logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 02 Januari 2008 NASIONAL
Line

BENCANA Musibah Banjir (3-Habis)

Penderitaan Itu Menumbuhkan Solidaritas...


SM/Setyo Wiyono KORBAN MENANGIS:Anggota tim SAR TNI AU Lanud Adisumarmo Surakarta menggendong seorang warga korban banjir yang menangis di Kampung Sewu, Rabu (26/12).(30)

PAGI hari, Rabu (27/11) Parni datang ke posko induk PMI Surakarta di Jebres. Perempuan itu datang untuk menawarkan diri sebagai tukang masak bagi korban bencana banjir. Tawaran tersebut diajukan, karena warga Jebres itu tidak mampu memberi sumbangan berupa materi.

Ibu-ibu lainnya dari berbagai wilayah juga melakukan hal serupa. Kendati tidak minta bayaran, mereka sibuk di dapur umum untuk memasak makanan bagi korban banjir. ''Saya hanya punya tenaga untuk masak. Apa salahnya kalau saya ikut memasak untuk korban banjir. Apalagi saya tidak punya uang untuk disumbangkan,'' kata dia yang rumahnya nyaris kebanjiran.

Selain para ibu, warga lainnya juga mendaftarkan diri menjadi relawan di PMI. Mereka berasal dari berbagai sekolah dan organisasi massa. Tidak sekadar jadi tukang masak, mereka ikut membagikan bantuan serta jaga pos di setiap posko yang dibuka PMI di berbagai kelurahan. Mereka juga melakukan evakuasi para korban. Mereka tidak dibayar.

''Saya salut, untuk korban bencana kali ini ternyata banyak orang yang peduli. Padahal sebelumnya tidak. Orang yang tidak punya uang menyumbangkan tenaganya untuk para korban. Kepeduian itu harus dihargai, apa pun bentuknya,'' kata Martono Hadinoto, salah seorang pengurus PMI Surakarta.

Rasa solidaritas tidak hanya ditunjukan warga yang luput dari kebanjiran dengan mendaftarkan diri sebagai relawan di berbagai lembaga yang membuka posko, dapur umum, posko kesehatan, dan melakukan evakuasi bersama. Warga yang menjadi korban pun juga menunjukan solidaritas itu.

Eko, salah seorang warga Joyotakan Kecamatan Serengan mengatakan, sewaktu air Bengawan Solo meluap dan menggenangi hampir seluruh rumah, para warga bahu membahu saling membantu. Baik menyelamatkan para korban yang tidak berdaya maupun berbagai benda berharga. Pertolongan itu dilakukan seketika tanpa menunggu bantuan dari luar seperti Pemkot, PMI, SAR, tentara, polisi, dan relawan lainnya. ''Siapa lagi kalau bukan kita yang menolong,'' kata Eko.

Ya, ternyata bencana banjir yang datang begitu tiba-tiba itu menumbuhkan rasa solidaritas para warga. Solidaritas itu muncul di mana banjir terjadi. Mulai di Kelurahan Jagalan, Jebres, Kampung Sewu, Gandekan, Pucang Sawit, Sangkrah, Semanggi, Joyosuran, hingga Joyotakan.

Di perempatan Tanjung Anom, warga sukarela mengatur lalu lintas sehingga jalan yang macet mampu teratasi. Mereka juga memberi aba-aba agar tidak terperosok di parit maupun memberitahu jalan alternatif yang bisa ditempuh agar tidak terjebak banjir.

Pascabanjir, solidaritas terus berlanjut. Meski sudah ada petugas dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan (DKP), Dinas Pekerjaan Umum (DPU), dan Kantor Pemadam Kebakaran (PMK), warga ikut membersihkan sampah-sampah yang berserakan di hampir semua jalan yang semula tergenang air. Jalan-jalan itu kini sudah terlihat bersih, meski belum seluruhnya.

Ya, solidaritas memang bisa datang di saat masyarakat mengalami kesulitan. Tapi apakah harus menunggu bencana? (Dini Tri Winaryani, Anie R Rosyidah, Langgeng Widodo-60)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA