerah tangkapan sungai tersebut serta fungsi dan optimalisasi alur dirasakan sudah sangat mendesak dilakukan. Tak terbantahkan sungai menjadi gampang memuntahkan banjir dan kering saat musim kemarau lantaran areal hutan yang menjadi mata airnya rusak parah/gundul, karena penjarahan dan pengelolaan yang serampangan. Luas hutan di Blora yang gundul hingga akhir tahun 2005 misalnya 1.648 ha tergolong kritis, agak kritis 5.111 ha, dan berpotensi kritis 14.077 ha dari 90.416 ha hutan yang ada. Kerusakan terparah hutan juga terjadi di Grobogan serta Gunung Muria. Kendalanya, penghutanan kembali pegunungan yang gundul tidak bisa diperoleh hasilnya dalam waktu singkat. Ini berbeda dengan penanganan alur sungai. Sejak tahun 1982 sampai sekarang, Sungai Wulan tidak pernah tersentuh perbaikan. Begitu juga Sungai Juwana hanya pernah tersentuh perbaikan kecil untuk ruas alur Wilalung, jembatan Tanjang, Pati. Ruas alur jembatan Tanjang, muara Juwana belum pernah dilakukan perbaikan,'' jelas Koordinator Pelaksana (Korlak) Banjir dan Kekeringan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (BPSDA) Seluna, Hadi Paryanto. Karena pendangkalan, Sungai Wulan yang menurut desain mampu menambung beban arus 1.000 m kubik/detik kini tinggal 725 m kubik/detik. Begitu pula Sungai Juwana yang kapasitas seharusnya 300 m kubik/detik tinggal 120 m kubik/detik kemampuannya. ''Maka bisa Anda bayangkan sendiri saat 27 Desember 2007 ada debit 1.100 m kubik/detik dari Serang, ya air akhirnya limpas dan menjebol tanggul Sungai Juwana dan Wulan,'' ujarnya. Itu seperti saat banjir bandang Februari 1993, debit Sungai Serang bahkan lebih tinggi yakni 1.200 m kubik/detik. Karena itu, Hadi Paryanto menegaskan, perlu dilakukan pembenahan Sungai Wulan agar kembali pada kemampuannya. Upaya mengembalikan Sungai Wulan dengan kapasitas 1.000 m kubik/detik telah diambil, sesuai dengan desain SMEC (Australia) yang sekarang ada di Balai Besar Pemali, Juwana (eks proyek Jratun Seluna) di Semarang,'' paparnya. Dalam desain tersebut diperlukan pembangunan beberapa bendung seperti di Sungai Logung, Kecamatan Dawe, Kudus serta pembuatan sungai baru meneruskan saluran JU1. ''Mestinya, sesuai rencana JU1 yang berfungsi menangkap air dari beberapa sungai dari Gunung Muria yang selama ini masuk Sungai Juwana, akan dibuatkan sungai langsung menuju ke laut.'' Bila rencana itu terwujud, ia meyakini, ancaman banjir sepanjang alur Sungai Juwana mulai dari wilayah Kecamatan Undaan, Mejobo, Kudus hingga Juwana Pati bisa dihindari. ''Apalagi, kalau nanti floodway di Wilalung bisa juga diwujudkan, sehingga nantinya Sungai Juwana hanya berfungsi seperti kolam saja,'' tandasnya. Banjir yang hingga kemarin masih merendam ribuan rumah warga di Undaan Kudus dan Pati murni disebabkan luapan sungai yang berhilir dari Pegunungan Kapur. Belasan sungai dari Muria sampai kemarin masih normal-normal saja. Juga Waduk Kedungombo yang volume airnya masih sangat aman, baru mencapai elevasi 74 meter dari angka limpas yang 96 m. (Pra- yitno-77) |