| Rabu, 02 Januari 2008 | NASIONAL |
SKETSA PILGUBGubernur Levi's
WACANA bakal adanya pengangkatan Gubernur secara langsung oleh Presiden membuat dua politisi desa kita kang Blaka dan kang Suta menjadi terbengong-bengong. "Ana apa maning kiye? (ada apa lagi?)" celotehnya. "Sing independen bae urung klakon wis metungul maning idea tunjukan, model ngendi kiye? (yang independen saja belum terlaksana sudah muncul lagi wacana tunjukan, model mana?)." Itulah wujud responsifnya kang Blaka dan kang Suta bukan politisi murni, tetapi politisi dengan kemurnian bahasa rasa, yang merespon dinamika manusia dan kemanusiaan dengan arif dan lugu. Memang, tidak salah kalau banyak orang berpendapat, bahkan orang-orang di luar negeripun mengakui, kalau para pengamat politik dan politisi kita itu dikenal cerdas, pandai bicara, dan penuh dengan wacana bagus-bagus, alias pinter berpendapat tapi sayangnya kurang pinter bikin pendapatan atau produk yang implementatif (kecuali pendapatan untuk dirinya). Sama seperti hebatnya komentator atau pengamat sepak bola kita, kalau mengkritisi permainan sepak bola dunia, apakah Liga Italia, Inggris, Jerman, dan lain sebagainya sangat fasih, bahkan nyaris lebih hebat daripada pelatih-pelatih liga skelas MU, Liverpool, AC Milan, Real Madrid, dan lain-lain. Tapi kenyataannya PSSI kita tetap saja jeblok dan kedodoran menghadapi Vietnam dan Myamar. Bahkan ada guyonan yang mengatakan bahwa kalau sistem atau strategi sepak bola di dunia itu ada yang disebut system catenacio atau grendel oleh Italia; man to man marking atau total defense Jerman; total football Belanda; long passing Inggris; tango Argentina, dan gaya samba Brasil, alhasil untuk Indonesia ternyata yang dipakai adalah cuma talking football, alias komentar doang, makanya PSSI kalah melulu. Kang Blaka terus ngedumel belum seumur jagung pilgub secara langsung yang kali pertama mau digelar, tiba-tiba ada wacana Gubernur tunjukan atau istilah politiknya pengangkatan oleh Presiden, wah-wah edan pancen. Apa tidak pernah dipikirkan saat melahirkan UU dan implikasinya dan apa juga sudah ada evaluasi mendalam tentang baik buruk atau nilai kemanfaatan dan tidaknya. Jadi nilai investasi tenaga, pikiran, biaya, dan terlebih waktu tidak mubah, dan kita merasa sudah berubah tetapi sebenarnya jalan di tempat atau bahkan suatu kemunduran. Di negeri kita ini memang dikenal dengan negara yang penuh dengan UU, ketetapan, keputusan, peraturan dan apalah namanya. Memang begitu banyak, tetapi kadang pro-kontra, tumpang-tindih, yang satu memperkuat yang ada, yang satu lagi memperlemah yang ada atau yang satu lag! Tidak ada kaitannya sama sekali, hal semacam ini udah menjadi hal yang biasa. Seperti undang-undang Cagub dari kandidat yang independen, konon kabarnya sampai sekarang masih digarap, namun tetap saja belum selesai. Bahkan menurut kabar angin masalah ini memang tidak didukung oleh para penggede partai mengingat hal ini nantinya bisa menjadi slilit, kerikil tajam, atau batu sandungan bagi partai-partai besar yang sudah mengelus-elus jagonya, tiba-tiba pindah menjadi Cagub independen yang tentunya alasannya adalah cari yang murah biayanya plus toh peluangnya sama juga. Dwi Fungsi Kang Blaka seperti biasanya sambil menghisap rokok klobotnya masih mengerut-erutkan keningnya dan bergaya sok pemikir sambil menyapa kang Suta. "Kang, kabarnya dwi fungsi apakah TNI atau Polri akan pada turut lagi ya. Mungkin makna dwi fungsi sekarang menjadi fungsi sebagai warga pelaksana Hankamnas dan fungsi hak kewajiban sebagai warga negara. Padahal dulu katanya TNI dan Polri sebaiknya kembali ke khitahnya menjaga citra dan netralitasnya sebagai aparat pertahanan dan keamanan dan Polri sebagai pengaman dan pengayom masyarakat sajalah. Bahkan menurut Jenderal Soedirman politik TNI dan Politik adalah politik negara. Tapi tampaknya belajar dari pengalaman kondisi pilkada, apakah Pilbup, Pilgub di beberapa tempat yang terkesan kisruh karena demokrasi pasca reformasi tidak seperti yang diharapkan maka para petinggi TNI dan Polri baik yang aktif maupun udah pensiun mencoba kembali turun gunung. Ya, demi atas nama panggilan negara, demi masa depan bangsa dan negara agar rakyatnya lebih sejahtera dan yang paling penting adalah demi keutuhan NKRI, karena mereka inilah yang paling kompeten menjaga keutuhan NKRI". Dengan tenang kang Suta menimpali omelan kang Blaka. "Kang, kang namanya saja politik, esuk kedele sore tempe dan besok pagi jadi tempe bosok." Kang Blaka balik membalas. "Tempe bosok asal pinter masaknya enak juga". Jadi wacana Gubernur tunjukan enak juga kan, karena Gubernur itu kan wakil pemerintah pusat di daerah. Pengangkatannya irit anggaran, tidak pake ribut-ribut, alias aturannya kaya jean Levi's bisa di vermak lagi yang penting cocok, enak dipakainya. Ya, sebersit harapan menyongsong tahun baru 2008, mudah-mudahan dalam rangka membangun pilar-pilar demokrasi di Indonesia kita semua mau melakukan tiga formula utama menuju tatanan kualitatif yaitu breaking old habit, making new mindset, and develop new habit. (46) - Penulis adalah mantan Rektor Unsoed. |